MUHAMMAD BIN ABDIL WAHHAB AN-NAJDI BUKANLAH KHAWARIJ (Bag ke-2)

Posted On // Leave a Comment
๐Ÿ“MUHAMMAD BIN ABDIL WAHHAB AN-NAJDI BUKANLAH KHAWARIJ (Bag ke-2)

✅Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab adalah Mengajak untuk Ittiba’ (Mengikuti) Rasul, Bukan Fanatik pada Individu Lain

Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah mempertegas arah dakwah beliau, yang tidak lain adalah dakwah Rasul shollallahu alaihi wasallam, dakwah Ahlussunnah wal Jamaah:

ูˆู„ุณุช ูˆู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ ุฃุฏุนูˆ ุฅู„ู‰ ู…ุฐู‡ุจ ุตูˆููŠ ุฃูˆ ูู‚ูŠู‡ ุฃูˆ ู…ุชูƒู„ู… ุฃูˆ ุฅู…ุงู… ู…ู† ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ุฐูŠู† ุฃุนุธู…ู‡ู… ู…ุซู„ ุงุจู† ุงู„ู‚ูŠู… ูˆุงู„ุฐู‡ุจูŠ ูˆุงุจู† ูƒุซูŠุฑ ูˆุบูŠุฑู‡ู…، ุจู„ ุฃุฏุนูˆ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ูˆุญุฏู‡ ู„ุง ุดุฑูŠูƒ ู„ู‡ ูˆุฃุฏุนูˆ ุฅู„ู‰ ุณู†ุฉ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุงู„ุชูŠ ุฃูˆุตู‰ ุจู‡ุง ุฃูˆู„ ุฃู…ุชู‡ ูˆุขุฎุฑู‡ู… ูˆุฃุฑุฌูˆ ุฃู†ูŠ ู„ุง ุฃุฑุฏ ุงู„ุญู‚ ุฅุฐุง ุฃุชุงู†ูŠ، ุจู„ ุฃุดู‡ุฏ ุงู„ู„ู‡ ูˆู…ู„ุงุฆูƒุชู‡ ูˆุฌู…ูŠุน ุฎู„ู‚ู‡ ุฅู† ุฃุชุงู†ุง ู…ู†ูƒู… ูƒู„ู…ุฉ ู…ู† ุงู„ุญู‚ ู„ุฃู‚ุจู„ู†ู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุฑุฃุณ ูˆุงู„ุนูŠู†، ูˆู„ุฃุถุฑุจู† ุงู„ุฌุฏุงุฑ ุจูƒู„ ู…ุง ุฎุงู„ูู‡ุง ู…ู† ุฃู‚ูˆุงู„ ุฃุฆู…ุชูŠ ุญุงุดุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠู‚ูˆู„ ุฅู„ุง ุงู„ุญู‚

Saya Alhamdulillah tidaklah mengajak pada madzhab Sufi, atau (madzhab) seorang faqih, atau Ahli filsafat, atau salah seorang Imam yang saya mulyakan, seperti Ibnul Qoyyim, adz-Dzahabiy, Ibnu Katsir, dan selain mereka. Tapi saya berdakwah kepada Allah semata tidak ada sekutu bagiNya dan saya berdakwah (mengajak) kepada Sunnah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam yang Nabi telah mewasiatkan dengannya kepada seluruh umat beliau baik yang pertama maupun terakhir. Dan saya berharap saya tidak akan menolak al-haq jika datang kepada saya. Bahkan saya menjadikan Allah, Malaikat, dan seluruh makhluk saksi bahwa jika datang kepada kami (hujjah) dari kalian berupa kalimat al-haq sungguh saya akan menerimanya dengan sukarela, dan saya akan lemparkan ke dinding ucapan para Imam saya yang menyelisihinya, selain Rasulullah shollallahu alaihi wasallam karena beliau tidaklah berkata kecuali al-haq (kebenaran)(Muallafaat Ibn Abdil Wahab (1/252)).

ุฅู†ูŠ ูˆู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ ู…ุชุจุน ูˆู„ุณุช ุจู…ุจุชุฏุน ุนู‚ูŠุฏุชูŠ ูˆุฏูŠู†ูŠ ุงู„ุฐูŠ ุฃุฏูŠู† ุจู‡ : ู…ุฐู‡ุจ ุฃู‡ู„ ุงู„ุณู†ุฉ ูˆุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุงู„ุฐูŠ ุนู„ูŠู‡ ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ู…ุซู„ ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ ูˆุฃุชุจุงุนู‡ู… ุฅู„ู‰ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ

Sesungguhnya aku Alhamdulillah adalah orang yang ittiba’ (mengikuti Nabi) bukan yang membuat kebid’ahan. Akidah dan Dienku yang dengannya aku berpegangteguh (dan mengamalkan) adalah madzhab Ahlussunnah wal Jamaah yang dijalani oleh para Imam kaum muslimin seperti Imam 4 (madzhab fiqh,pent) dan pengikut mereka hingga hari kiamat (arRosaail asy-Syakhshiyyah hal 149)

Bukti yang sangat jelas bahwa para Ulama Ahlussunnah sepeninggal beliau (yang disebut sebagai ‘Wahabi’ oleh pihak yang memusuhinya) tidak taklid buta kepada beliau adalah: jika para Ulama itu mensyarah (memberi penjelasan) terhadap kandungan Kitab-Kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, kemudian didapati adanya hadits yang lemah yang beliau sebutkan, maka akan dijelaskan bahwa hadits itu lemah menurut pendapat Ulama lain yang lebih diyakini kebenarannya, karena hujjahnya lebih kuat. Tidak karena yang menulis adalah seorang Imam, kemudian dia diyakini tidak akan pernah salah. Tidak demikian. Para Ulama Ahlussunnah konsisten dalam meluruskan dakwah itu ittiba’ kepada Rasul, bahwa Rasul satu-satunyalah yang mutlak diikuti, sedangkan yang lain bisa diambil jika sesuai Rasul, dan ditolak jika bertentangan dengan bimbingan Rasul.

✅PENUTUP

Nampak jelas dari paparan di atas bahwa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab bukanlah dakwah Khawarij. Bahkan dakwah beliau adalah dakwah Ahlussunnah. Jika pembaca mengkaji dengan seksama karya-karya beliau dengan bimbingan Ulama Ahlussunnah sepeninggal beliau, maka akan semakin jelas dan terang kebenaran hal itu. Begitu banyak karya beliau yang sarat dengan manfaat bagi kaum muslimin, seperti Kitabut Tauhid, Tsalaatsatul Ushuul, Ushulus Sittah, Tafsir Surat al-Fatihah, al-Ikhlash, dan al-Muawwidzatain, juga pembahasan-pembahasan fiqh seperti Aadabul masyiyyi ilas sholaah, Kitaabuz Zakaah, Kitaabus Shiyaam, atau pembahasan tentang dosa-dosa besar seperti kitab beliau al-Kabaair.

Namun, jika seseorang mengkajinya sendiri tidak dengan bimbingan Ulama Ahlussunnah, atau dia mengkaji dari pihak yang memusuhi dakwah Tauhid, dengan menukil sepotong-sepotong kalimat Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab, apalagi diterjemahkan secara salah, dengan niat ingin memperburuk gambaran beliau di hadapan umat, atau menafsirkan ucapan beliau tidak pada tempatnya, maka bukanlah faidah ilmiyyah yang akan didapatkannya. Semoga Allah memberikan hidayah kepadanya.

Kebanyakan tuduhan bahwa beliau suka mengkafirkan dan berpemahaman Khawarij terjadi karena nukilan ucapan beliau tentang takfir al-‘amal dipahami dan ditafsirkan sebagai takfir muayyan. Hal ini sama dengan jika seseorang menukil pendapat al-Imam Ahmad yang menyatakan:

 ู…َู†ْ ู‚َุงู„َ : ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ُ ู…َุฎْู„ُูˆْู‚ٌ ูَู‡ُูˆَ ูƒَุงูِุฑٌ

Barangsiapa yang berkata bahwa al-Quran adalah makhluk, maka dia kafir (diriwayatkan al-Aajurriy dalam asy-Syarii’ah no 171)).

Itu adalah takfir al-fi’il/ al-‘amal. Sebagai suatu kaidah bahwa barangsiapa yang mengucapkan al-Quran adalah makhluk maka ia telah mengucapkan ucapan kekafiran.

Ucapan tersebut adalah ucapan kekafiran. Lalu, apakah predikat kafir otomatis disematkan kepada setiap orang yang mengucapkannya? Tidak selalu. Harus dilihat apakah orang itu memiliki udzur atau tidak. Dan pembedaan ini diterapkan oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal.
Imam Ahmad tidak mengkafirkan Khalifah al-Makmun yang secara tegas menyuruh untuk menanamkan akidah bahwa alQuran adalah makhluk dan menyiksa para Ulama’ lain yang menolak hal itu. Jelas hal itu adalah akidah kekafiran, namun tiga Khalifah yaitu al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Watsiq tidak dikafirkan oleh para Ulama’ pada waktu itu karena mereka memiliki syubhat dan pentakwilan yang menyimpang karena berteman dekat dengan tokoh-tokoh Mu’tazilah. Mereka adalah orang-orang yang sekedar ikut-ikutan, belum sepenuhnya memahami hakikat permasalahan (Lihat penjelasan Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalu Syaikh dalam Ithaafus Saa-il bimaa fit thohaawiyyah minal masaa-il (26/13)).

Maka jika didapati ucapan-ucapan pengkafiran dalam karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, ketahuilah bahwa itu adalah takfir al-‘amal, sebagai suatu kaidah bahwa yang melakukannya atau mengerjakannya berarti ia telah melakukan atau mengucapkan kekufuran atau kesyirikan, bukan berarti individunya divonis kafir/ musyrik tanpa melihat syarat dan udzur mereka. Jika seseorang membaca karya beliau dan mengambil kesimpulan bahwa beliau berpemahaman takfiri (suka mengkafirkan orang Islam), maka ia telah salah fatal dalam mengambil kesimpulan.
Demikian penjelasan ini, semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq, dan pertolonganNya kepada segenap kaum muslimin…

(Abu Utsman Kharisman)

๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก

WA al-I'tishom
▦◈▦◈▦◈▦◈▦◈▦◈▦◈▦◈▦◈▦◈▦◈▦◈▦◈▦

๐Ÿ“ฒ【••WALIS ⊙ WA Al-Istiqomah••】

๐Ÿ’ปhttp://walis-net.blogspot.com/p/depan.html?m=1

0 komentar:

Posting Komentar