Sekilas tentang))🔸••• 🚧 JARH ⚠

Posted On // Leave a Comment
Sekilas tentang))🔸•••

🚧 JARH ⚠


▪📮PERTANYAAN:______

🔻Terkait artikel di bawah ini,ada yang ingin ana tanyakan,Ustadz👇


🌿🌟🌿🌟

بسم الله الرحمن الرحيم
والصلاة والسلام علی النبي الكريم وعلی آله وصحبه أجمعين. أما بعد:

🌿 AlKhothib telah menyebutkan dalam Tarikh Baghdad (8/374), bahwasanya tatkala Dawud alAsh-bahaany azhZhahiry menginjakkan kaki di Baghdad, dan ketika itu terjadi dialog antara dia dengan Shalih bin Ahmad Hasan.

✅ Dia berbicara kepada Shalih agar berbuat baik kepadanya dalam meminta idzin untuk bertemu bapaknya. Lalu Shalih menemui bapaknya dan berkata: Ada seseorang memintaku untuk (mengizinkan) menemui anda.
Ahmad Hasan bertanya: Siapa namanya?
Shalih menjawab: Dawud
Ahmad bertanya: Darimana?
Shalih menjawab: Dia termasuk penduduk Ash-bahan
Ahmad bertanya: Apa yang telah engkau lakukan padanya?
Shalih menjawab dalam keadaan mondar-mandir untuk memperkenalkan (jati diri Dawud) kepada bapaknya. Maka Abu Abdillah terus memeriksanya hingga benar-benar memahami keadaannya. Lalu dia berkata: "Orang ini adalah orang yang Muhammad bin Yahya anNaisabury telah menulis kepadaku tentang perihalnya bahwasanya dia beranggapan bahwa alQuran adalah sesuatu yang baru.

🚧❓Maka janganlah dia mendekatiku. "
Shalih berkata: Wahai ayahanda, dia menafikkan berita ini dan mengingkarinya.
Maka Abu Abdillah menjawab: Muhammad bin Yahya lebih jujur darinya. Maka jangan kau izinkan dia sedikitpun untuk menemuiku".
-selesai-

🍯👉Ucapan beliau:
(( "Orang ini adalah orang yang Muhammad bin Yahya anNaisabury telah menulis kepadaku tentang perihalnya bahwasanya dia beranggapan bahwa alQuran adalah sesuatu yang baru. Maka janganlah dia mendekatiku. "
Shalih berkata: Wahai ayahanda, dia menafikkan berita ini dan mengingkarinya.
Maka Abu Abdillah menjawab: Muhammad bin Yahya lebih jujur darinya. Maka jangan kau izinkan dia sedikitpun untuk menemuiku)),

🌿📕Maka dalam atsar itu terdapat faidah bahwa seorang Alim yang kokoh ilmunya lagi memahami sebab-sebab jarh, diambil ucapannya meskipun tidak muncul jarh tersebut dari orang alim yang lain.

🌿📗Faedah ini menyelisihi apa yang diucapkan oleh sebagian orang yang jahil yang mengatakan: "Kami akan menunggu ucapan orang Alim yang lain". Dan yang lain mengatakan: "Kami akan menunggu ucapan orang Alim yang ketiga". Dan yang lain mengatakan: "Kami akan menunggu ucapan dari ulama negeri ini dan itu". Demikian seterusnya. Ini adalah cara orang menunggu sesuatu yang sesuai hawa nafsunya dan pemiliknya tidak mencocokinya.

✅ Berkata asySyaikh Robi' alMadkholy:
"Jika para imam sudah menyampaikan sebuah jarh yang mufassar (teperinci), dan meskipun hanya satu imam yang menyampaikan jarh yang teperinci, maka itu sudah mencukupi kita. Dan telah berlalu (penjelasannya) kepada kalian bahwa jika ada seorang yang men-jarh dengan jarh yang mu'tabar (teranggap, terakui) dan datang orang yang menentangnya dan mentazkiyah orang yang di-jarh maka orang itu akan gugur dan gugur pula ucapannya". -selesai-
📚 (Dikutip dari Majmu' Kutubi war Rosail: 5/145)

📝 Ditulis oleh:
(Syaikh) Abul Abbas Yasin bin Ali alAdeny pada hari Jumat yang bertepatan dengan 18 Rabiul Awal 1436 H, di Makkah alMukarromah

🌟Wallaahu A'lam

WA 🌠 Ashhabus Sunnah 💫



👆📮Pertanyaannya:_____

🔻bila Dawud azh-Zhahiri sudah di Jarh oleh al-Imam Ahmad,kenapa dia masih di"imamkan"oleh ahlus sunnah?


▪📬JAWABAN:__________


🔻Sebatas yg ana pahami dari penjelasan beberapa Ulama:

Pertama, kaidah yg disampaikan Syaikh Yasin al-Adaniy tersebut benar, sebagaimana juga penjelasan Syaikh Robi' yg beliau nukil, bahwa cukup satu jarh mufassar yg mu'tabar, tdk perlu mencari-cari penilaian 'alim yg lain. Buktinya al-Imam Ahmad mencukupkan dari penilaian Muhammad bin Yahya terhadap Dawud adz-Dzhaahiriy. Dan kisah itu juga disebutkan al-Imam adz-Dzahabiy dalam Siyar A'lamin Nubalaa'.

Kedua, bisa jadi Dawud adz-Dzahiriy telah bertaubat dari pemikiran yg sesat ttg al-Quran. Buktinya beliau menolak jika dikatakan berpendapat demikian ketika ditanya oleh Shalih putra Ahmad bin Hanbal.

Ketiga, bisa jadi saat itu masih pada masa-masa fitnah atau baru sedikit mereda masa fitnah ttg pemikiran bahwa alQuran adalah makhluk, maka al-Imam Ahmad tidak mau menerima Dawud adz-Dzahiriy adalah sebagai bentuk pemberian pelajaran kepadanya meski ia sudah terlihat bertaubat secara lisan. Sebagaimana Umar bin al-Khottob tidak membiarkan kaum muslimin mendekati Shabigh meski ia mengaku bahwa telah hilang syubhat dalam kepalanya. Ada masa waktu yg lama antara bertaubatnya seseorang dari pemikiran sesat dgn mulainya ia bisa diterima di tengah masyarakat setelah benar-benar menunjukkan bukti kesungguhan taubatnya.

Keempat, bisa jadi setelah al-Imam Ahmad meninggal, Dawud adz-Dzahiriy dilihat oleh para Ulama lain telah bersungguh-sungguh bertaubat dari pemikiran sesat tersebut. Dawud adz-Dzahiriy meninggal 29 tahun setelah meninggalnya al-Imam Ahmad.

Itu beberapa penjelasan dan ihtimaal (kemungkinan) untuk memahami hal tersebut.

Wallaahu A'lam

▪📥ust. Abu Utsman Kharisman
____________________________
📲Turut memublikasikan ⇲
۞ مجمـــــــــــوعة الاســـــــــــتقامة ۞

0 komentar:

Posting Komentar