Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:
Ψ«Ω
ΩΨΈΨ±Ψͺ ΩΩ Ψ§ΩΨͺΨ¬Ψ§Ψ±، ΩΨ±Ψ£ΩΨͺΩΩ
ΩΨ― ΨΊΩΨ¨ ΨΉΩΩΩΩ
Ψ§ΩΨΨ±Ψ΅، ΨΨͺΩ ΩΨ§ ΩΨ±ΩΩ Ψ³ΩΩ ΩΨ¬ΩΩ Ψ§ΩΩΨ³Ψ¨، ΩΩΩ ΩΨ§ΩΨͺ، ΩΨ΅Ψ§Ψ± Ψ§ΩΨ±Ψ¨Ψ§ ΩΩ Ω
ΨΉΨ§Ω
ΩΨ§ΨͺΩΩ
ΩΨ§Ψ΄ΩًΨ§، ΩΩΨ§ ΩΨ¨Ψ§ΩΩ Ψ£ΨΨ―ΩΩ
Ω
Ω Ψ£ΩΩ ΨͺΨΨ΅Ω ΩΩ Ψ§ΩΨ―ΩΩΨ§! ΩΩΩ
ΩΩ Ψ¨Ψ§Ψ¨ Ψ§ΩΨ²ΩΨ§Ψ© Ω
ΩΨ±ΩΨ·ΩΩ، ΩΩΨ§ ΩΨ³ΨͺΩΨΨ΄ΩΩ Ω
Ω ΨͺΨ±ΩΩΨ§، Ψ₯ΩΨ§ Ω
Ω ΨΉΨ΅Ω
Ψ§ΩΩΩ
Kemudian aku melihat para pedagang, ternyata yang mendominasi mereka adalah ketamakan dan ambisi berlebihan, sampai-sampai yang mereka lihat hanyalah sisi-sisi keuntungan, bagaimana pun caranya.
Riba pun menjadi sesuatu yang tersebar luas dalam transaksi mereka. Salah seorang dari mereka tidak lagi peduli dari mana dunia (harta) itu ia peroleh!
Adapun dalam perkara zakat, mereka banyak yang meremehkannya, bahkan tidak merasa bersalah ketika meninggalkannya, kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah.
Shayd al-Khathir karya Ibn al-Jawzi (hlm. 69)
____
π https://t.me/alistifadah
0 komentar:
Posting Komentar