Apa Makna Ucapan Ulama: Hadits Lemah Namun Maknanya Benar?

Posted On // Leave a Comment
📗Apa Makna Ucapan Ulama: Hadits Lemah Namun Maknanya Benar?

Kadangkala kita temukan ungkapan para Ulama yg menyatakan bahwa hadits ini lemah namun maknanya benar.  Apa maksudnya?

Artinya, hadits tersebut tidak bisa dinisbatkan dengan kalimat yang tegas sebagai ucapan Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam, namun kandungan maknanya benar, didukung oleh dalil lain, misalnya didukung oleh dalil ayat alQuran atau ijma' (kesepakatan) para Ulama.

Sebagai contoh, hadits berikut:

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa yang melazimkan (sering) istighfar, Allah akan menjadikan jalan keluar pada setiap kesempitan, pada setiap kesusahan ada solusi, dan Allah akan berikan rezeki dari arah yg tidak dia sangka.


Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan lainnya.

Syaikh Bin Baz menyatakan bahwa hadits ini lemah karena di dalam sanadnya ada perawi yg majhul (tidak dikenal), yaitu al-Hakam bin Mush'ab.

Namun maknanya benar, karena dalil-dalil ayat al-Qur'an lain yang mendukungnya. Seperti ayat:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ 

Dan beristighfarlah kepada Rabb kalian kemudian bertaubatlah kepadaNya, niscaya Allah akan memberikan kenikmatan hidup yg indah hingga waktu yg ditentukan dan Allah akan memberikan keutamaan kepada setiap pemilik keutamaan (Q.S Huud ayat 3)

Kemudian Syaikh Bin Baz menyatakan:

على كل حال فالحديث المذكور يصلح ذكره في الترغيب والترهيب ؛ لكثرة شواهده الدالة على فضل الاستغفار ، ولأن أكثر أئمة الحديث قد سهلوا في رواية الضعيف في باب الترغيب والترهيب ، لكن يُروى بصيغة التمريض كـ " يُروى " ، و " يُذكر " ، ونحوهما ، لا بصيغة الجزم 

Intinya, hadits tsb boleh disebutkan dalam targhib (memotivasi/ anjuran amal) dan tarhiib (ancaman) karena banyaknya penguat yg menunjukkan keutamaan istighfar. Karena kebanyakan Imam hadits memberikan kemudahan dalam meriwayatkan hadits lemah dlm targhib dan tarhib. Akan tetapi penyebutan riwayat itu disebutkan dengan bentuk 'tamridh' (tdk tegas) seperti dikatakan: diriwayatkan atau disebutkan atau semisalnya, tidak dgn bentuk jazm (penegasan bhw Rasul memang benar-benar mengucapkannya, pent) (Majmu Fatawa Ibn Baz (26/259)).

Yg disebutkan Syaikh Bin Baz ini adalah dalam hadits yg kelemahannya ringan. Sedangkan jika sangat lemah, maka sama sekali tidak bisa disebut.

Sedangkan sebagian Ulama seperti Syaikh al-Albaniy memandang bahwa jika sesuatu hadits itu lemah, tidak perlu disebut dgn hadits, krn dalil-dalil yg shohih sdh mencukupinya.

Wallaahu A'lam.

(Abu Utsman Kharisman)

••••••••••••••••••••••
WA SALAFY NUSANTARA

✆ WA Al Istifadah ※ WALIS ✆
✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧

🛅➠http://walis-net.blogspot.com/p/depan.html

0 komentar:

Posting Komentar