𝐒𝐀𝐀𝐓 𝐑𝐀𝐒𝐀 𝐓𝐀𝐊𝐔𝐓 𝐌𝐄𝐍𝐄𝐍𝐓𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐍𝐀𝐒𝐈𝐁𝐌𝐔

Posted On // Leave a Comment
𝐒𝐀𝐀𝐓 𝐑𝐀𝐒𝐀 𝐓𝐀𝐊𝐔𝐓 𝐌𝐄𝐍𝐄𝐍𝐓𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐍𝐀𝐒𝐈𝐁𝐌𝐔

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

من خاف الله لم يضره أحد ومن خاف غير الله لم ينفعه أحد

Barangsiapa takut kepada Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat membahayakannya.

Dan barangsiapa takut kepada selain Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberikan manfaat kepadanya.

Syu’abul Iman Al-Baihaqi no. 944
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐊𝐄𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑𝐀𝐍 𝐓𝐀𝐌𝐏𝐀𝐊, 𝐏𝐔𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐏𝐔𝐍 𝐁𝐈𝐒𝐀 𝐁𝐄𝐑𝐔𝐁𝐀𝐇

Posted On // Leave a Comment
𝐊𝐄𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑𝐀𝐍 𝐓𝐀𝐌𝐏𝐀𝐊, 𝐏𝐔𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐏𝐔𝐍 𝐁𝐈𝐒𝐀 𝐁𝐄𝐑𝐔𝐁𝐀𝐇

𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗦𝗲𝗺𝘂𝗮 𝗣𝘂𝗷𝗶𝗮𝗻 𝗜𝘁𝘂 𝗦𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻𝘆𝗮

Asy Syaikh Ali Al Hudzaifi Al Adni hafizhahullah

بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه. أما بعد

Terkadang seorang ulama, atau seorang syaikh, atau penuntut ilmu, terkadang mengeluarkan tazkiyah (rekomendasi/pujian) terhadap seseorang. 

Kemudian setelah itu tampak baginya bahwa orang tersebut telah berubah, dan bahwa dia tidak lagi tetap di atas apa yang sebelumnya ia berada di atasnya berupa istiqamah dalam manhaj, atau bahwa dia -ketika mengeluarkan tazkiyah dan pujian- membangunnya di atas hukum asal, kemudian setelah itu tampak baginya perkara-perkara baru yang sebelumnya tidak ia ketahui.

Maka dalam kondisi ini, dan kondisi selainnya, seorang ulama terkadang terpaksa untuk mengubah fatwanya, atau mengubah pujiannya menjadi jarh (kritikan), atau mengubah perkataannya dari bentuk pujian menjadi bentuk yang lain.

Semua ini adalah perkara yang wajar dalam dakwah Salafiyah. Orang-orang yang berakal dan objektif tidak menganggap hal ini sebagai bentuk kontradiksi, tidak pula sebagai kebohongan, dan tidak pula sebagai bentuk permainan. 

Bahkan hal ini telah terjadi pada seluruh ulama -atau lebih tepatnya, terjadi pada banyak ulama- di antaranya:

Contohnya adalah Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu ta'ala. Beliau dahulu pernah memuji Ikhwanul Muslimin. 

Jika engkau merujuk kepada fatwa-fatwa lama dari Lajnah Daimah, niscaya engkau akan mendapati bahwa Syaikh menyebut Ikhwan dengan kebaikan. 

Beliau menyebutkan berbagai kelompok; ketika beliau ditanya tentang kelompok-kelompok yang ada di lapangan, beliau memuji semuanya: baik Salafi, Ikhwan, maupun selainnya.

Namun ketika berlalu waktu, dan kelompok-kelompok ini tersebar di dunia Islam, serta tampak berbagai penyimpangan seperti terorisme, pemberontakan terhadap penguasa Muslim, pengafiran (takfir) terhadap para penguasa, dan selain itu, maka Syaikh rahimahullah mengubah pandangannya terhadap Ikhwan. 

Hingga pada fatwa terakhir beliau di akhir hayatnya, beliau menyatakan bahwa mereka termasuk dalam golongan 72 firqah.

Demikian pula Syaikh Al-Albani. Dengan cara yang sama, beliau dahulu juga memuji Ikhwan. 

Oleh karena itu, engkau akan dapati bahwa pujian Syaikh Al-Albani terhadap Ikhwan adalah pujian yang lama, bahkan sangat lama. 

Bahkan engkau dapat memperhatikan bahwa suara Syaikh dalam rekaman tersebut terdengar masih muda, yang menunjukkan bahwa ucapan itu sudah sangat lama.

Kemudian setelah itu, Syaikh Al-Albani rahimahullah mengubah fatwanya, dan mengeluarkan mereka dari Ahlus Sunnah. 

Beliau berkata: “Bagaimana mungkin mereka termasuk Ahlus Sunnah, sementara mereka memerangi Sunnah?”

Demikian pula Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau pernah ditanya dalam sebuah ceramah tentang Safar al-Hawali: apakah dia berpemahaman Khawarij? 

Maka Syaikh berdialog dengannya dan berkata: “Apakah engkau mengafirkan karena perbuatan maksiat?” 

Ia menjawab: “Tidak.” 

Maka Syaikh berkata: “Kalau begitu dia bukan Khawarij, wahai saudara-saudara, akan tetapi dia adalah orang yang keluar (kharij) melawan kebatilan,” lalu beliau pun memujinya.

Kelompok Sururiyah pun sangat bergembira dengan pujian ini dan menyebarkannya ke mana-mana, bahkan mereka masih menyebarkannya hingga hari ini. 

Namun kemudian Syaikh juga mengubah sikapnya setelah jelas baginya penyimpangan yang ada.

Demikian pula Syaikhuna, Syaikh Rabi’ rahimahullah. Beliau pernah memuji beberapa orang, seperti Al-Halabi dan Salim al-Hilali, bahkan pernah menerima mereka di rumahnya.

Beliau juga pernah memuji Muhammad Rizq Tharhuni, penulis kitab “Shahih as-Sirah” dalam dua jilid. 

Namun ketika menjadi jelas baginya di kemudian hari bahwa orang tersebut terpengaruh pemikiran ISIS (Daesh), atau memuji ISIS, maka Syaikh mencabut pujiannya dan menulis pernyataan resmi:
“Dahulu aku memujinya, namun setelah jelas bagiku begini dan begitu, maka aku mencabut rekomendasi terhadap orang ini.”

Demikian pula Syaikhuna, Syaikh Muqbil rahimahullah. Beliau dahulu pernah memuji Hasan al-Banna. 

Namun dalam kitabnya “Al-Makhraj minal Fitnah”, ketika beliau mengomentari pujian lamanya terhadap Hasan al-Banna, beliau berkata:
“Itu terjadi sebelum jelas bagiku keadaan Hasan al-Banna. Adapun sekarang, maka dia menurutku termasuk tokoh kesesatan,” atau beliau mengatakan: “termasuk ahli bid’ah yang sesat,” atau ucapan yang semakna.

Maka, jika seorang ulama atau penuntut ilmu memuji seseorang, kemudian setelah itu ia mengubah fatwa atau perkataannya karena muncul bukti-bukti baru, maka hal ini bukanlah kontradiksi, bukan kebohongan, dan bukan permainan.

Ini adalah pelajaran manhaj yang penting, sekaligus bantahan terhadap orang yang menuduh dengan mengatakan: “Dia pembohong, lihatlah dahulu dia memuji si fulan, sekarang dia mencelanya.” 

Engkau mengatakan hal ini karena engkau jahil. Seandainya engkau memiliki sedikit pengetahuan tentang manhaj Salaf dan metode para ulama, niscaya engkau tidak akan menuduh orang lain berdusta. Ini adalah perkara yang biasa.

Kebohongan yang sebenarnya adalah ketika engkau memuji seseorang padahal engkau tidak mengenalnya, atau engkau memuji seseorang hanya karena dia sesuai dengan kelompokmu, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang.

Mereka memuji seseorang karena dia berada dalam kelompoknya (hizbnya). Kemudian jika orang itu menyelisihinya, ia langsung mencelanya. Ia memuji atau mencela bukan di atas manhaj Salafi, akan tetapi di atas dasar loyalitas kelompok (wala’ dan bara’ yang sempit).

Inilah yang tercela. Inilah kontradiksi. Dan inilah permainan.

Adapun jika engkau memuji seseorang, kemudian terbukti bahwa dia menyelisihi hukum asalnya, atau dia telah berubah, atau tampak bagimu perkara-perkara baru yang sebelumnya tidak diketahui, lalu engkau mengubah perkataanmu, maka ini bukanlah kontradiksi dan bukan pula permainan.

Demikian, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
____
🛜 https://t.me/alistifadah




[Read more]

𝐊𝐄𝐌𝐔𝐋𝐈𝐀𝐀𝐍 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐒𝐈𝐊𝐀𝐏, 𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐆𝐄𝐋𝐀𝐑

Posted On // Leave a Comment
𝐊𝐄𝐌𝐔𝐋𝐈𝐀𝐀𝐍 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐒𝐈𝐊𝐀𝐏, 𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐆𝐄𝐋𝐀𝐑

𝗦𝗲𝗯𝘂𝗮𝗵 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗱𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘆𝗮𝗶𝗸𝗵 𝗥𝗮𝗯𝗶’ 𝗿𝗮𝗵𝗶𝗺𝗮𝗵𝘂𝗹𝗹𝗮𝗵

Dalam fitnah Abu al-Hasan, Syaikh Rabi’ rahimahullah berdiri bersama orang-orang yang lemah. 

Tidak ada seorang pun di Yaman yang menjelaskan bahwa para pengkritik Abu al-Hasan mengkritiknya dengan ilmu dan bashirah (ketajaman ilmu). Bahkan, mereka justru mencela dan merendahkan kami.

Ketika Syaikh Rabi’ al-Madkhali rahimahullah mendengar hal itu, beliau bangkit seperti singa. 

Beliau menolong orang-orang yang lemah, menjelaskan kebenaran, serta memuji orang-orang yang berdiri di atas kebenaran. 

Beliau juga menasihati orang-orang yang menyimpang.

Dan ketika mereka tetap bersikeras diatas penyimpangannya, beliau membantah mereka, menjelaskan penyimpangan-penyimpangan mereka, dan memperingatkan umat dari mereka.

Setelah itu, Allah mengangkat Ahlus Sunnah dan menundukkan Ahlul Bid’ah. 

Semua itu terjadi dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian juga dengan sebab keutamaan imam yang alim ini, yaitu Syaikh Rabi’ rahimahullah. Semoga Allah mengampuni beliau dan meninggikan derajatnya.

Janganlah kalian menyangka bahwa Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali rahimahullah mendapatkan kedudukan di sisi Ahlus Sunnah hanya karena beliau seorang profesor doktor saja, atau karena memiliki gelar-gelar akademik. 

Siapa yang menyangka demikian, maka ia keliru.

Sesungguhnya Allah mengangkat beliau karena sikap-sikapnya yang agung dan akhlaknya yang mulia.

Beliau adalah seorang ulama yang kokoh ilmunya, pemberi nasihat, seorang yang lantang dalam menyuarakan kebenaran, rendah hati, dermawan, wara’, zuhud terhadap dunia, mengamalkan sunnah, serta tekun beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Beliau mencintai Ahlus Sunnah meskipun mereka dari kalangan orang biasa, mendorong mereka, memuji mereka, serta membantah Ahlul Bid’ah dan bersikap tegas terhadap mereka, meskipun mereka memiliki gelar-gelar yang tinggi.

Asy Syaikh Ali Al Hudzaiifi hafizhahullah
Cuplikan ceramah "Wahai Ahlus Sunnah, waspadalah terhadap kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari Kiamat."
____
🛜 https://t.me/alistifadah
Sumber audio https://t.me/AliAlHuthaifi55/3183

[Read more]

𝐓𝐈𝐆𝐀 𝐏𝐈𝐋𝐀𝐑 𝐒𝐀𝐁𝐀𝐑 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐖𝐀𝐉𝐈𝐁 𝐃𝐈𝐌𝐈𝐋𝐈𝐊𝐈 𝐒𝐄𝐓𝐈𝐀𝐏 𝐌𝐔𝐒𝐋𝐈𝐌

Posted On // Leave a Comment
𝐓𝐈𝐆𝐀 𝐏𝐈𝐋𝐀𝐑 𝐒𝐀𝐁𝐀𝐑 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐖𝐀𝐉𝐈𝐁 𝐃𝐈𝐌𝐈𝐋𝐈𝐊𝐈 𝐒𝐄𝐓𝐈𝐀𝐏 𝐌𝐔𝐒𝐋𝐈𝐌

Berkata al-‘Allamah Shalih Alu Syaikh hafizhahullah:

أنواع الصبر الثلاثة: صبرٌ على الطاعة، وصبرٌ عن المعصية، وصبرٌ على قدر الله، كلها يحتاج إليها العالمون، العاملون، الدعاة.

Macam-macam sabar itu ada tiga:

• Sabar dalam menjalankan ketaatan
• Sabar dalam meninggalkan maksiat
• Sabar dalam menghadapi takdir Allah

Semua itu dibutuhkan oleh orang-orang yang berilmu, orang-orang yang beramal, dan para da’i.

Syarh Tsalatsatul Ushul (24)
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐒𝐄𝐌𝐔𝐀 𝐁𝐄𝐑𝐓𝐀𝐇𝐀𝐍: 𝐔𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐔𝐍𝐆𝐊𝐀𝐏 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐒𝐄𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑𝐍𝐘𝐀

Posted On // Leave a Comment
𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐒𝐄𝐌𝐔𝐀 𝐁𝐄𝐑𝐓𝐀𝐇𝐀𝐍: 𝐔𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐔𝐍𝐆𝐊𝐀𝐏 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐒𝐄𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑𝐍𝐘𝐀

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

لا يُعرف زيفُ الذَّهبِ إلا إذا أذبناهُ بالنَّار؛ ولا يُعرف طيبُ العود إلا إذا أحرقنَاهُ بالنَّار؛ أيضًا لا يُعرفُ المؤمنُ إلا بالابتلاءِ والامتحانِ، فعليكَ يا أخي بالصَّبرِ

“Tidak akan diketahui palsunya emas kecuali setelah dilebur dengan api.

Dan tidak akan diketahui harum dan baiknya kayu gaharu kecuali setelah dibakar dengan api.

Demikian pula, tidak akan diketahui (hakikat) seorang mukmin kecuali melalui ujian dan cobaan.

Maka hendaknya engkau, wahai saudaraku, bersabar.”

Tafsir Surat Al Baqarah, 3/41
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐓𝐔𝐊𝐀𝐑 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑𝐀𝐍 𝐃𝐄𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐒𝐎𝐒𝐎𝐊

Posted On // Leave a Comment
𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐓𝐔𝐊𝐀𝐑 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑𝐀𝐍 𝐃𝐄𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐒𝐎𝐒𝐎𝐊

Berkata Fadhilah al-Imam al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali rahimahullah:

فالآن يجب على من ينتهج المنهج السلفي: أن يربأ بنفسه عن سلوك هذه المذاهب الفاسدة، التعصب الأعمى التعصب الجاهلي و رد الحق من أجل فلان و فلان، و الله لو كان من كبار العلماء و من كبار أئمة السنة و أخطأ لما يجوز لك أن ترد الحق, كيف بالجهلاء و المعروفين بالكذب و المعروفين بالفتن, كيف تقف إلى جانبهم؟ هذا ما لا يليق بمسلم فضلا عن السلفي, و ما معنى الدعوة السلفية إذا كنت تتعصب بالجهل و الهوى ؟ما معنى هذا ؟

“Maka sekarang wajib bagi siapa saja yang menempuh manhaj Salafi:

Agar ia menjaga dirinya dari menempuh jalan-jalan yang rusak ini; yaitu fanatisme buta, fanatisme jahiliyah, dan menolak kebenaran hanya karena si fulan dan si fulan.

Demi Allah, seandainya yang berbicara itu termasuk ulama besar, termasuk imam-imam Ahlus Sunnah, lalu ia keliru, maka tidak boleh bagimu menolak kebenaran. 

Lalu bagaimana lagi jika itu datang dari orang-orang jahil, yang dikenal suka berdusta dan dikenal sebagai pembawa fitnah, bagaimana mungkin engkau justru berdiri di pihak mereka?

Ini tidak pantas bagi seorang Muslim, terlebih lagi bagi seorang Salafi. 

Apa makna dakwah Salafiyah jika engkau masih bersikap fanatik karena kebodohan dan mengikuti hawa nafsu? Apa arti semua itu?

(Wasiat untuk para penuntut ilmu Salafi)
____
🛜 https://t.me/alistifadah
https://t.me/fawaz_almdkhli/83


[Read more]

𝐊𝐄𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑𝐀𝐍 𝐃𝐀𝐓𝐀𝐍𝐆 𝐃𝐀𝐑𝐈 𝐀𝐑𝐀𝐇 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐓𝐀𝐊 𝐃𝐈𝐃𝐔𝐆𝐀

Posted On // Leave a Comment
𝐊𝐄𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑𝐀𝐍 𝐃𝐀𝐓𝐀𝐍𝐆 𝐃𝐀𝐑𝐈 𝐀𝐑𝐀𝐇 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐓𝐀𝐊 𝐃𝐈𝐃𝐔𝐆𝐀

Seorang laki-laki datang kepada Abdullah bin Mas‘ud dan berkata:

“Wahai Abu Abdurrahman, ajarkan kepadaku beberapa kalimat yang ringkas namun bermanfaat.”

Beliau menjawab:

اعبد الله ولا تشرك به شيئاً، وزل مع القرآن حيث زال ومن جاءك بالحق فاقبل منه وإن كان بعيداً قصياً، ومن جاءك بالباطل فاردده وإن كان قريبا حبيباً

“Sembahlah Allah dan janganlah engkau menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Ikutilah Al-Qur’an ke mana pun ia membimbingmu.

Siapa pun yang datang kepadamu membawa kebenaran, maka terimalah darinya, meskipun ia jauh dan bukan orang dekat.

Dan siapa pun yang datang kepadamu membawa kebatilan, maka tolaklah, meskipun ia orang yang dekat dan engkau cintai.”

📚 (Al-Ja‘diyyat, no. 2234)
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐏𝐑𝐀𝐒𝐀𝐍𝐆𝐊𝐀: 𝐃𝐎𝐒𝐀 𝐀𝐓𝐀𝐔 𝐊𝐄𝐖𝐀𝐒𝐏𝐀𝐃𝐀𝐀𝐍?

Posted On // Leave a Comment
𝐏𝐑𝐀𝐒𝐀𝐍𝐆𝐊𝐀: 𝐃𝐎𝐒𝐀 𝐀𝐓𝐀𝐔 𝐊𝐄𝐖𝐀𝐒𝐏𝐀𝐃𝐀𝐀𝐍?

Al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

وههنا مسألة: هل يُؤاخذ الإنسان بالظن السيئ بغيره ؟
والجواب أن نقول: هذا العمل لا يجوز إلا إذا وُجِدَت قرائن؛ ولهذا قال الله عَزَّوَجَلَّ في القرآن: إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إثم ﴾ [الحجرات: ١٢] ولم يقل: إن كله، أو إن الظن إثم؛ لأن بعض الظن لا يكون إثما

Di sini ada satu pembahasan: Apakah seseorang akan dihukumi (berdosa) karena berprasangka buruk terhadap orang lain?

Jawabannya: 

Kita katakan bahwa perbuatan ini tidak boleh, kecuali jika ada tanda-tanda atau bukti yang mendukung. Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’an:

 بَعْضَ الظَّنِّ إثم

“Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa” (Al-Hujurat: 12)

Dan Allah tidak mengatakan: “Sesungguhnya semua prasangka itu dosa” atau “prasangka itu dosa” secara mutlak. 

Ini karena sebagian prasangka tidak termasuk dosa.

Ta‘liq atas Shahih Al-Bukhari, 6/554
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐀𝐃𝐈𝐋𝐊𝐀𝐇 𝐊𝐈𝐓𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐆𝐀 𝐋𝐈𝐒𝐀𝐍?

Posted On // Leave a Comment
𝐀𝐃𝐈𝐋𝐊𝐀𝐇 𝐊𝐈𝐓𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐆𝐀 𝐋𝐈𝐒𝐀𝐍?

Al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

من العجب أن بعض الناس يتنزه عن الكلام في أعراض الناس، وإذا جاء الحديث عن ولاة الأمور صارت أعراضهم عنده حلاوة !

Sungguh mengherankan, ada sebagian orang yang sangat menjaga diri dari membicarakan kehormatan (aib) sesama manusia. 

Namun ketika pembicaraan menyangkut pejabat pemerintah, justru kehormatan mereka terasa “manis” baginya untuk dibicarakan.

Syarh Shahih al-Bukhari, 13/285
____
🛜 https://t.me/alistifadah



[Read more]

𝐀𝐖𝐀𝐋 𝐊𝐄𝐇𝐀𝐍𝐂𝐔𝐑𝐀𝐍: 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐔𝐇 𝐃𝐀𝐑𝐈 𝐈𝐋𝐌𝐔

Posted On // Leave a Comment
𝐀𝐖𝐀𝐋 𝐊𝐄𝐇𝐀𝐍𝐂𝐔𝐑𝐀𝐍: 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐔𝐇 𝐃𝐀𝐑𝐈 𝐈𝐋𝐌𝐔

Berkata Al-‘Allamah Syaikh Ibnu Baz rahimahullah:

فإن الإنسان إذا كان لا يحضر حلقات العلم ، ولا يسمع الخطب ولا يعتني بما ينقل عن أهل العلم فإنه تزداد غفلته وربما يقسو قلبه حتى يطبع عليه، ويختم عليه فيكون من الغافلين

“Sesungguhnya seseorang, jika ia tidak menghadiri majelis-majelis ilmu, tidak mendengarkan khutbah, dan tidak memperhatikan apa yang disampaikan dari para ulama, maka kelalaiannya akan semakin bertambah. 

Bahkan bisa jadi hatinya menjadi keras, hingga akhirnya tertutup dan terkunci, sehingga ia termasuk orang-orang yang lalai.”

Majmu’ Al-Fatawa)
____
🛜 https://t.me/alistifadah
https://t.me/fawaz_almdkhli/5028?single


[Read more]