Menjaga Lisan Hanya di Bulan Ramadhan?

Posted On // Leave a Comment
Menjaga Lisan Hanya di Bulan Ramadhan?

Kata-kata yang baik itu juga bentuk dari sedekah!

Begitu luas rahmat Allah untuk hamba-hamba Nya. Sekian banyak pintu-pintu sedekah dibuka olehNya. Sedekah tidak mesti dan tidak selalu dalam bentuk materi. Jika harus berbentuk materi, bukankah yang akan mampu bersedekah hanyalah mereka yang memiliki materi itu? Padahal tidak semua kita memilikinya.



Senyum ceria dan kata-kata yang baik ternyata bisa dipilih oleh siapapun untuk bersedekah. Kaya miskin, tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan, pimpinan dan bawahan serta siapa saja statusnya pasti bisa melakukannya. Nah, kira-kira adakah salah seorang di antara kita yang beralasan tidak mampu berkata-kata dengan baik?

Di dalam hadits Abu Hurairah (Bukhari 2707 Muslim 1009) Rasulullah menyatakan,

الكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَة
.
“Kata-kata yang baik itu juga sedekah”
Menjaga lisan agar tidak mengucapkan kata-kata kotor, dusta, adu domba, menipu ataupun ghibah senyatanya dapat dibiasakan melalui ibadah puasa. Seorang hamba yang sedang menjalani ibadah puasa, tentu “malas” untuk berbicara karena menahan lapar dan dahaga. Ia akan memilih untuk menghemat bicara. Kesempatan Ramadhan tahun ini, kenapa saja tidak kita manfaatkan untuk menjaga lisan? Bukankah lebih baik kita membiasakan untuk berkata-kata baik?

Nabi Muhammad bersabda di dalam hadits Abu Hurairah riwayat Bukhari (1903),

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه
.
“Barang siapa tidak bisa meninggalkan ucapan yang haram dan perbuatan haram, maka Allah tidak memiliki hajat darinya dengan meninggalkan makan dan minumnya”
Lihatlah bagaimana seharusnya seorang hamba yang berpuasa harus berbuat! Ia diwajibkan untuk menjaga lisan dan anggota badannya yang lain agar tidak mengucapkan atau melakukan sesuatu yang diharamkan.Hal ini sebenarnya tidak hanya berlaku ketika sedang berpuasa saja,bahkan di seluruh sisi kehidupan manusia. Hanya saja larangan ini semakin ditekankan ketika sedang berpuasa.

Jagalah lisan! Ucapkanlah kata-kata yang baik!

Al Imam Al Auza’i berpendapat bahwa perbuatan ghibah (menggunjing orang) dapat membatalkan puasa. Bahkan Al Imam Ibnu Hazm menilai semua bentuk maksiat dapat membatalkan puasa. Argumen beliau berdua adalah hadits Abu Hurairah di atas.

Beliau berdua juga beralasan dengan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad  di dalam Al Musnad (2/373),

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
.
“Alangkah banyak orang berpuasa,ia tidak memperoleh apa-apa kecuali hanya merasakan lapar dan dahaga saja”
Walaupun pendapat beliau berdua dinilai lemah oleh mayoritas ulama,akan tetapi hal ini semestinya menjadi rambu-rambu yang harus diperhatikan oleh seseorang yang sedang berpuasa.

Pendapat yang benar (pendapat mayoritas ulama) ; puasanya tetap sah.Ia tetap berhak mendapatkan dosa karena ghibah atau maksiat lainnya yang ia perbuat.Dengan perbuatan dosa itu,pahala dan keutamaan berpuasa pun berkurang.Sementara hadits-hadits yang disebutkan di atas tidak menunjukkan batalnya puasa,hanya sebatas berkurang pahalanya. (Majmu’ Syarhil Muhadzab 6/356)

Namun…jangan meremehkan!

Dalam kondisi yang tidak lazim saja,Nabi Muhammad tetap memerintahkan kita untuk menjaga lisan.Apapun alasannya,jangan sampai mengucapkan kata-kata kotor dan tidak baik.Nabi Muhammad menggambarkan kesabaran seorang hamba yang berpuasa untuk tetap menahan lisannya dengan bersabda,

إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا، فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، فَإِنِ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ
.
“Jika salah seorang di antara kalian tengah berpuasa, janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor atau kata-kata yang tidak baik. Apabila orang lain mencela atau mengajaknya berkelahi, hendaknya ia mengucapkan : Sungguh, aku sedang berpuasa. Sungguh, aku sedang berpuasa”
Subhaanallah!

Inilah pendidikan Islam! Jangan mudah terbawa emosi! Jangan cepat dikuasai amarah! Kita sedang berpuasa! Orang berpuasa itu tidak hanya menahan diri dari hal-hal yang bisa membatalkannya, namun juga harus menahan diri dari hal-hal yang bisa mengurangi pahala puasa. Mengumbar kata-kata yang tidak bermanfaat apalagi kata-kata yang membawa dosa termasuk sebab berkurangnya pahala puasa.

Sebulan penuh –tiga puluh atau dua puluh sembilan hari- tentunya rentang waktu yang cukup untuk berlatih menjaga lisan. Bayangkan saja…dalam setahun, kita memperoleh kesempatan yang sangat baik untuk berlatih menjaga lisan. Latihan menjaga lisan yang dilakukan di bulan Ramadhan tentunya diharapkan terus berjalan hasilnya di sepanjang tahun hingga Ramadhan tahun depan (jika Allah memberi kesempatan).

Ah…berapa banyak konflik yang terjadi di sekitar kita, bahkan konflik yang kita sendiri sebagai bagian darinya,bermula dari lisan yang tidak dijaga. Konflik rumah tangga sebagai misal yang sederhana. Bisa jadi sebuah perceraian adalah akhir dari sebuah candaan yang berlebihan dari seorang suami atau istri. Bukankah fakta ini tidak bisa terbantahkan?

Tawuran antar kampung atau antar pelajar hingga berakhir dengan pembunuhan, perusakan bangunan dan bakar-bakaran, bukankah sering terjadi hanya karena kata-kata terlepas yang tidak terkendali? Sungguh luar biasa ajaran Islam ini! Semua pintu yang menghantarkan menuju keburukan dan kerusakan benar-benar ditutup serapat-rapatnya.

Ya…menjaga lisan merupakan salah satu sebab terciptanya kedamaian, ketentraman dan keharmonisan. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad menerangkannya sebagai  salah satu karakter seorang mukmin di dalam sebuah hadits Abu Hurairah riwayat Bukhari dan Muslim,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
.
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, seharusnya ia berbicara kebaikan atau dia diam saja”
Pilihan kita hanya : berbicara yang baik atau diam! Adapun kata-kata yang mubah, boleh-boleh saja untuk diucapkan asalkan tidak melampau batas dan berlebihan. Mudah-mudahan kita meninggalkan Ramadhan tahun ini sambil membawa predikat hamba yang selalu berbicara baik atau diam. Wallahul muwaffiq

http://www.ibnutaimiyah.org/2013/07/menjaga-lisan-hanya-di-bulan-ramadhan/

0 komentar:

Posting Komentar