Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:
ุงูุฑุฌู ูุฃูู ุงูุทุนุงู
ุดููุฉ ููุท، ูุงูุฑุฌู ุงูุขุฎุฑ ูุฃูู ุงูุทุนุงู
ุงู
ุชุซุงูุงً ูุฃู
ุฑ ุงููู ูู ูููู : {ُُูููุง َูุงุดْุฑَุจُูุง } ، ูุตุงุฑ ุฃูู ุงูุซุงูู ุนุจุงุฏุฉ، ูุฃูู ุงูุฃูู ุนุงุฏุฉ. ูููุฐุง ูุงู ุจุนุถ ุฃูู ุงูุนูู
ุนุจุงุฏุงุช ุฃูู ุงูุบููุฉ ุนุงุฏุงุช ، ู ุนุงุฏุงุช ุฃูู ุงูููุธุฉ ุนุจุงุฏุงุช.
Seseorang makan karena semata-mata ingin menikmati makanan. Sementara orang yang lain makan dengan niat menjalankan perintah Allah dalam firman-Nya:
َُُููููุง َูุงุดْุฑَุจُูุง ََููุง ุชُุณْุฑُِููุง ۚ ุฅَُِّูู َูุง ُูุญِุจُّ ุงْูู
ُุณْุฑَِِููู
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya, Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
(QS. Al-A‘raf: 31)
Maka, makan yang dilakukan oleh orang kedua menjadi ibadah, sedangkan makan orang pertama hanya menjadi kebiasaan.
Karena itulah sebagian ulama mengatakan:
ุนِุจَุงุฏَุงุชُ ุฃَِْูู ุงْูุบََْููุฉِ ุนَุงุฏَุงุชٌ، َูุนَุงุฏَุงุชُ ุฃَِْูู ุงََْูููุธَุฉِ ุนِุจَุงุฏَุงุชٌ
“Ibadah orang-orang yang lalai hanyalah kebiasaan, sedangkan kebiasaan orang-orang yang sadar menjadi ibadah.”
Syarh Al-Arba‘in An-Nawawiyyah, hlm. 13
____
๐ https://t.me/alistifadah
0 komentar:
Posting Komentar