Bolehkah Shalat Tahajjud Sesudah Witir
Fatwa Syaikh Ibnu Baz -rahimahullah-
Pertanyaan:
"Jika aku telah shalat Witir di awal malam, kemudian di akhir malam akan bangun, bagaimana aku shalat malam?"
-----
Jawaban:
"Jika anda telah shalat Witir di awal malam, kemudian Allah memudahkan untuk qiyamullail di akhir malam, maka shalatlah dua rakaat-dua rakaat yang terasa mudah bagi anda, tanpa shalat Witir. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ
"Tidak ada dua witir dalam satu malam."*
Juga berdasarkan riwayat shahih dari Aisyah radhiallahu anha, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasanya shalat dua rakaat setelah witir dalam keadaan duduk. Hikmah dari perbuatan tersebut untuk menjelaskan kepada umatnya tentang dibolehkannya shalat setelah shalat Witir.
(Lihat Majmu Fatawa Syaikh Ibnu Baz: 11/211, Fatawa Islamiyah: 1/339)
--------------------------------------------
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan shalat malamnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ثم يقوم فيصلي التاسعة , ثم يقعد فيذكر الله ويمجده ويدعوه, ثم يسلم تسليماً يسمعنا , ثم يصلي ركعتين بعد ما يسلم وهو قاعد
“Kemudian beliau bangun untuk melaksanakan rakaat kesembilan, hingga beliau duduk tasyahud, beliau memuji Allah dan berdoa. Lalu beliau salam agak keras, hingga kami mendengarnya. Kemudian beliau shalat dua rakaat sambil duduk.” (HR. Muslim 746)
Imam An-Nawawi mengatakan:
Yang benar, dua rakaat yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah witir dalam posisi duduk adalah dalam rangka menjelaskan bahwa boleh shalat setelah witir, dan menjalaskan boleh shalat sunah sambil duduk, meskipun itu tidak beliau jadikan kebiasaan. Namun beliau lakukan sesekali atau beberapa kali.
(Lihat Syarh Shahih Muslim, 6:21).
-------
Syekh Ibn Baz menjelaskan tentang hikmah dibalik shalatnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam dua rakaat setelah witir:
"Hikmah dalam masalah tersebut, wallahua'lam, untuk menjelaskan kepada manusia, dibolehkannya shalat setelah shalat Witir."
(Lihat Fatawa Islamiyah, 1/339)
___________________
* (HR. Tirmidzi no. 470, Abu Daud no. 1439, An Nasa-i no. 1679. dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)
__________________________________________
Apakah shalat witir lagi ketika seseorang sudah melakukannya di awal malam dan terbangun pada sepertiga malam terakhir?
Tanya:
Bismillah, afwan ustadz.
Ana mau tanya, Seseorang yang telah shalat witir di awal malam (khawatir tidak terbangun), kemudian terbangun di 2/3 malam dan shalatul lail. Apakah shalat witir lagi?
Mohon nasehatnya ustadz. Jazakallah khaer. Barakallah fiik.
.................
Jawab [oleh Ust Askary]
:
Jika sudah shalat witir di awal malam, boleh shalat malam jika terbangun, dan tidak perlu shalat witir lagi. Wallahul muwaffiq.
http://www.thalabilmusyari.web.id/2013/06/apakah-shalat-witir-lagi-ketika.html
_______________________
Apakah diperbolehkan shalat witir satu rakaat dilanjut dua rokaat ?
Jawaban:
Boleh. Nabi pernah sholat witir 7 rokaat, kemudian sholat dua rokaat. Artinya, beliau pernah tidak menjadikan sholat witir sebagai akhir sholat malam.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِتِسْعٍ حَتَّى إِذَا بَدَّنَ وَكَثُرَ لَحْمُهُ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ
Dari Abu Umamah –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam berwitir dengan 9 rokaat hingga ketika menjadi gemuk tubuh beliau, beliau berwitir dengan 7 rokaat dan sholat dua rokaat (kemudian) dalam keadaan duduk (H.R Ahmad)
Beliau juga pernah sholat 9 rokaat kemudian setelah itu 2 rokaat.
وَيُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ فِيهَا إِلَّا فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّ التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ وَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَة
Dan Nabi sholat 9 rokaat, tidak duduk (tasyahhud awal) kecuali pada rokaat ke-8, kemudian mengingat Allah, memujiNya, dan berdoa, kemudian bangkit tidak salam, kemudian berdiri untuk (rokaat) ke-9 kemudian duduk mengingat Allah memujiNya, berdoa, kemudian mengucapkan salam memperdengarkan kepada kami, kemudian beliau sholat 2 rokaat setelah salam dalam keadaan duduk. Itu adalah 11 rokaat (H.R Muslim no 1233 dari Aisyah)
Namun, secara asal, yang utama adalah menjadikan sholat witir (ganjil) sebagai penutup sholat malam.
اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
Jadikanlah akhir sholat kalian di waktu malam adalah witir (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar)
Sholat malam itu total jumlah rokaatnya semestinya ganjil. Adakalanya genap-genap diakhiri ganjil, dan ini yang utama. Adakalanya ganjil kemudian genap. Adakalanya pula ganjil saja, misalkan sholat 3 rokaat langsung, atau 5 rokaat langsung, atau 7 rokaat langsung, atau 9 rokaat langsung. Kalau melakukan 3, atau 5, atau 7 rokaat, tasyahhudnya hanya sekali, dan itu di akhir. Sedangkan untuk 9 rokaat, ada dua kali tasyahhud: di rokaat ke 8 tasyahhud awal, kemudian berdiri satu rokaat lagi kemudian tasyahhud, kemudian salam. Sebagaimana tersebut dalam hadits Aisyah riwayat Muslim di atas.
(Faedah dari Ust Abu Utsman Kharisman)
Bolehkah Shalat Tahajjud Sesudah Tarawih / Witir
Labels:
ramadhan
0 komentar:
Posting Komentar