SIANG, MALAM, DAN HILAL RAMADHAN
oleh : Al Ustadz Abu Nasiim “iben” Rifai La Firlaz
Hari itu Rasulullah menjelaskan tentang ketentuan saat berbuka puasa kepada para sahabat :
إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِم
“Apabila malam telah datang dari arah sana (timur), siang pun beranjak pergi ke arah sana (barat) dan matahari telah terbenam, pada saat itu waktu berbuka untuk orang berpuasa telah tiba”
Hadits Umar bin Khattab riwayat Bukhari Muslim di atas rupanya bukan hanya sebatas menjelaskan tentang waktu berbuka. Ada pelajaran maha berharga yang bisa kita mengerti dari sabda Rasulullah ini : Jangan berhenti untuk bertafakkur! Pergunakanlah waktu dan kesempatan sebaik-baiknya! Siang dan malam bukan hanya untuk dilewati begitu saja!
Ibadah Ramadhan adalah pendidikan Islam tentang Manajemen Waktu! Waktu adalah harta paling berharga bagi seorang hamba. Ia diharapkan mampu mengatur dan memanej waktunya sebaik mungkin untuk menghasilkan ibadah yang paling maksimal. Ia dapat memilih ibadah di siang hari sebagaimana malamnya ia memiliki banyak pilihan ibadah.
Siang dan malam memang berkaitan erat dengan ibadah puasa. Selain itu peredaran matahari, terbit dan terbenamnya pun menjadi salah satu faktor yang mesti diperhatikan demi keabsahan puasa. Oleh karenanya,setiap muslim dituntut untuk merenungkan perputaran siang dan malam.
Allah berfirman di dalam Al Qur’an,
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا
Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (QS. 25:62)
Subhaanallah! Apakah kita tidak merenungkan,betapa kecil dan hinanya kita di hadapan Allah? Renungkanlah,terkadang malam lebih panjang daripada siang.Lain waktu malam menjadi lebih singkat.Banyak pekerjaan yang hanya bisa dilakukan pada waktu siang.Namun ada juga beberapa keperluan dan hajat manusia yang dapat ditunaikan dengan baik di malam hari.
Apa jadinya jika seluruh waktu di dunia ini hanya siang tanpa malam? Siapakah yang mampu mendatangkan malam sebagai waktu dan kesempatan kita beristirahat? Apa pula jadinya jika hanya malam yang beredar tanpa siang? Siapakah yang mampu mendatangkan cahaya untuk menerangi kehidupan manusia? Sungguh benar firman Allah di dalam surat Al Qashas,
قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِن جَعَلَ اللهُ عَلَيْكُمُ الَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللهِ يَأْتِيكُم بِضِيَآءٍ أَفَلاَ تَسْمَعُونَ قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِن جَعَلَ اللهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللهِ يَأْتِيكُم بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلاَ تُبْصِرُونَ
Katakanlah:”Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-memerus sampai hari kiamat, siapakah Ilah selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu Maka apakah kamu tidak mendengar?” (QS. 28:71)
Katakanlah:”Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Ilah selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. 28:72)
Sayangnya,sudah banyak siang dan sudah banyak malam yang telah kita lalui dengan kegiatan yang sia-sia.Berapa banyak tawa yang terlepas tanpa perhitungan di siang-siang kita? Berapa banyak pula mimpi dan bunga tidur yang telah kita lewatkan di atas ranjang hingga matahari terbit kembali? Padahal siang dan malam adalah modal utama kita untuk menambah pundi-pundi bekal amal.Allahul musta’an
Antara Bulan dan Ramadhan
Selain siang dan malam,ibadah puasa juga terkait dengan peredaran bulan.Hal ini semakin menegaskan bahwa salah satu tugas seorang hamba adalah bertafakkur tentang ayat-ayat kauniyah yang berada di seluruh alam semesta.Seluruh benda dan makhluk yang berada di alam semesta ini dalam puncak keteraturan yang maha sempurna.Apakah hal ini terjadi begitu saja? Apakah hal ini berjalan tanpa Dzat yang mengaturnya?
Allah berfirman di dalam Al Qur’an,
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَاخَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):”Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. 3:191)
Maha Benar Engkau,ya Allah…Tidak mungkin alam semesta ini Engkau ciptakan sia-sia.
Bulan yang Allah ciptakan pun memiliki fungsi dan tujuan yang agung. Peredaran bulan sangat terkait erat dengan ibadah puasa Ramadhan.
Lihat saja bagaimana Rasulullah menjelaskan tentang cara menetapkan awal Ramadhan dan akhirnya. Tidak begitu njlimet, mudah dan tidak perlu bersusah payah. Bandingkan dengan kondisi kaum muslimin di negeri kita. Bulan Ramadhan seolah pertanda akan munculnya polemik tentang awal puasa. Kebersamaan yang semestinya terwujud justru berubah menjadi perbedaan pendapat.
Jangan menganggap perbedaan dalam hal ini sebagai budaya yang perlu dimaklumi! Apalagi sampai menisbatkannya kepada Nabi Muhammad dengan menyatakan “Perbedaan di tengah-tengah umatku adalah rahmat”. Itu bukan sabda Nabi! Silahkan cari referensi-referensi hadits, tidak akan mungkin Anda menemukannya sebagai sabda Nabi.
Rasulullah bersabda di dalam hadits Abu Hurairah riwayat Bukhari dan Muslim, menjelaskan tentang metode penetapan awal bulan,
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمُ الشَّهْرُ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ
“Mulailah berpuasa dengan berdasarkan ru’yah hilal (sabit pertama).Akhiri pula bulan puasa dengan berdasarkan ru’yah hilal.Jika mendung menghalangi,hitung saja bulan Sya’ban selama tiga puluh hari”
Cobalah lihat! Rasulullah dengan konteks perintah menyatakan bahwa awal dan akhir puasa Ramadhan ditentukan dengan ru’yah hilal. Padahal di masa itu telah dikenal ilmu hisab, tetapi kenapa tidak dipilih oleh Rasulullah? Bukankah hal ini menunjukkan bahwa peredaran bulan tidak dapat dipastikan dengan ilmu hisab ciptaan manusia. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah menyatakan bahwa jumlah hari tiap bulannya, kadang dua puluh sembilan kadang tiga puluh hari. Dan hanya Allah yang mengetahui, berapa harikah untuk tiap-tiap bulannya.
Ilmu hisab sendiri tidak selalu benar dan tepat. Kemudian, metode ilmu hisab manakah yang harus dipilih dan digunakan? Sebabnya, ilmu hisab memiliki banyak cara dan metode. Seringkali metode hisab A berbeda hasil dengan metode hisab B dan C. Sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan!
Al Imam Ibnu Daqiqil Ied (Syarah Umdah 2/207) menjelaskan,
“Sungguh, ilmu hisab tidak boleh digunakan sebagai metode penetap untuk ibadah puasa”
Al Imam Shidiq Hasan Khan (Ar Raudhah An Nadiyyah 1/224) menyatakan,
“Penetapan hari dan bulan dengan berdasarkan ilmu hisab berdasarkan perhitungan garis edar bulan adalah perbuatan bid’ah sesuai dengan kesepakatan umat”
Sudahlah… Akhiri saja pertikaian dan perbedaan ini dengan tunduk dan patuh kepada ajaran dan bimbingan Rasulullah. Apakah sebagai seorang muslim yang baik, kita akan meminggirkan begitu saja sabda Rasulullah? Sekalipun kita berbeda pandangan di dalam memahami sabda Rasulullah tersebut,marilah kita merujuk kembali kepada keterangan para sahabat,tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Tidak perlu gengsi dan tinggi hati untuk merujuk kepada sabda Nabi Muhammad.
Apalagi di negeri Indonesia yang kita cintai ini, Pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin untuk menerapkan bimbingan Rasulullah dengan membentuk Tim Ru’yah Hilal. Tim tersebut harus memenuhi persyaratan ketat juga mesti melalui seleksi yang berat. Apa beratnya bagi kita untuk bersabar sejenak, menanti pengumuman resmi dari Pemerintah tentang awal dan akhir puasa Ramadhan.
Tidakkah beribadah dalam kebersamaan itu sangat terasa indah ?
Selain itu, dengan metode ru’yah hilal yang telah dibimbingkan oleh Nabi Muhammad, kita telah mengembalikan peredaran bulan pada salah satu fungsinya. Kita pun dapat mengamalkan firman Allah yang memerintahkan umat Nya untuk mulai berpuasa dengan berdasarkan hilal.
Allah berfirman,
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan Ramadhan hendaknya ia berpuasa, (QS. 2:185)
Wallahu a’lam.
http://www.ibnutaimiyah.org/2013/07/siang-malam-dan-hilal-ramadhan/
SIANG, MALAM, DAN HILAL RAMADHAN
Labels:
ramadhan
0 komentar:
Posting Komentar