𝐓𝐀𝐍𝐃𝐀 𝐁𝐎𝐑𝐎𝐒 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐒𝐄𝐑𝐈𝐍𝐆 𝐃𝐈𝐀𝐍𝐆𝐆𝐀𝐏 𝐁𝐈𝐀𝐒𝐀

Posted On // Leave a Comment
𝐓𝐀𝐍𝐃𝐀 𝐁𝐎𝐑𝐎𝐒 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐒𝐄𝐑𝐈𝐍𝐆 𝐃𝐈𝐀𝐍𝐆𝐆𝐀𝐏 𝐁𝐈𝐀𝐒𝐀

Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu berkata:

كفى بالمرء سرفاً ألّا يشتهي شيئاً إلا اشتراه فأكله

“Cukuplah seseorang dianggap berlebihan (boros), apabila setiap kali ia menginginkan sesuatu, ia langsung membelinya lalu memakannya.”

Tafsir Al-Qurthubi (15/475)
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐒𝐀𝐀𝐓 𝐔𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐌𝐄𝐌𝐔𝐍𝐂𝐀𝐊, 𝐏𝐄𝐑𝐓𝐎𝐋𝐎𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐒𝐄𝐌𝐀𝐊𝐈𝐍 𝐃𝐄𝐊𝐀𝐓

Posted On // Leave a Comment
𝐒𝐀𝐀𝐓 𝐔𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐌𝐄𝐌𝐔𝐍𝐂𝐀𝐊, 𝐏𝐄𝐑𝐓𝐎𝐋𝐎𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐒𝐄𝐌𝐀𝐊𝐈𝐍 𝐃𝐄𝐊𝐀𝐓

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

فكلما اشتدت الكربة، واشتد تعلقك بالله عز وجل فُرجت، وأما إذا اشتدت الكربة وجعلت تفكر، أين أذهب؟! إلى كذا، إلى فلان، إلى فلان! فإنك توكل إليه، أما إذا كنت تفزع إلى الله، فاعلم أن الفرج قريب

“Setiap kali kesusahan itu semakin berat, dan semakin kuat pula ketergantunganmu kepada Allah ‘azza wa jalla, maka akan diberikan jalan keluar.

Adapun jika kesusahan semakin berat, lalu engkau mulai berpikir: ‘Ke mana aku harus pergi? Ke si fulan? Ke si fulan?’ maka engkau akan diserahkan kepada mereka.

Namun jika engkau bersegera kembali dan berlindung kepada Allah, maka ketahuilah bahwa pertolongan itu dekat.”

Syarah Shahih Muslim (1/510)
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐌𝐄𝐍𝐆𝐀𝐆𝐔𝐍𝐆𝐊𝐀𝐍 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇 𝐌𝐄𝐋𝐀𝐇𝐈𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐑𝐀𝐍𝐈𝐀𝐍

Posted On // Leave a Comment
𝐌𝐄𝐍𝐆𝐀𝐆𝐔𝐍𝐆𝐊𝐀𝐍 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇 𝐌𝐄𝐋𝐀𝐇𝐈𝐑𝐊𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐑𝐀𝐍𝐈𝐀𝐍

Berkata Syaikh Nizar bin Hasyim Al-‘Abbas hafizhahullah:

مَن عَظَّمَ اللهَ وعَظَّمَ حقَّ دِينه الإسلام وأَحبَّه واحترمَه وجَعَلَ ذلك غايته وخُلُقَه؛ هان علیه بیانُ خَطأ ومخالفةِ مَن خالَفَه كائناً مَن كان حتى نَفْسَه التي بين جَنبَيه..

Barangsiapa yang mengagungkan Allah, mengagungkan hak agama-Nya yaitu Islam, mencintainya, menghormatinya, serta menjadikan semua itu sebagai tujuan dan akhlaknya; maka akan terasa mudah baginya untuk menjelaskan kesalahan dan penyimpangan orang yang menyelisihi -siapa pun dia- bahkan terhadap dirinya sendiri yang ada di antara kedua sisi tubuhnya.

📅 23 Syawal 1447 H
____
🛜 https://t.me/alistifadah
https://t.me/shnizaralabbas



[Read more]

𝐊𝐄𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐂𝐄𝐋𝐀𝐀𝐍 𝐁𝐄𝐑𝐁𝐀𝐋𝐈𝐊 𝐀𝐑𝐀𝐇

Posted On // Leave a Comment
𝐊𝐄𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐂𝐄𝐋𝐀𝐀𝐍 𝐁𝐄𝐑𝐁𝐀𝐋𝐈𝐊 𝐀𝐑𝐀𝐇

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عَيَّرْتَ بِهَا أخَاكَ فَهِيَ إلَيْكَ

“Setiap maksiat yang engkau jadikan bahan celaan terhadap saudaramu, maka (bisa jadi) maksiat itu akan kembali menimpamu.”

Madarijus Salikin, 1/177
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐊𝐄𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐀𝐈𝐊𝐀𝐍 𝐃𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐁𝐈𝐍𝐀𝐒𝐀𝐀𝐍 𝐃𝐈𝐏𝐄𝐑𝐓𝐀𝐑𝐔𝐇𝐊𝐀𝐍 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐔𝐌𝐀𝐓

Posted On // Leave a Comment
𝐊𝐄𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐀𝐈𝐊𝐀𝐍 𝐃𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐁𝐈𝐍𝐀𝐒𝐀𝐀𝐍 𝐃𝐈𝐏𝐄𝐑𝐓𝐀𝐑𝐔𝐇𝐊𝐀𝐍 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐔𝐌𝐀𝐓

Dahulu, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata:

اللهم أصْلِحْ مَن كَانَ صَلاحُه صلاحًا لأمة محمَّدٍ، اللهم وأهلِك مَن كَانَ هلاكه صلاحًا لأُمَّةِ محمد

“Ya Allah, perbaikilah siapa saja yang perbaikannya membawa kebaikan bagi umat Muhammad.

Dan Ya Allah, binasakan siapa saja yang kebinasaannya justru membawa kebaikan bagi umat Muhammad.”

Al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah (10/255)
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐒𝐀𝐀𝐓 𝐑𝐀𝐒𝐀 𝐓𝐀𝐊𝐔𝐓 𝐌𝐄𝐍𝐄𝐍𝐓𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐍𝐀𝐒𝐈𝐁𝐌𝐔

Posted On // Leave a Comment
𝐒𝐀𝐀𝐓 𝐑𝐀𝐒𝐀 𝐓𝐀𝐊𝐔𝐓 𝐌𝐄𝐍𝐄𝐍𝐓𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐍𝐀𝐒𝐈𝐁𝐌𝐔

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

من خاف الله لم يضره أحد ومن خاف غير الله لم ينفعه أحد

Barangsiapa takut kepada Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat membahayakannya.

Dan barangsiapa takut kepada selain Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberikan manfaat kepadanya.

Syu’abul Iman Al-Baihaqi no. 944
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐊𝐄𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑𝐀𝐍 𝐓𝐀𝐌𝐏𝐀𝐊, 𝐏𝐔𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐏𝐔𝐍 𝐁𝐈𝐒𝐀 𝐁𝐄𝐑𝐔𝐁𝐀𝐇

Posted On // Leave a Comment
𝐊𝐄𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑𝐀𝐍 𝐓𝐀𝐌𝐏𝐀𝐊, 𝐏𝐔𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐏𝐔𝐍 𝐁𝐈𝐒𝐀 𝐁𝐄𝐑𝐔𝐁𝐀𝐇

𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗦𝗲𝗺𝘂𝗮 𝗣𝘂𝗷𝗶𝗮𝗻 𝗜𝘁𝘂 𝗦𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻𝘆𝗮

Asy Syaikh Ali Al Hudzaifi Al Adni hafizhahullah

بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه. أما بعد

Terkadang seorang ulama, atau seorang syaikh, atau penuntut ilmu, terkadang mengeluarkan tazkiyah (rekomendasi/pujian) terhadap seseorang. 

Kemudian setelah itu tampak baginya bahwa orang tersebut telah berubah, dan bahwa dia tidak lagi tetap di atas apa yang sebelumnya ia berada di atasnya berupa istiqamah dalam manhaj, atau bahwa dia -ketika mengeluarkan tazkiyah dan pujian- membangunnya di atas hukum asal, kemudian setelah itu tampak baginya perkara-perkara baru yang sebelumnya tidak ia ketahui.

Maka dalam kondisi ini, dan kondisi selainnya, seorang ulama terkadang terpaksa untuk mengubah fatwanya, atau mengubah pujiannya menjadi jarh (kritikan), atau mengubah perkataannya dari bentuk pujian menjadi bentuk yang lain.

Semua ini adalah perkara yang wajar dalam dakwah Salafiyah. Orang-orang yang berakal dan objektif tidak menganggap hal ini sebagai bentuk kontradiksi, tidak pula sebagai kebohongan, dan tidak pula sebagai bentuk permainan. 

Bahkan hal ini telah terjadi pada seluruh ulama -atau lebih tepatnya, terjadi pada banyak ulama- di antaranya:

Contohnya adalah Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu ta'ala. Beliau dahulu pernah memuji Ikhwanul Muslimin. 

Jika engkau merujuk kepada fatwa-fatwa lama dari Lajnah Daimah, niscaya engkau akan mendapati bahwa Syaikh menyebut Ikhwan dengan kebaikan. 

Beliau menyebutkan berbagai kelompok; ketika beliau ditanya tentang kelompok-kelompok yang ada di lapangan, beliau memuji semuanya: baik Salafi, Ikhwan, maupun selainnya.

Namun ketika berlalu waktu, dan kelompok-kelompok ini tersebar di dunia Islam, serta tampak berbagai penyimpangan seperti terorisme, pemberontakan terhadap penguasa Muslim, pengafiran (takfir) terhadap para penguasa, dan selain itu, maka Syaikh rahimahullah mengubah pandangannya terhadap Ikhwan. 

Hingga pada fatwa terakhir beliau di akhir hayatnya, beliau menyatakan bahwa mereka termasuk dalam golongan 72 firqah.

Demikian pula Syaikh Al-Albani. Dengan cara yang sama, beliau dahulu juga memuji Ikhwan. 

Oleh karena itu, engkau akan dapati bahwa pujian Syaikh Al-Albani terhadap Ikhwan adalah pujian yang lama, bahkan sangat lama. 

Bahkan engkau dapat memperhatikan bahwa suara Syaikh dalam rekaman tersebut terdengar masih muda, yang menunjukkan bahwa ucapan itu sudah sangat lama.

Kemudian setelah itu, Syaikh Al-Albani rahimahullah mengubah fatwanya, dan mengeluarkan mereka dari Ahlus Sunnah. 

Beliau berkata: “Bagaimana mungkin mereka termasuk Ahlus Sunnah, sementara mereka memerangi Sunnah?”

Demikian pula Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau pernah ditanya dalam sebuah ceramah tentang Safar al-Hawali: apakah dia berpemahaman Khawarij? 

Maka Syaikh berdialog dengannya dan berkata: “Apakah engkau mengafirkan karena perbuatan maksiat?” 

Ia menjawab: “Tidak.” 

Maka Syaikh berkata: “Kalau begitu dia bukan Khawarij, wahai saudara-saudara, akan tetapi dia adalah orang yang keluar (kharij) melawan kebatilan,” lalu beliau pun memujinya.

Kelompok Sururiyah pun sangat bergembira dengan pujian ini dan menyebarkannya ke mana-mana, bahkan mereka masih menyebarkannya hingga hari ini. 

Namun kemudian Syaikh juga mengubah sikapnya setelah jelas baginya penyimpangan yang ada.

Demikian pula Syaikhuna, Syaikh Rabi’ rahimahullah. Beliau pernah memuji beberapa orang, seperti Al-Halabi dan Salim al-Hilali, bahkan pernah menerima mereka di rumahnya.

Beliau juga pernah memuji Muhammad Rizq Tharhuni, penulis kitab “Shahih as-Sirah” dalam dua jilid. 

Namun ketika menjadi jelas baginya di kemudian hari bahwa orang tersebut terpengaruh pemikiran ISIS (Daesh), atau memuji ISIS, maka Syaikh mencabut pujiannya dan menulis pernyataan resmi:
“Dahulu aku memujinya, namun setelah jelas bagiku begini dan begitu, maka aku mencabut rekomendasi terhadap orang ini.”

Demikian pula Syaikhuna, Syaikh Muqbil rahimahullah. Beliau dahulu pernah memuji Hasan al-Banna. 

Namun dalam kitabnya “Al-Makhraj minal Fitnah”, ketika beliau mengomentari pujian lamanya terhadap Hasan al-Banna, beliau berkata:
“Itu terjadi sebelum jelas bagiku keadaan Hasan al-Banna. Adapun sekarang, maka dia menurutku termasuk tokoh kesesatan,” atau beliau mengatakan: “termasuk ahli bid’ah yang sesat,” atau ucapan yang semakna.

Maka, jika seorang ulama atau penuntut ilmu memuji seseorang, kemudian setelah itu ia mengubah fatwa atau perkataannya karena muncul bukti-bukti baru, maka hal ini bukanlah kontradiksi, bukan kebohongan, dan bukan permainan.

Ini adalah pelajaran manhaj yang penting, sekaligus bantahan terhadap orang yang menuduh dengan mengatakan: “Dia pembohong, lihatlah dahulu dia memuji si fulan, sekarang dia mencelanya.” 

Engkau mengatakan hal ini karena engkau jahil. Seandainya engkau memiliki sedikit pengetahuan tentang manhaj Salaf dan metode para ulama, niscaya engkau tidak akan menuduh orang lain berdusta. Ini adalah perkara yang biasa.

Kebohongan yang sebenarnya adalah ketika engkau memuji seseorang padahal engkau tidak mengenalnya, atau engkau memuji seseorang hanya karena dia sesuai dengan kelompokmu, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang.

Mereka memuji seseorang karena dia berada dalam kelompoknya (hizbnya). Kemudian jika orang itu menyelisihinya, ia langsung mencelanya. Ia memuji atau mencela bukan di atas manhaj Salafi, akan tetapi di atas dasar loyalitas kelompok (wala’ dan bara’ yang sempit).

Inilah yang tercela. Inilah kontradiksi. Dan inilah permainan.

Adapun jika engkau memuji seseorang, kemudian terbukti bahwa dia menyelisihi hukum asalnya, atau dia telah berubah, atau tampak bagimu perkara-perkara baru yang sebelumnya tidak diketahui, lalu engkau mengubah perkataanmu, maka ini bukanlah kontradiksi dan bukan pula permainan.

Demikian, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
____
🛜 https://t.me/alistifadah




[Read more]

𝐊𝐄𝐌𝐔𝐋𝐈𝐀𝐀𝐍 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐒𝐈𝐊𝐀𝐏, 𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐆𝐄𝐋𝐀𝐑

Posted On // Leave a Comment
𝐊𝐄𝐌𝐔𝐋𝐈𝐀𝐀𝐍 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐒𝐈𝐊𝐀𝐏, 𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐆𝐄𝐋𝐀𝐑

𝗦𝗲𝗯𝘂𝗮𝗵 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗱𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘆𝗮𝗶𝗸𝗵 𝗥𝗮𝗯𝗶’ 𝗿𝗮𝗵𝗶𝗺𝗮𝗵𝘂𝗹𝗹𝗮𝗵

Dalam fitnah Abu al-Hasan, Syaikh Rabi’ rahimahullah berdiri bersama orang-orang yang lemah. 

Tidak ada seorang pun di Yaman yang menjelaskan bahwa para pengkritik Abu al-Hasan mengkritiknya dengan ilmu dan bashirah (ketajaman ilmu). Bahkan, mereka justru mencela dan merendahkan kami.

Ketika Syaikh Rabi’ al-Madkhali rahimahullah mendengar hal itu, beliau bangkit seperti singa. 

Beliau menolong orang-orang yang lemah, menjelaskan kebenaran, serta memuji orang-orang yang berdiri di atas kebenaran. 

Beliau juga menasihati orang-orang yang menyimpang.

Dan ketika mereka tetap bersikeras diatas penyimpangannya, beliau membantah mereka, menjelaskan penyimpangan-penyimpangan mereka, dan memperingatkan umat dari mereka.

Setelah itu, Allah mengangkat Ahlus Sunnah dan menundukkan Ahlul Bid’ah. 

Semua itu terjadi dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian juga dengan sebab keutamaan imam yang alim ini, yaitu Syaikh Rabi’ rahimahullah. Semoga Allah mengampuni beliau dan meninggikan derajatnya.

Janganlah kalian menyangka bahwa Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali rahimahullah mendapatkan kedudukan di sisi Ahlus Sunnah hanya karena beliau seorang profesor doktor saja, atau karena memiliki gelar-gelar akademik. 

Siapa yang menyangka demikian, maka ia keliru.

Sesungguhnya Allah mengangkat beliau karena sikap-sikapnya yang agung dan akhlaknya yang mulia.

Beliau adalah seorang ulama yang kokoh ilmunya, pemberi nasihat, seorang yang lantang dalam menyuarakan kebenaran, rendah hati, dermawan, wara’, zuhud terhadap dunia, mengamalkan sunnah, serta tekun beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Beliau mencintai Ahlus Sunnah meskipun mereka dari kalangan orang biasa, mendorong mereka, memuji mereka, serta membantah Ahlul Bid’ah dan bersikap tegas terhadap mereka, meskipun mereka memiliki gelar-gelar yang tinggi.

Asy Syaikh Ali Al Hudzaiifi hafizhahullah
Cuplikan ceramah "Wahai Ahlus Sunnah, waspadalah terhadap kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari Kiamat."
____
🛜 https://t.me/alistifadah
Sumber audio https://t.me/AliAlHuthaifi55/3183

[Read more]

𝐓𝐈𝐆𝐀 𝐏𝐈𝐋𝐀𝐑 𝐒𝐀𝐁𝐀𝐑 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐖𝐀𝐉𝐈𝐁 𝐃𝐈𝐌𝐈𝐋𝐈𝐊𝐈 𝐒𝐄𝐓𝐈𝐀𝐏 𝐌𝐔𝐒𝐋𝐈𝐌

Posted On // Leave a Comment
𝐓𝐈𝐆𝐀 𝐏𝐈𝐋𝐀𝐑 𝐒𝐀𝐁𝐀𝐑 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐖𝐀𝐉𝐈𝐁 𝐃𝐈𝐌𝐈𝐋𝐈𝐊𝐈 𝐒𝐄𝐓𝐈𝐀𝐏 𝐌𝐔𝐒𝐋𝐈𝐌

Berkata al-‘Allamah Shalih Alu Syaikh hafizhahullah:

أنواع الصبر الثلاثة: صبرٌ على الطاعة، وصبرٌ عن المعصية، وصبرٌ على قدر الله، كلها يحتاج إليها العالمون، العاملون، الدعاة.

Macam-macam sabar itu ada tiga:

• Sabar dalam menjalankan ketaatan
• Sabar dalam meninggalkan maksiat
• Sabar dalam menghadapi takdir Allah

Semua itu dibutuhkan oleh orang-orang yang berilmu, orang-orang yang beramal, dan para da’i.

Syarh Tsalatsatul Ushul (24)
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]

𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐒𝐄𝐌𝐔𝐀 𝐁𝐄𝐑𝐓𝐀𝐇𝐀𝐍: 𝐔𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐔𝐍𝐆𝐊𝐀𝐏 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐒𝐄𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑𝐍𝐘𝐀

Posted On // Leave a Comment
𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐒𝐄𝐌𝐔𝐀 𝐁𝐄𝐑𝐓𝐀𝐇𝐀𝐍: 𝐔𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐌𝐄𝐍𝐆𝐔𝐍𝐆𝐊𝐀𝐏 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐒𝐄𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑𝐍𝐘𝐀

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

لا يُعرف زيفُ الذَّهبِ إلا إذا أذبناهُ بالنَّار؛ ولا يُعرف طيبُ العود إلا إذا أحرقنَاهُ بالنَّار؛ أيضًا لا يُعرفُ المؤمنُ إلا بالابتلاءِ والامتحانِ، فعليكَ يا أخي بالصَّبرِ

“Tidak akan diketahui palsunya emas kecuali setelah dilebur dengan api.

Dan tidak akan diketahui harum dan baiknya kayu gaharu kecuali setelah dibakar dengan api.

Demikian pula, tidak akan diketahui (hakikat) seorang mukmin kecuali melalui ujian dan cobaan.

Maka hendaknya engkau, wahai saudaraku, bersabar.”

Tafsir Surat Al Baqarah, 3/41
____
🛜 https://t.me/alistifadah


[Read more]