𝐒𝐀𝐋𝐀𝐅𝐈𝐘𝐘𝐈𝐍 𝐈𝐓𝐔 𝐓𝐄𝐑𝐁𝐀𝐆𝐈 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐃𝐈 𝐃𝐔𝐀
Berkata Syaikh, Dr., Al-‘Allamah Rabi bin Hadi al-Madkhali rahimahullah:
Salafiyyin itu terbagi menjadi dua:
Pertama: Salafi yang kuat
Yaitu yang mampu menyampaikan dakwah Allah kepada ahlul bid’ah dan kelompok-kelompok (menyimpang) -semoga Allah memberkahimu- dengan hujjah dan dalil. Ia dapat mempengaruhi mereka, dan mereka tidak mempengaruhi dirinya.
Maka orang seperti ini kewajibannya adalah berinteraksi dengan mereka dan mengajak mereka (kepada kebenaran). Bukan untuk makan, bukan untuk minum, bukan untuk basa-basi, bukan untuk urusan agama sedikitpun, dan bukan pula menyetujui kebatilan.
Ia bertemu mereka di masjid lalu mendakwahi mereka, bertemu mereka di pasar lalu mendakwahi mereka, naik kendaraan bersama mereka lalu mendakwahi mereka, baik di mobil, pesawat, maupun kereta, ia tetap mengajak mereka (kepada kebenaran).
Ia berdakwah, karena memang harus berinteraksi dengan mereka -tidak mungkin sepenuhnya lepas dari mereka- sebab ahlul bid’ah dan pengikut hawa nafsu jumlahnya sangat dominan, sedangkan Salafiyyin seperti sehelai rambut putih pada sapi hitam -semoga Allah memberkahi kalian-.
Maka mau tidak mau ia akan bergaul dengan mereka. Lalu apa kewajibannya?
Kewajibannya adalah menyampaikan dakwah Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik.
Karena itu, jika ia hanya duduk di rumah dengan alasan menjauhi ahlul bid’ah, maka itu berarti mematikan dakwah!
Kedua: Salafi yang lemah
Sebagai contoh: seseorang yang jahil dan lemah kepribadiannya, jika mendengar sedikit saja syubhat maka ia langsung terpengaruh. Maka orang seperti ini seharusnya menyelamatkan dirinya dari ahlul syubhat dan ahlul bid’ah, serta menjauh dari mereka, tidak duduk bersama mereka.
Namun jika ada orang yang “menguji” kamu dengan memberi salam, maka katakan: “Wa‘alaikumussalam.”
Akan tetapi, jika kamu duduk bersama mereka, makan bersama mereka, bercanda dengan mereka, dan bergaul akrab dengan mereka, maka dalam hal ini kamu telah keliru. Karena apa yang kamu lakukan itu menyelisihi manhaj salafi dan juga menyelisihi sunnah.
Salafiyyin generasi sebelum kita juga telah tersebar di tengah-tengah ahlul bid’ah. Mereka mempengaruhi mereka dan memasukkan ribuan orang ke dalam lingkup manhaj salafi.
Maka siapa yang memiliki kemampuan debat yang kuat, berkepribadian kokoh, atau seorang alim, ia menegakkan hujjah dan mengajak mereka dengan hikmah serta nasihat yang baik. Dan kalian akan melihat dampak dari hal itu.
Adapun yang lemah: tidak -demi Allah- ia tidak bergaul (dengan mereka) secara umum.
Namun jika ia diuji dengan diberi salam, maka hendaknya ia menjawab salam tersebut, dan tidak ada dosa baginya. Kalau tidak begitu, lalu apa yang bisa ia lakukan?
Akan tetapi, ia tetap tidak bergaul dan tidak duduk bersama mereka.
Majmu’ Kutub wa Rasail Syaikh, 1/488–490
____
🛜 https://t.me/alistifadah