Rakyat Aceh Menumpas Pengkhianat Perjuangan Perang Sabil Yang Dikumandangkan Para Ulama “WAHABI” (Sekeping Sejarah Maklumat Bersama Ulama Serambi Mekah Teruntuk Pembenci Dakwah Tauhid)
RAKYAT ACEH MENUMPAS PENGKHIANAT PERJUANGAN PERANG SABIL YANG DIKUMANDANGKAN PARA ULAMA “WAHABI”
(SEKEPING SEJARAH MAKLUMAT BERSAMA ULAMA SERAMBI MEKAH TERUNTUK PEMBENCI DAKWAH TAUHID)
Sekilas Latar Belakang Keluarnya Maklumat Bersama Para Ulama Aceh untuk Mengumandangkan Perang Sabil
Pada makalah sebelumnya telah kita tampilkan salinan dokumen ketegasan para ulama Aceh dalam memfatwakan Perang Sabil melawan penjajah Belanda dan ketegasan mereka pula dalam melawan praktek-praktek menyimpang tanpa dalil yang diatasnamakan kepada Islam yang lebih populer dengan istilah memberantas Takhayul, Bid’ah dan Khurafat.
Tentulah dari sikap dan pernyataan tegas para ulama Aceh tersebut akan memunculkan barisan yang tidak menyukai dan bahkan menentangnya sampaipun dengan cara kekerasan yang mereka ini secara historis ternyata memiliki “kekerabatan” simbiosis mutualisme dengan penjajah Belanda.
Adapun hal-hal yang melatarbelakangi munculnya Maklumat Bersama Para Ulama Mengumandangkan Perang Sabil:
Rakyat Aceh Menumpas Pengkhianat Perjuangan Perang Sabil
Kaum Uleebalang Bergabung Bersama Gerakan Sayyid Ali As Saqaf & Ulama Adat untuk Membalas Dendam
Kesimpulan
Nampaklah jelas bagi kita sejarah perjuangan heroik rakyat Aceh yang dipimpin oleh para ulamanya dalam berjihad fi sabilillah melawan dan memerangi penjajah Belanda dan upaya dakwah tegas mereka dalam memerangi praktek-praktek menyimpang dalam beragama yang diistilahkan bisa merusakkan tekad ketauhidan dan perintah para ulama tersebut untuk meninggalkannya SECEPAT MUNGKIN.
Perjuangan para ulama tersebut mendapatkan tentangan dari kaum Uleebalang yang mereka memang mengharapkan datangnya (menurut istilah Panglima Polem) induk semangnya, yakni penjajah Belanda yang dengannya Uleebalang akan mendapatkan keuntungan-keuntungan duniawi/kekuasaan besar atas daerah masing-masing.
Kaum Uleebalang menunjukkan bukti darma bakti kesetiaannya kepada penjajah Belanda dengan membentuk pasukan tersendiri bernama BPK (Badan Penjaga Keamanan) dengan mengumpulkan para bekas anggota KNIL/serdadu Belanda, para tukang pukul dan bekas narapidana dari Medan sebagai tenaga intinya.
Praktek kekejaman (premanisme) yang mereka lakukan dengan cara membentuk BPK menjadi 3 barisan:
1. Barisan Cap Bintang dengan tugas membunuh rakyat yang tidak mau tunduk kepada kekuasaan BPK
2. Barisan Cap Sauh bertugas merampok harta rakyat, khususnya yang menjadi anggota barisan perjuangan kemerdekaan untuk membiayai BPK
3. Barisan Cap Cumbok bertugas untuk menangkap dan membunuh para cendekiawan yang membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia dan mereka juga menculik gadis-gadis sebagai pemuas nafsu para anggota BPK.
Maka (sekali lagi) nampaklah dengan jelas bahwa modus “perjuangan” Uleebalang adalah ingin memperoleh kekuasaan di Aceh dengan cara paksa dan kejam.
Namun demikian rakyat Aceh bersama komando para ulamanya akhirnya mampu menumpas barisan pengkhianat kejam tersebut.
Babak berikutnya bergabunglah sisa -sisa kaum Uleebalang bersama golongan ulama adat dalam gerakan Sayyid Ali As Saqqaf yang berakhir dengan ditangkapnya para tokohnya atas perintah Teungku Muhammad Daud Beureu’eh.
Gerakan terus berlanjut dengan upaya pemberantasan pemahaman dan keyakinan menyimpang yang biasa dipraktekkan dan diyakini oleh kaum adat dengan dikeluarkannya Maklumat Bersama Ulama Seluruh Aceh sebagaimana yang telah kita posting pada makalah yang lalu bahkan dihancurkannya gedung Huk tempat dilaksanakannya praktek ritual sesatnya.
Akankah muncul penerus kaum pengkhianat Perang Sabil yang bangkit lagi dengan membawa bendera Dendam Sejarah setelah kegagalan gerakan lampau pendahulunya dengan memakai kemasan “baju” yang lainnya?
Tetapi tentulah Ahlul Bathil takkan putus asa untuk terus berupaya menancapkan kuku keyakinan bathilnya di bumi serambi Mekah. Allahu a’lam.
Catatan Kaki:
Teungku Muhammad Daud Beureueh (lahir di Beureu’eh, kabupaten Pidie, Aceh, 17 September 1899 – meninggal di Aceh, 10 Juni 1987 pada umur 87 tahun) adalah mantan Gubernur Aceh dan pejuang kemerdekaan Indonesia.[1] Ia merupakan tokoh kontroversial yang populer di kalangan masyarakat Aceh.[1] Ia melakukan pemberontakan kepada pemerintah dengan mendirikan NII akibat ketidakpuasannya atas pemerintahan Soekarno.
Dan fitnah pemberontakan NII ini jelas tidak dibenarkan dalam pandangan syariat.
http://tukpencarialhaq.com/2015/06/26/rakyat-aceh-menumpas-pengkhianat-perjuangan-perang-sabil-yang-dikumandangkan-para-ulama-wahabi-sekeping-sejarah-maklumat-bersama-ulama-serambi-mekah-teruntuk-pembenci-dakwah-tauhid/
0 komentar:
Posting Komentar