𝐊𝐄𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑𝐀𝐍 𝐓𝐀𝐌𝐏𝐀𝐊, 𝐏𝐔𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐏𝐔𝐍 𝐁𝐈𝐒𝐀 𝐁𝐄𝐑𝐔𝐁𝐀𝐇
𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗦𝗲𝗺𝘂𝗮 𝗣𝘂𝗷𝗶𝗮𝗻 𝗜𝘁𝘂 𝗦𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻𝘆𝗮
Asy Syaikh Ali Al Hudzaifi Al Adni hafizhahullah
بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه. أما بعد
Terkadang seorang ulama, atau seorang syaikh, atau penuntut ilmu, terkadang mengeluarkan tazkiyah (rekomendasi/pujian) terhadap seseorang.
Kemudian setelah itu tampak baginya bahwa orang tersebut telah berubah, dan bahwa dia tidak lagi tetap di atas apa yang sebelumnya ia berada di atasnya berupa istiqamah dalam manhaj, atau bahwa dia -ketika mengeluarkan tazkiyah dan pujian- membangunnya di atas hukum asal, kemudian setelah itu tampak baginya perkara-perkara baru yang sebelumnya tidak ia ketahui.
Maka dalam kondisi ini, dan kondisi selainnya, seorang ulama terkadang terpaksa untuk mengubah fatwanya, atau mengubah pujiannya menjadi jarh (kritikan), atau mengubah perkataannya dari bentuk pujian menjadi bentuk yang lain.
Semua ini adalah perkara yang wajar dalam dakwah Salafiyah. Orang-orang yang berakal dan objektif tidak menganggap hal ini sebagai bentuk kontradiksi, tidak pula sebagai kebohongan, dan tidak pula sebagai bentuk permainan.
Bahkan hal ini telah terjadi pada seluruh ulama -atau lebih tepatnya, terjadi pada banyak ulama- di antaranya:
Contohnya adalah Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu ta'ala. Beliau dahulu pernah memuji Ikhwanul Muslimin.
Jika engkau merujuk kepada fatwa-fatwa lama dari Lajnah Daimah, niscaya engkau akan mendapati bahwa Syaikh menyebut Ikhwan dengan kebaikan.
Beliau menyebutkan berbagai kelompok; ketika beliau ditanya tentang kelompok-kelompok yang ada di lapangan, beliau memuji semuanya: baik Salafi, Ikhwan, maupun selainnya.
Namun ketika berlalu waktu, dan kelompok-kelompok ini tersebar di dunia Islam, serta tampak berbagai penyimpangan seperti terorisme, pemberontakan terhadap penguasa Muslim, pengafiran (takfir) terhadap para penguasa, dan selain itu, maka Syaikh rahimahullah mengubah pandangannya terhadap Ikhwan.
Hingga pada fatwa terakhir beliau di akhir hayatnya, beliau menyatakan bahwa mereka termasuk dalam golongan 72 firqah.
Demikian pula Syaikh Al-Albani. Dengan cara yang sama, beliau dahulu juga memuji Ikhwan.
Oleh karena itu, engkau akan dapati bahwa pujian Syaikh Al-Albani terhadap Ikhwan adalah pujian yang lama, bahkan sangat lama.
Bahkan engkau dapat memperhatikan bahwa suara Syaikh dalam rekaman tersebut terdengar masih muda, yang menunjukkan bahwa ucapan itu sudah sangat lama.
Kemudian setelah itu, Syaikh Al-Albani rahimahullah mengubah fatwanya, dan mengeluarkan mereka dari Ahlus Sunnah.
Beliau berkata: “Bagaimana mungkin mereka termasuk Ahlus Sunnah, sementara mereka memerangi Sunnah?”
Demikian pula Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau pernah ditanya dalam sebuah ceramah tentang Safar al-Hawali: apakah dia berpemahaman Khawarij?
Maka Syaikh berdialog dengannya dan berkata: “Apakah engkau mengafirkan karena perbuatan maksiat?”
Ia menjawab: “Tidak.”
Maka Syaikh berkata: “Kalau begitu dia bukan Khawarij, wahai saudara-saudara, akan tetapi dia adalah orang yang keluar (kharij) melawan kebatilan,” lalu beliau pun memujinya.
Kelompok Sururiyah pun sangat bergembira dengan pujian ini dan menyebarkannya ke mana-mana, bahkan mereka masih menyebarkannya hingga hari ini.
Namun kemudian Syaikh juga mengubah sikapnya setelah jelas baginya penyimpangan yang ada.
Demikian pula Syaikhuna, Syaikh Rabi’ rahimahullah. Beliau pernah memuji beberapa orang, seperti Al-Halabi dan Salim al-Hilali, bahkan pernah menerima mereka di rumahnya.
Beliau juga pernah memuji Muhammad Rizq Tharhuni, penulis kitab “Shahih as-Sirah” dalam dua jilid.
Namun ketika menjadi jelas baginya di kemudian hari bahwa orang tersebut terpengaruh pemikiran ISIS (Daesh), atau memuji ISIS, maka Syaikh mencabut pujiannya dan menulis pernyataan resmi:
“Dahulu aku memujinya, namun setelah jelas bagiku begini dan begitu, maka aku mencabut rekomendasi terhadap orang ini.”
Demikian pula Syaikhuna, Syaikh Muqbil rahimahullah. Beliau dahulu pernah memuji Hasan al-Banna.
Namun dalam kitabnya “Al-Makhraj minal Fitnah”, ketika beliau mengomentari pujian lamanya terhadap Hasan al-Banna, beliau berkata:
“Itu terjadi sebelum jelas bagiku keadaan Hasan al-Banna. Adapun sekarang, maka dia menurutku termasuk tokoh kesesatan,” atau beliau mengatakan: “termasuk ahli bid’ah yang sesat,” atau ucapan yang semakna.
Maka, jika seorang ulama atau penuntut ilmu memuji seseorang, kemudian setelah itu ia mengubah fatwa atau perkataannya karena muncul bukti-bukti baru, maka hal ini bukanlah kontradiksi, bukan kebohongan, dan bukan permainan.
Ini adalah pelajaran manhaj yang penting, sekaligus bantahan terhadap orang yang menuduh dengan mengatakan: “Dia pembohong, lihatlah dahulu dia memuji si fulan, sekarang dia mencelanya.”
Engkau mengatakan hal ini karena engkau jahil. Seandainya engkau memiliki sedikit pengetahuan tentang manhaj Salaf dan metode para ulama, niscaya engkau tidak akan menuduh orang lain berdusta. Ini adalah perkara yang biasa.
Kebohongan yang sebenarnya adalah ketika engkau memuji seseorang padahal engkau tidak mengenalnya, atau engkau memuji seseorang hanya karena dia sesuai dengan kelompokmu, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang.
Mereka memuji seseorang karena dia berada dalam kelompoknya (hizbnya). Kemudian jika orang itu menyelisihinya, ia langsung mencelanya. Ia memuji atau mencela bukan di atas manhaj Salafi, akan tetapi di atas dasar loyalitas kelompok (wala’ dan bara’ yang sempit).
Inilah yang tercela. Inilah kontradiksi. Dan inilah permainan.
Adapun jika engkau memuji seseorang, kemudian terbukti bahwa dia menyelisihi hukum asalnya, atau dia telah berubah, atau tampak bagimu perkara-perkara baru yang sebelumnya tidak diketahui, lalu engkau mengubah perkataanmu, maka ini bukanlah kontradiksi dan bukan pula permainan.
Demikian, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
____
🛜 https://t.me/alistifadah