Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah berkata:
ΩΩΨ³ ΩΩ
Ψ§Ω Ψ§ΩΨͺΨ―ΩΩ Ψ¨Ψ₯ΨͺΨΉΨ§Ψ¨ Ψ§ΩΩΩΩΨ³ ΩΩ Ψ§ΩΨΉΨ¨Ψ§Ψ―Ψ© ΩΨ§ΩΨ¨ΨΉΨ― ΨΉΩ Ω
ΩΨ§Ψ° Ψ§ΩΨ―ΩΩΨ§ Ψ§ΩΩ
Ψ¨Ψ§ΨΨ©، ΩΨ·Ψ±ΩΩΨ© Ψ§ΩΩΨ¨Ω Ψ΅ΩΩ Ψ§ΩΩΩ ΨΉΩΩΩ ΩΨ³ΩΩ
Ψ£ΩΩ
Ω Ψ·Ψ±ΩΩΨ©؛ ΩΩ
Ψ§ ΨͺΨ΄ΨͺΩ
Ω ΨΉΩΩΩ Ω
Ω Ψ₯ΨΉΨ·Ψ§Ψ‘ Ψ§ΩΩΩΨ³ ΨΨΈΩΨ§ Ω
Ω Ψ§ΩΨ±Ψ§ΨΨ© ΩΨ§ΩΩΨ°Ψ§Ψ¦Ψ° Ψ§ΩΩ
Ψ¨Ψ§ΨΨ© Ω
ΨΉ Ψ§ΩΨͺΨΉΨ¨Ψ― ΩΩΩ ΨΉΨ² ΩΨ¬Ω.
"Kesempurnaan dalam beragama bukanlah dengan memberatkan diri dalam ibadah dan menjauhi berbagai kenikmatan dunia yang mubah.
Sebab, jalan hidup Nabi ο·Ί adalah jalan yang paling sempurna, karena di dalamnya terdapat sikap memberikan hak kepada diri untuk mendapatkan istirahat dan menikmati berbagai kenikmatan yang dihalalkan, bersamaan dengan beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla."
Tanbihul Afham bi Syarhi 'Umdatil Ahkam, hlm. 793
____
π https://t.me/alistifadah
0 komentar:
Posting Komentar