𝐏𝐑𝐀𝐒𝐀𝐍𝐆𝐊𝐀: 𝐃𝐎𝐒𝐀 𝐀𝐓𝐀𝐔 𝐊𝐄𝐖𝐀𝐒𝐏𝐀𝐃𝐀𝐀𝐍?

Posted On // Leave a Comment
𝐏𝐑𝐀𝐒𝐀𝐍𝐆𝐊𝐀: 𝐃𝐎𝐒𝐀 𝐀𝐓𝐀𝐔 𝐊𝐄𝐖𝐀𝐒𝐏𝐀𝐃𝐀𝐀𝐍?

Al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

وههنا مسألة: هل يُؤاخذ الإنسان بالظن السيئ بغيره ؟
والجواب أن نقول: هذا العمل لا يجوز إلا إذا وُجِدَت قرائن؛ ولهذا قال الله عَزَّوَجَلَّ في القرآن: إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إثم ﴾ [الحجرات: ١٢] ولم يقل: إن كله، أو إن الظن إثم؛ لأن بعض الظن لا يكون إثما

Di sini ada satu pembahasan: Apakah seseorang akan dihukumi (berdosa) karena berprasangka buruk terhadap orang lain?

Jawabannya: 

Kita katakan bahwa perbuatan ini tidak boleh, kecuali jika ada tanda-tanda atau bukti yang mendukung. Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’an:

 بَعْضَ الظَّنِّ إثم

“Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa” (Al-Hujurat: 12)

Dan Allah tidak mengatakan: “Sesungguhnya semua prasangka itu dosa” atau “prasangka itu dosa” secara mutlak. 

Ini karena sebagian prasangka tidak termasuk dosa.

Ta‘liq atas Shahih Al-Bukhari, 6/554
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐀𝐃𝐈𝐋𝐊𝐀𝐇 𝐊𝐈𝐓𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐆𝐀 𝐋𝐈𝐒𝐀𝐍?

Posted On // Leave a Comment
𝐀𝐃𝐈𝐋𝐊𝐀𝐇 𝐊𝐈𝐓𝐀 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐆𝐀 𝐋𝐈𝐒𝐀𝐍?

Al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

من العجب أن بعض الناس يتنزه عن الكلام في أعراض الناس، وإذا جاء الحديث عن ولاة الأمور صارت أعراضهم عنده حلاوة !

Sungguh mengherankan, ada sebagian orang yang sangat menjaga diri dari membicarakan kehormatan (aib) sesama manusia. 

Namun ketika pembicaraan menyangkut pejabat pemerintah, justru kehormatan mereka terasa “manis” baginya untuk dibicarakan.

Syarh Shahih al-Bukhari, 13/285
____
🛜 https://t.me/alistifadah



[Read more]

𝐀𝐖𝐀𝐋 𝐊𝐄𝐇𝐀𝐍𝐂𝐔𝐑𝐀𝐍: 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐔𝐇 𝐃𝐀𝐑𝐈 𝐈𝐋𝐌𝐔

Posted On // Leave a Comment
𝐀𝐖𝐀𝐋 𝐊𝐄𝐇𝐀𝐍𝐂𝐔𝐑𝐀𝐍: 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐔𝐇 𝐃𝐀𝐑𝐈 𝐈𝐋𝐌𝐔

Berkata Al-‘Allamah Syaikh Ibnu Baz rahimahullah:

فإن الإنسان إذا كان لا يحضر حلقات العلم ، ولا يسمع الخطب ولا يعتني بما ينقل عن أهل العلم فإنه تزداد غفلته وربما يقسو قلبه حتى يطبع عليه، ويختم عليه فيكون من الغافلين

“Sesungguhnya seseorang, jika ia tidak menghadiri majelis-majelis ilmu, tidak mendengarkan khutbah, dan tidak memperhatikan apa yang disampaikan dari para ulama, maka kelalaiannya akan semakin bertambah. 

Bahkan bisa jadi hatinya menjadi keras, hingga akhirnya tertutup dan terkunci, sehingga ia termasuk orang-orang yang lalai.”

Majmu’ Al-Fatawa)
____
🛜 https://t.me/alistifadah
https://t.me/fawaz_almdkhli/5028?single


[Read more]

𝐌𝐔𝐒𝐈𝐁𝐀𝐇 𝐈𝐓𝐔 𝐊𝐄𝐂𝐈𝐋, 𝐉𝐈𝐊𝐀 𝐊𝐀𝐔 𝐈𝐍𝐆𝐀𝐓 𝐃𝐎𝐒𝐀𝐌𝐔

Posted On // Leave a Comment
𝐌𝐔𝐒𝐈𝐁𝐀𝐇 𝐈𝐓𝐔 𝐊𝐄𝐂𝐈𝐋, 𝐉𝐈𝐊𝐀 𝐊𝐀𝐔 𝐈𝐍𝐆𝐀𝐓 𝐃𝐎𝐒𝐀𝐌𝐔

Tabi’in Mutharrif bin Abdullah rahimahullah berkata:

مَا نَزَلَ بِي بَلَاءٌ فَاسْتَعْظَمْتُهُ فَذَكَرْتُ ذُنُوبِي إِلَّا اسْتَصْغَرْتُهُ

“Setiap kali aku tertimpa musibah lalu aku menganggapnya besar, aku mengingat dosa-dosaku, maka seketika musibah itu terasa kecil.”

Al-‘Uqubat karya Ibnu Abid Dunya No. 222
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐑𝐈 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐓𝐄𝐑𝐁𝐀𝐈𝐊 𝐊𝐄𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐏𝐀𝐋𝐈𝐍𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇𝐊𝐀𝐍

Posted On // Leave a Comment
𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐑𝐈 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐓𝐄𝐑𝐁𝐀𝐈𝐊 𝐊𝐄𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐏𝐀𝐋𝐈𝐍𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇𝐊𝐀𝐍

Imam Malik rahimahullah berkata:

“Dahulu Thawus biasa membuat makanan yang lezat, lalu ia mengundang orang-orang miskin untuk menyantapnya.

Lalu ada yang berkata kepadanya: ‘Seandainya engkau mengundang para pembesar (tokoh-tokoh terpandang)!’

Ia menjawab: 

لا ، إِنَّ هؤلاء لا عَهْدَ لهم بمثل هذا

‘Tidak. Sesungguhnya mereka ini (kaum miskin) tidak terbiasa mendapatkan makanan seperti ini.’

Imam Malik berkata: ‘Betapa indahnya perbuatan ini!’ dan beliau pun merasa kagum terhadap amalan tersebut.”

Sunan Ash-Shalihin karya Abu Al-Walid Al-Baji
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐒𝐀𝐋𝐀𝐅𝐈𝐘𝐘𝐈𝐍 𝐈𝐓𝐔 𝐓𝐄𝐑𝐁𝐀𝐆𝐈 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐃𝐈 𝐃𝐔𝐀

Posted On // Leave a Comment
𝐒𝐀𝐋𝐀𝐅𝐈𝐘𝐘𝐈𝐍 𝐈𝐓𝐔 𝐓𝐄𝐑𝐁𝐀𝐆𝐈 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐃𝐈 𝐃𝐔𝐀

Berkata Syaikh, Dr., Al-‘Allamah Rabi bin Hadi al-Madkhali rahimahullah:

Salafiyyin itu terbagi menjadi dua:

Pertama: Salafi yang kuat

Yaitu yang mampu menyampaikan dakwah Allah kepada ahlul bid’ah dan kelompok-kelompok (menyimpang) -semoga Allah memberkahimu- dengan hujjah dan dalil. Ia dapat mempengaruhi mereka, dan mereka tidak mempengaruhi dirinya.

Maka orang seperti ini kewajibannya adalah berinteraksi dengan mereka dan mengajak mereka (kepada kebenaran). Bukan untuk makan, bukan untuk minum, bukan untuk basa-basi, bukan untuk urusan agama sedikitpun, dan bukan pula menyetujui kebatilan.

Ia bertemu mereka di masjid lalu mendakwahi mereka, bertemu mereka di pasar lalu mendakwahi mereka, naik kendaraan bersama mereka lalu mendakwahi mereka, baik di mobil, pesawat, maupun kereta, ia tetap mengajak mereka (kepada kebenaran).

Ia berdakwah, karena memang harus berinteraksi dengan mereka -tidak mungkin sepenuhnya lepas dari mereka- sebab ahlul bid’ah dan pengikut hawa nafsu jumlahnya sangat dominan, sedangkan Salafiyyin seperti sehelai rambut putih pada sapi hitam -semoga Allah memberkahi kalian-.

Maka mau tidak mau ia akan bergaul dengan mereka. Lalu apa kewajibannya?
Kewajibannya adalah menyampaikan dakwah Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik.

Karena itu, jika ia hanya duduk di rumah dengan alasan menjauhi ahlul bid’ah, maka itu berarti mematikan dakwah!

Kedua: Salafi yang lemah

Sebagai contoh: seseorang yang jahil dan lemah kepribadiannya, jika mendengar sedikit saja syubhat maka ia langsung terpengaruh. Maka orang seperti ini seharusnya menyelamatkan dirinya dari ahlul syubhat dan ahlul bid’ah, serta menjauh dari mereka, tidak duduk bersama mereka.

Namun jika ada orang yang “menguji” kamu dengan memberi salam, maka katakan: “Wa‘alaikumussalam.”

Akan tetapi, jika kamu duduk bersama mereka, makan bersama mereka, bercanda dengan mereka, dan bergaul akrab dengan mereka, maka dalam hal ini kamu telah keliru. Karena apa yang kamu lakukan itu menyelisihi manhaj salafi dan juga menyelisihi sunnah.

Salafiyyin generasi sebelum kita juga telah tersebar di tengah-tengah ahlul bid’ah. Mereka mempengaruhi mereka dan memasukkan ribuan orang ke dalam lingkup manhaj salafi.

Maka siapa yang memiliki kemampuan debat yang kuat, berkepribadian kokoh, atau seorang alim, ia menegakkan hujjah dan mengajak mereka dengan hikmah serta nasihat yang baik. Dan kalian akan melihat dampak dari hal itu.

Adapun yang lemah: tidak -demi Allah- ia tidak bergaul (dengan mereka) secara umum. 

Namun jika ia diuji dengan diberi salam, maka hendaknya ia menjawab salam tersebut, dan tidak ada dosa baginya. Kalau tidak begitu, lalu apa yang bisa ia lakukan?

Akan tetapi, ia tetap tidak bergaul dan tidak duduk bersama mereka.

Majmu’ Kutub wa Rasail Syaikh, 1/488–490
____
🛜 https://t.me/alistifadah

[Read more]

𝐒𝐀𝐀𝐓 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐇𝐔𝐊𝐔𝐌 𝐋𝐄𝐖𝐀𝐓 𝐓𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐌𝐄𝐑𝐄𝐊𝐀 𝐒𝐄𝐍𝐃𝐈𝐑𝐈

Posted On // Leave a Comment
𝐒𝐀𝐀𝐓 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐇𝐔𝐊𝐔𝐌 𝐋𝐄𝐖𝐀𝐓 𝐓𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐌𝐄𝐑𝐄𝐊𝐀 𝐒𝐄𝐍𝐃𝐈𝐑𝐈

Al-Imam Al-Auza‘i rahimahullah berkata:

إذا التقى الفاجر بالفاجر ، فاقتتـلا ، فأهلك الله أحدهما فالحمد لله ، وإذا أهلكهما جميعًا فالحمد لله كثيرًا.

“Jika seorang fajir (pelaku kejahatan) bertemu dengan fajir lainnya, lalu keduanya saling berperang dan Allah membinasakan salah satu dari mereka, maka segala puji bagi Allah.

Dan jika Allah membinasakan keduanya sekaligus, maka segala puji bagi Allah dengan pujian yang lebih banyak lagi.”

Siyar A‘lam an-Nubala’, 8/458
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐃𝐈𝐀𝐌 𝐀𝐓𝐀𝐒 𝐍𝐀𝐌𝐀 𝐇𝐈𝐊𝐌𝐀𝐇, 𝐀𝐖𝐀𝐋 𝐁𝐄𝐍𝐂𝐀𝐍𝐀 𝐔𝐌𝐀𝐓

Posted On // Leave a Comment
𝐃𝐈𝐀𝐌 𝐀𝐓𝐀𝐒 𝐍𝐀𝐌𝐀 𝐇𝐈𝐊𝐌𝐀𝐇, 𝐀𝐖𝐀𝐋 𝐁𝐄𝐍𝐂𝐀𝐍𝐀 𝐔𝐌𝐀𝐓

---

[𝗠𝗲𝗹𝗲𝗺𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗔𝗵𝗹𝘂𝗹 𝗛𝗮𝗾, 𝗣𝗶𝗻𝘁𝘂 𝗧𝗲𝗿𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗙𝗶𝘁𝗻𝗮𝗵]

Syaikh kami, Imam Rabi’ rahimahullah Ta'ala berkata:

هناك أناسٌ ـ مع الأسف ـ يغتاظون من الردِّ على أهل الباطل والأخطاء، ويتحمَّسون لموالاتهم والذَّبِّ عنهم، ويجفون ويتنكَّرون لمن يردُّون الباطلَ والأخطاء، ويخذلونهم أشدَّ الخذلان، ويُوهِمون الناس أن هذا من الرفق والحكمة، وهذا من أشدِّ أنواع البلاء والمحن، الأمر الذي جرَّأ أهلَ الباطل على التمادي في باطلهم ونشر فتنتهم على مستوى العالم، وليت هذا الصنف يُدرِكون عواقب مواقفهم الخطيرة، نسأل الله لهم الهداية والبصيرة، وإدراك واجبهم في نصرة دعوة محمد صلى الله عليه وسلم، ولا تأخذهم في ذلك لومة لائم.

“Di antara manusia -sangat disayangkan- ada yang merasa gerah dan tidak suka ketika dilakukan bantahan terhadap ahli kebatilan dan kesalahan. 

Mereka justru bersemangat membela, membenarkan, dan melindungi orang-orang yang salah. 

Sebaliknya, mereka bersikap dingin, menjauh, bahkan mengingkari orang-orang yang membantah kebatilan dan kesalahan itu.

Mereka menelantarkan dan melemahkan para pembela kebenaran dengan kelemahan yang sangat parah, lalu mengelabui manusia dengan mengatakan bahwa sikap ini adalah bentuk kelembutan dan hikmah. 

Padahal, sikap seperti ini termasuk bencana dan cobaan terbesar.

Inilah yang justru memberi keberanian kepada para pelaku kebatilan untuk terus tenggelam dalam kesesatan mereka dan menyebarkan fitnah ke seluruh penjuru dunia. 

Seandainya golongan ini menyadari akibat berbahaya dari sikap mereka, niscaya mereka akan berhenti.

Kita memohon kepada Allah agar Dia memberi mereka petunjuk, kejernihan pandangan, serta kesadaran akan kewajiban mereka dalam menolong dakwah Nabi Muhammad ﷺ, dan agar mereka tidak takut terhadap celaan siapa pun dalam menegakkan kebenaran.”

Bayan ma fi Nashihah Ibrahim ar-Ruhaili minal Khalal wal Ikhlal, hlm. 26
____
🛜 https://t.me/alistifadah
https://t.me/Nataouan/23877



[Read more]

𝐌𝐄𝐍𝐆𝐀𝐏𝐀 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐌𝐄𝐑𝐔𝐒𝐀𝐊 𝐉𝐔𝐒𝐓𝐑𝐔 𝐃𝐈𝐁𝐄𝐋𝐀

Posted On // Leave a Comment
𝐌𝐄𝐍𝐆𝐀𝐏𝐀 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐌𝐄𝐑𝐔𝐒𝐀𝐊 𝐉𝐔𝐒𝐓𝐑𝐔 𝐃𝐈𝐁𝐄𝐋𝐀 ?! 

Asy Syaikh Fawaz bin Ali al-Madkhali hafizhahullah berkata:

هذا الإمام ربيع –رحمه الله– بلغ من العلم والإمامة في الدين ما بلغ، وجدد الله به معالم المنهج السلفي إلى جانب إخوانه من أئمة الزمان، لكنه لا يحب أن يغلو فيه أحد. فما بال أقوام يريدون منا أن نغلوا في أشخاص لم يقدموا للدعوة ربع ما قدمه الإمام ربيع، ولا ثُمنه؟ بل أصبحوا معاول هدم وفتن وبث للجهل في صفوف الشباب السلفي.

Imam Rabi‘ rahimahullah telah mencapai kedudukan ilmu dan kepemimpinan dalam agama yang sangat tinggi. 

Melalui beliau, Allah memperbarui kembali pokok-pokok manhaj Salaf, bersama saudara-saudara beliau dari para imam di zamannya. 

Namun demikian, beliau sama sekali tidak suka jika ada orang yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap dirinya.

Lalu mengapa ada sekelompok orang yang justru menuntut kita untuk bersikap berlebihan terhadap sosok-sosok lain, yang kontribusinya terhadap dakwah bahkan tidak sampai seperempat, bahkan seperdelapan, dari apa yang telah diberikan oleh Imam Rabi‘? 

Lebih parah lagi, sebagian dari mereka justru berubah menjadi alat perusak, sumber fitnah, dan penyebar kebodohan di tengah-tengah para pemuda Salafi.

#Fawaz_bin_Ali_al-Madkhali
15 Sya‘ban 1447 H
3 Februari 2026
____
🛜 https://t.me/alistifadah
https://www.facebook.com/share/p/1ApsbUkcDx/



[Read more]

𝐊𝐄𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐃𝐈𝐀𝐌 𝐃𝐀𝐍 𝐑𝐈𝐃𝐇𝐀 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐔𝐍𝐃𝐀𝐍𝐆 𝐀𝐙𝐀𝐁

Posted On // Leave a Comment
𝐊𝐄𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐃𝐈𝐀𝐌 𝐃𝐀𝐍 𝐑𝐈𝐃𝐇𝐀 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐔𝐍𝐃𝐀𝐍𝐆 𝐀𝐙𝐀𝐁

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَمَنْ رَضِيَ عَمَلَ قَوْمٍ حُشِرَ مَعَهُمْ ،كَمَا حُشِرَتْ امْرَأَةُ لُوطٍ مَعَهُمْ وَلَمْ تَكُنْ تَعْمَلُ فَاحِشَةَ اللِّوَاطِ ،فَإِنَّ ذَلِكَ لَا يَقَعُ مِنْ الْمَرْأَةِ لَكِنَّهَا لَمَّا رَضِيَتْ فِعْلَهُمْ عَمَّهَا الْعَذَابُ مَعَهُمْ

“Barang siapa ridha terhadap perbuatan suatu kaum, maka ia akan dikumpulkan bersama mereka.

Sebagaimana istri Nabi Luth alaihis salam dikumpulkan bersama kaumnya, padahal ia sendiri tidak melakukan perbuatan keji (liwath) karena perbuatan itu memang tidak dilakukan oleh perempuan.

Namun karena ia ridha terhadap perbuatan mereka, maka azab pun menimpanya bersama mereka.”

Majmu‘ul Fatawa (15/344)
____
🛜 https://t.me/alistifadah



[Read more]