HUKUM BERSAFAR DENGAN TUJUAN SHALAT JUMAT

Posted On // Leave a Comment

HUKUM BERSAFAR DENGAN TUJUAN SHALAT JUMAT

Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah ditanya:

Bolehkah seorang yang muqim (tidak bersafar) bepergian untuk shalat Jum'at di daerah yang lain?

Beliau menjawab dengan perkataannya: Apabila tujuan safarnya itu untuk mengagungkan tempat itu, maka haram. Karena tidak boleh bepergian kecuali ke tiga masjid.

Adapun jika tujuan safarnya untuk mendapatkan manfaat dari khutbah seorang khatib, dikarenakan  khutbahnya berfaedah, maka tidak mengapa. Sebab ini safar (bepergian)  untuk menuntut ilmu dan bukan safar untuk mengagungkan masjid.

Berdasarkan ini, sekiranya khatib ini pindah ke daerah  lain, maka dia mengikutinya.

Majmu' Fatawa Wa Rasail al 'Utsaimin 16/52

http://t.me/ukhwh

 السفر من أجل صلاة الجمعة

سئل فضيلة الشيخ الشيخ محمد بن صالح العثيمين - رحمه الله تعالى -: هل يجوز للمقيم أن يسافر ويصلي الجمعة في بلد آخر؟

فأجاب بقوله: إن كان قصده تعظيم المكان فهو حرام؛ لأنه لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد.

أما إذا كان قصده الانتفاع بخطبة الخطيب؛ لأنها خطبة مفيدة فلا بأس. فهذا سافر للعلم، ولم يسافر للمسجد. ولهذا لو انتقل هذا الخطيب إلى بلد آخر تبعه. 
مجموع فتاوى ورسائل العثيمين (16/52)

[Read more]

HUKUM MENJAWAB SALAM PENYIAR DAN PENULIS MEDIA INFORMASI

Posted On // Leave a Comment

HUKUM MENJAWAB SALAM PENYIAR DAN PENULIS MEDIA INFORMASI

Syaikh Shalih bin Fawzan al Fawzan ditanya

Apabila penyiar di TV atau radio atau penulis di majalah mengucapkan salam, wajibkah menjawab ketika kondisi seperti ini?

Jawaban:
Wajib menjawab salam ketika seseorang mendengar langsung ucapan salam atau melalui media yang ditujukan kepada pendengar berdasarkan keumuman dalil wajibnya menjawab salam.

Al Muntaqa Min Fatawa al Fawzan 8/63

https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=158278

💾http://t.me/ukhwh

وسئل الشيخ صالح الفوزان :

إذا سلَّم المذيع في التليفزيون أو الإذاعة أو سلَّم الكاتب في المجلة ، فهل يجب رد السلام والحالة هذه ؟

فأجاب :

" يجب رد السلام إذا سمعه الإنسان مباشرة ، أو بواسطة كتاب موجه إليه ، أو بواسطة وسائل الإعلام الموجهة إلى المستمعين ؛ لعموم الأدلة في وجوب رد السلام " انتهى .

"المنتقى من فتاوى الفوزان" (63/8)

[Read more]

BERNIAT UNTUK MELAKUKAN MAKSIAT, APAKAH BERDOSA?

Posted On // Leave a Comment

📉🚪💎 BERNIAT UNTUK MELAKUKAN MAKSIAT, APAKAH BERDOSA?

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah

❓ Tanya :
Jika seseorang berniat melakukan kejelekan kemudian batal melakukannya. Apakah dicatat baginya satu kejelekan atau tidak?

✅ Jawab :
Datang sebuah hadits :

"Jika seseorang berniat untuk melakukan kejelekan kemudian batal melakukannya, maka ditulis untuknya satu kebaikan."
(HR. Bukhari : 7/178, dari hadits Ibnu Abbas -radhiyallahu 'anhu-, ini merupakan potongan dari sebuah hadits qudsi)

☝️ Ini jika ia meninggalkan perbuatan tersebut karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

☝️ Adapun jika ia meninggalkannya karena tidak mampu melakukannya, sedangkan ia masih berniat melakukannya jika ada kemampuan, maka ia berdosa disebabkan niatnya. Ini sebagaimana  ditunjukkan oleh beberapa hadits, diantaranya adalah :

"Jika dua orang muslim berkelahi dengan pedang-pedangnya, maka si pembunuh dan yang dibunuh masuk neraka."
Seseorang berkata :
"Wahai Rasulullah, ini keadaan si pembunuh. Lalu bagaimana dengan keadaan yang dibunuh?"
Beliau bersabda :
"Sungguh orang yang dibunuh juga berkeinginan kuat untuk membunuh saudaranya."
(HR. Nasa'i : 7/125 dari hadits Abu Bakrah -radhiyallahu 'anhu-, HR. Ibnu Majah : 2/1311 dari hadits Abu Musa -radhiyallahu 'anhu-)

📚 Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Al-Fauzan

-----

[المنتقى من فتاوى الشيخ الفوزان]
السؤال
إذا نوى شخص أن يعمل سوءًا، ولم يفعله؛ فهل تُكتَبُ عليه سيئة أو لا‏؟‏

الجواب
ورد في الحديث‏:‏ ‏(‏أن المسلم إذا همَّ بالسّيِّئة ولم يعملها؛ فإنها تُكتَبُ له حسنة‏)‏ ‏[‏انظر‏:‏ ‏"‏صحيح البخاري‏"‏ ‏(‏7/187‏)‏ من حديث ابن عباس رضي الله عنه، وهو معنى جزء من حديث قدسي‏.‏‏]‏، وهذا إذا ترك العمل بها خوفًا من الله سبحانه وتعالى‏.‏
أمَّا إذا ترك العمل بها لأنَّه لم يتمكَّن من فعلها، وهو ينوي أنه لو تمكن أن يفعلها؛ فهذا يكون عليه الإثم بسبب نيَّته؛ كما دلَّت على ذلك الأحاديث، ومنها‏:‏ ‏(‏إذا التقى المسلمان بسيفيهما؛ فالقاتل والمقتول في النار‏)‏‏.‏ قيل‏:‏ يا رسول الله‏!‏ هذا شأن القاتل؛ فما بالُ المقتول‏؟‏ قال‏:‏ ‏(‏إنه كان حريصًا على قتل صاحبه‏)‏ ‏[‏رواه النسائي في ‏"‏سننه‏"‏ ‏(‏7/125‏)‏ من حديث أبي بكرة رضي الله عنه، ورواه ابن ماجه في ‏"‏سننه‏"‏ ‏(‏2/1311‏)‏ من حديث أبي موسى رضي الله عنه‏.‏‏]‏‏.‏

📝 Oleh tim salafy Cirebon
📮 Senin, 22 Robiul awwal 1439/ 11 Desember 2017

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

🔶 WA Salafy Cirebon
http://www.salafycirebon.com
🔹📲 Join Channel Telegram
http://bit.ly/salafycirebon

🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹

[Read more]

LARANGAN TASYABBUH DI SEMUA KONDISI

Posted On // Leave a Comment

════════════════════

       ⚖ FATWA ULAMA ⚖

════════════════════

💥👠👖 LARANGAN TASYABBUH DI SEMUA KONDISI❗

✒ Syaikh Abdul-Muhsin al-Abbad hafidzahullaahu Ta'ala

P e r t a n y a a n :

👚 Kalau seandainya ada seorang laki-laki dia memakai pakaian wanita atau seorang wanita memakai pakaian lelaki namun ia memakainya di rumah bersama keluarganya (apakah diperbolehkan ) ❓

J a w a b a n : 

✋🏽 Meskipun seperti itu (tetap) TIDAK diperbolehkan.Karena larangan Tasyabbuh tidak dikhususkan ketika di rumah atau dijalan saja.❗

👋🏼 Larangan tersebut sifatnya umum disegala kondisi.

📜 Sumber : Syarh Sunan Abu Dawud 10/460

📝 TASYABUH : ialah  menyerupai lawan jenis.Seorang laki-laki menyerupai perempuan atau sebaliknya.

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

✒ ﺳﺌﻞ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﺤﺴﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ - ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ تعالى  :
ﻟﻮ ﻟﺒﺲ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻟﺒﺴﺔ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻟﺒﺴت لبسة ﺍﻟﺮﺟﻞ
ﻟﻜﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻭﻣﻊ ﺍﻷ‌ﻫﻞ ?

ﻓﺄﺟﺎﺏ ﺑﻘﻮﻟﻪ :
ﻻ‌ ﻳﺠﻮﺯ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻛﺬﻟﻚ, ﻓﺎﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ
ﻻ‌ ﻳﺨﺺ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻭﻻ‌ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻫﻮ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ .

📜 ﺷﺮﺡ ﺳﻨﻦ ﺃﺑﻲﺩﺍﻭﺩ ( ٤٦٠/١٠ )

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

✍🏻WhatsApp
Ⓚ①ⓉⒶ🌏ⓈⒶⓉⓊ
Bagi-bagi faedah ilmiahnya....ayo segera  bergabung
🌐📲 Join Channel Ⓚ①Ⓣ
https://bit.ly/KajianIslamTemanggung

📻📡 Dengarkan••• [ VERSI BARU❗ ]  Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia
http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia2

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

[Read more]

DOA MEMINTA PANJANG UMUR

Posted On // Leave a Comment

💎🔳🚪 DOA MEMINTA PANJANG UMUR

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah

❓ Tanya :
Bolehkah berdoa meminta panjang umur? Atau memang umur itu telah ditakdirkan, sehingga tidak ada faidah berdoa meminta panjang umur?

✅ Jawab :
Tidak mengapa berdoa dengan hal tersebut. Tetapi, yang lebih utama adalah dengan mengaitkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang yang didokan.

Seperti dengan mengatakan :
"Semoga Allah memanjangkan umurmu dalam ketaatan kepadaNya, atau dalam kebaikan, atau pada sesuatu yang mendatangkan ridha Allah".

🔹Telah diketahui bahwa doa itu tidaklah menyelisihi takdir. Bahkan itu termasuk sesuatu yang ditakdirkan Seperti halnya obat-obatan, ruqyah dan yang semisalnya. Setiap sebab yang tidak menyelisihi syariat Allah, maka itu bagian dari takdir. Takdir Allah berlangsung pada orang yang sakit maupun yang sehat, bagi orang yang didoakan maupun yang tidak didoakan. Akan tetapi, Allah memerintahkan untuk menjalani sebab-sebab yang disyariatkan lagi dibolehkan, dan menetapkan dengan sebab-sebab tersebut apa saja yang dikehendakinya. Maka, itu semua termasuk takdir Allah.

Hanya Allah pemilik taufiq itu

📚 Al-Ma'mu' (8/425)

------

الدعاء بطول العمر

س: هل يجوز الدعاء بطول العمر؟. أم أن العمر مقدر، ولا فائدة من الدعاء بطوله؟.

ج: لا حرج في ذلك، والأفضل: أن يقيده بما ينفع المدعو له، مثل أن يقول: أطال الله عمرك في طاعة الله، أو في الخير، أو فيما يرضي الله، ومعلوم أن الدعاء لا يخالف القدر؛ بل هو من القدر؛ كالأدوية، والرقى، ونحو ذلك، وكل الأسباب التي لا تخالف شرع الله، فهي من القدر، وقدر الله ماضٍ في حق المريض والصحيح، من دُعِيَ له ومن لم يُدْعَ له؛ لكن الله سبحانه أمر بالأسباب المشروعة والمباحة، ورتَّب عليها ما يشاء سبحانه، وكل ذلك من قدر الله، والله ولي التوفيق. مجموع (8/425).

📝 Oleh tim salafy Cirebon
📮 Ahad, 21 robiul awal 1439/ 10 Desember 2017

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

📚 WA Salafy Cirebon
http://www.salafycirebon.com
📲 Join Channel
http://bit.ly/salafycirebon

[Read more]

HUKUM MENYATAKAN INSYAALLAH DALAM MENETAPKAN KEIMANAN

Posted On // Leave a Comment

📝 Fawaid Aqdiyyah

💎 HUKUM MENYATAKAN INSYAALLAH DALAM MENETAPKAN KEIMANAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullah

❓ Tanya :
Apa hukum menyatakan "insyaAllah" dalam menetapkan keimanan, seperti perkataan seseorang : "Saya beriman, insya Allah"?

✅ Jawab :
Perkataan seseorang "Saya beriman, insyaAllah." Jika maksudnya adalah :
🔹 mengharap keberkahan dengan kalimat tersebut,
🔹 atau maksudnya "keimananku terjadi dengan kehendak Allah",
maka keduanya dibenarkan. Tidak ada masalah padanya, dan ini dibolehkan.

☝️ Tetapi jika maksudnya adalah ia ragu, seperti ketika dikatakan kepadanya : "Apakah engkau beriman?", kemudian dijawab : "InsyaAllah" maksudnya ia ragu. Mungkin ia beriman atau mungkin juga tidak. Maka ucapan ini adalah kekufuran yang mengeluarkannya dari Islam. Mengapa? Karena ragu dalam keimanan bukanlah kimanan, dikarenakan Iman itu adalah kemantapan. Ini tentunya pada kaitannya dengan aqidah iman.

☝️ Adapun pada kaitannya dengan amalan, maka amal itu juga bagian dari iman, berdasarkan sabda Nabi ﷺَ :

"Iman memiliki tujuh puluh sekian cabang, yang paling tingginya adalah ucapan : La ilaha illallah (tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah), dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu termasuk bagian dari iman."

Adapun jika yang dimaukan dengan iman pada ucapan tersebut adalah amalan. Lalu ia berkata : "Saya beriman, insyaAllah." Maksudnya  "Saya adalah orang yang berupaya mengamalkan semua cabang keimanan", maka seperti ini juga dibenarkan, karena tidaklah setiap orang yang beriman mampu menegakkan seluruh syariat yang ada.

📚 Liqa' Al-Babu Al-Maftuh [208]

--------

حكم الاستثناء في الإيمان

السؤال:
ما حكم الاستثناء في الإيمان, كأن يقول إنسان: أنا مؤمن إن شاء الله؟

الجواب:
قول الإنسان: أنا مؤمن إن شاء الله, إن كان قصده بذلك التبرك، أو أن إيماني وقع بمشيئة الله فهذا حق, ولا إشكال فيه، جائز, وإن كان متردداً بأن قيل له: أنت مؤمن؟ قال: إن شاء الله; أي: أنه متردد. قد يكون وقد لا يكون، فهذا كفر مخرج عن الملة. لماذا؟ لأن التردد في الإيمان ليس بإيمان. إذ أن الإيمان هو الجزم، هذا بالنسبة لعقيدة الإيمان. أما بالنسبة للأعمال فالأعمال من الإيمان; لقوله عليه الصلاة والسلام: «الإيمان بضع وسبعون شعبة أعلاها قول: لا إله إلا الله, وأدناها إماطة الأذى عن الطريق, والحياء شعبة من الإيمان» إن كان قصده الأعمال، وقال: أنا مؤمن إن شاء الله بمعنى أنني مقيم لجميع خصال الإيمان, فهذا أيضاً صحيح. ليس كل إنسان مؤمن ويقوم بجميع الشرائع.

المصدر: سلسلة لقاءات الباب المفتوح > لقاء الباب المفتوح [208]

رابط المقطع الصوتي
http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/od_208_03.mp3

📝 Oleh tim salafy Cirebon
📮 Jum'at,19 Robiul Awwal 1439/ 08 Desember 2017

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

💎 Salafy Cirebon
http://www.salafycirebon.com
📲 Channel Telegram
http://bit.ly/salafycirebon

🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹

[Read more]

IKHLAS ITU..

Posted On // Leave a Comment

IKHLAS ITU..

Berkata al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah:

"Meninggalkan amal karena manusia adalah riya,

beramal karena manusia adalah syirik,

dan ikhlas itu adalah apabila Allah menyelamatkanmu dari kedua hal itu"

______
Syu'abul Iman Lil Baihaqi (5/347)

┈┈┈┈◈◉✹❒📚❒✹◉◈┈┈┈┈

🗞 قَـ❀ـالَ الفـُضَيلُ بنُ عِــيَاض
       - رَحِمَہُ الله تـعالــﮯ - :

〽️  تَركُ العَملِ مِن أجلِ النَّاسِ ↜ رَيَاءٌ ،

وَالعَملُ مِن أجلِ النَّاسِ ↜ شِركٌ ،

والإخلَاصُ ➥ أن يُعَافِيَكَ اللَّـهُ مِنهُمَا .

📓📔شُعَبُ الإيمَانِ لِلبَيهَقِيِّ ( ٥ / ٣٤٧)

➠ T.me/nour_tawhiid

┈┈┈┈◈◉✹❒📚❒✹◉◈┈┈┈┈

🗃 Arsip WALIS » http://walis-net.blogspot.com/2017/12/ikhlas-itu.html
🗳 Kritik dan saran » http://goo.gl/d0M01P
🕰 Faedah Lain » http://walis.salafymedia.com/

┈┈┈┈◈◉✹❒📚❒✹◉◈┈┈┈┈

📲 *Majmu'ah AL ISTIFADAH*
🌍 http://bit.ly/tentangwalis
🔵 Telegram t.me/alistifadah JOIN
📲 مجموعة الاستفادة
📅 18 Rabi'ul Awwal 1439H || 06 Desember  2017M

┈┈┈┈◈◉✹❒📚❒✹◉◈┈┈┈┈

[Read more]

Jangka Waktu Nazhor dan Walimah

Posted On // Leave a Comment

🌷⏰ Jangka Waktu Nazhor dan Walimah 👀

*Assalamu’alaikum. Ada seorang laki-laki yang melakukan nazhor dan merasa sudah cocok dengan si wanita. Kemudian, laki-laki ini diberi waktu yang cukup lama (lebih dari setahun). Namun, ternyata wanita tersebut menikah dengan laki-laki lain. Berapa batas waktu antara nazhor sampai pernikahan? Mohon penjelasan. Jazakumullahu khairan katsiran.*

🎙 Dijawab oleh al-Ustadz Hamzah:

👀🔎 *Pria yang sudah melakukan proses nazhor (disertai mahram si wanita) dan menyukai wanita tersebut sebaiknya segera melamar wanita itu kepada walinya. Jika lamarannya diterima, dimusyawarahkan waktu akad nikahnya (lebih cepat lebih baik).*

🌹👀 *Demikian juga wanita yang melakukan proses nazhor(didampingi mahramnya), hendaklah memberi tahu walinya apakah nazhor tersebut dilanjutkan ke pernikahan atau tidak.*

🏷 *Jika khitbah (lamaran) pria tersebut sudah diterima dan kedua calon pasangan tersebut saling ridha, wanita yang dilamar tidak boleh melangsungkan pernikahan dengan pria lain. Sebab, hal ini akan menyakiti hati pria yang lamarannya telah diterima tersebut.*

🛰 *Perlu diketahui bahwa seseorang tidak boleh melamar wanita yang telah dikhitbah oleh saudaranya sesama muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,*

لَا يَخْطُبُ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ

*“Tidak boleh seseorang melamar wanita yang sudah dilamar oleh saudaranya (sesama muslim).” (Muttafaqun ‘alaihi)*

🔘 *Jika nazhor yang dilakukan itu belum dilanjutkan ke proses khitbah dan si wanita belum memiliki kecondongan hati kepada pria yang menazhornya, dia boleh melangsungkan pernikahan dengan pria lain setelah memutuskan hubungannya dengan pria pertama tersebut melalui walinya atau orang lain.*

⏰🌹👀 *Tidak ada batas waktu khusus antara nazhor dan akad nikah/pernikahan. Hal ini bergantung pada kondisi keluarga calon pasangan tersebut. Akan tetapi, lebih cepat lebih baik, untuk menghindari fitnah syahwat dan fitnah lainnya. Janganlah pernikahan/akad nikah ditunda-tunda dalam rangka persiapan acara penikahan yang berlebih-lebihan yang di luar syariat Islam.*

📠 Dikutip dari qonitah.com/ruang-konsultasi-edisi-15/

[Read more]

Hukum Syariat MLM (Multi Level Marketing)

Posted On // Leave a Comment

Hukum Syariat MLM (Multi Level Marketing)

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup dengan orang lain. Bersama orang lain, terwujudlah saling memenuhi dan melengkapi hajat hidup mereka. Bekerja sama, tukar menukar, saling membutuhkan adalah sebagian kecil hikmah diciptakannya manusia dalam status yang bertingkat-tingkat. Ada yang miskin, ada yang kaya, kuat, lemah, pemimpin, dan rakyat biasa. Hubungan antar manusia pun bisa seimbang. Mereka bisa saling melengkapi satu dengan yang lain.
Dengan hikmah-Nya pula Allah l menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Maka, syariah yang kaffah ini pun mengatur kaidah-kaidah dalam muamalah jual beli. Sehingga manusia bisa bermuamalah dalam asas saling menguntungkan.
Pada dasarnya, bisnis dalam Islam termasuk muamalat yang hukum asalnya adalah boleh. Dalam kaidah fikih disebutkan, ‘Al-Ashlu fil ‘adah Al-ibahah hatta yadullad dalilu ‘ala tahrimiha.’ Maksudnya, asal hukum dalam adat (termasuk muamalah) adalah boleh, kecuali ada dalil yang melarangnya.
Berdasarkan kaidah fikih ini, perkembangan sistem dan budaya bisnis yang begitu cepat, bukanlah hal yang terlarang. Selama hal ini tidak mengabaikan prinsip dan kaidah syariah. Yaitu harus terbebas dari unsur dharar (memudarati atau menzalimi), jahalah (ketidakjelasan), maysir (judi atau untung-untungan), gharar (penipuan), haram, dan riba (bunga). Intinya, barang yang diperjualbelikan harus halal, dan caranya pun halal.
Di antara sistem bisnis yang berkembang cukup marak belakangan ini adalah MLM. MLM singkatan dari Multi Level Marketing yang bisa dibahasakan dengan sistem pemasaran berjaring (Network Marketing). Karena begitu banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang ini, persaingan pun tidak dapat dihindari. Masing-masing menawarkan dan menjanjikan fasilitas serta bonus yang menggiurkan kepada konsumen yang sekaligus calon anggota (member). Tidak jarang pula di antara perusahaan ini yang memakai nama islami. Sehingga kaum muslimin banyak yang tersangkut dalam jaringan bisnis piramida ini.
Lalu, bagaimanakah tinjauan sisi syariah tentang bisnis model MLM ini? Sebelum membahas lebih jauh, perlu disinggung bahwa secara sederhana, sistem pemasaran suatu produk dari suatu perusahaan ada dua cara: Yang pertama cara konvensional, sebagaimana yang biasa berlaku. Yaitu sampainya suatu produk kepada konsumen setelah melalui setidaknya 4 (empat) tahap; dari pabrik kepada distributor, kemudian kepada agen, lalu kepada grosir, setelahnya kepada pengecer atau toko, baru kepada konsumen.
Yang kedua melalui sistem pemasaran berjaring (Network Marketing) atau kita kenal dengan MLM (Multy Level Marketing). Inilah pembahasan kita. Di sistem ini seorang konsumen harus mampu merekrut konsumen (jaringan) di bawahnya (downline, yaitu jaringan kedua dan seterusnya). Dan ia (upline) akan menerima keuntungan (persentase) dari setiap pembelanjaan downline tersebut. Semakin banyak jaringan (downline), maka semakin besar pula keuntungan yang akan diterima. Bila mampu mencapai titik tertentu sesuai persyaratan, ia akan menduduki suatu posisi dan akan menerima bonus yang telah ditentukan.
Hukum muamalah seperti sistem ini telah diterangkan oleh komite fatwa ulama Saudi. Banyak pertanyaan yang masuk kepada Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhutsil Ilmiah Wal Ifta’ seputar bisnis MLM (At Taswiq Al Haramiy atau At Taswiq Asy Syabakiy), seperti perusahaan MLM Baznas dan Hibatul Jazirah. Sistem penjualan perusahaan tersebut secara garis besar; seseorang yang membeli barang atau sebuah produk dipersyaratkan menjual produk tersebut kepada orang lain (downline). Kemudian masing-masing downline tersebut menawarkan kepada orang lain pula (membuat jaringan downline). Begitu seterusnya. Semakin banyak jaringan, upline (orang yang di atas) akan semakin meraup ribuan real (banyak mendapat keuntungan). Masing-masing anggota (member) mendapatkan keuntungan sesuai jaringan di bawahnya. Jumlah uang besar akan didapat apabila berhasil membuat jaringan yang besar. Ini dinamakan At Taswiq Al Haramiy (penjualan berjaring sistem paramida) atau At Taswiq Asy Syabakiy (penjualan berjaring sistem jaringan).
Alhamdulillah, Al Lajnah menjawab soal di atas dengan jawaban berikut: Jenis muamalah ini hukumnya haram. Alasannya, karena tujuan sistem ini adalah uang semata (dari downline), bukan barang yang diperjualbelikan. Nilai keuntungan bisa mencapai angka yang fantastis (puluhan ribu real) padahal harga barang itu sendiri tidak lebih dari beberapa ratus real. Siapa saja, apabila ditawarkan antara dua hal ini; barang atau keuntungannya, pasti akan memilih keuntungan yang puluhan ribu real tersebut (tidak peduli dengan barangnya). Oleh sebab itu, sistem ini bertopang pada jaringan piramidanya. Dan promosi yang ditawarkan kepada calon member adalah keuntungan besar dengan keberhasilan membangun jaringan downline yang besar, keuntungan fantastis dari modal kecil (sebesar nilai produk saja). Barang yang dijualbelikan pun sekadar kedok atau alat untuk mendapat tumpukan rupiah dan keuntungan (barang tersebut tidak dibutuhkan oleh pembeli). Dari kenyataan sesungguhnya sistem muamalah ini, maka hukumnya haram secara syariah dari beberapa sisi:
Pertama, sistem ini mengandung dua jenis riba sekaligus; riba fadhl dan nasi’ah. (Dalam konteks sistem piramida ini, riba fadhl bisa kita definisikan sebagai; membeli uang dalam nominal besar dengan uang bernilai kecil. Adapun nasiah adalah membeli uang dengan uang tidak dengan kontan. Padahal, jual beli uang dengan uang pada mata uang yang sama disyaratkan harus saling kontan dan benilai sama. Kalau tidak terpenuhi dua syarat ini maka dihukumi riba, red). Dalam sistem ini, member membayar sejumlah kecil uang untuk mendapatkan uang nominal yang besar. Artinya membeli uang dengan uang dengan selisih nilai dan waktu. Inilah riba yang haram sesuai nash dalil dan ijma’ ulama. Adapun produk yang dijual tidak lebih sebagai kedok saja. Barang tersebut tidak dimaukan oleh anggota, sehingga tidak memengaruhi hukum.
Kedua, sistem ini termasuk gharar (ketidakpastian) yang haram menurut syariah. Karena member tidak tahu apakah berhasil membuat jaringan yang diinginkan atau tidak. Sedangkan MLM ini, bagaimanapun besar jaringan downline-nya, pasti ada ujungnya juga. Member tersebut tidak tahu apakah saat bergabungnya ia dalam sistem piramida ini akan mendapat downline yang besar sehingga akan beruntung, atau justru di tingkat terbawah sehingga rugi. Padahal pada kenyataannya, mayoritas member piramida ini rugi kecuali jumlah sedikit pada tingkat upline. Sehingga sebagian besarnya mengalami kerugian. Ini adalah hakikat penipuan, yang berkisar antara dua kemungkinan. Dan kemungkinan terbesarnya adalah kerugian. Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari gharar sebagaimana riwayat Muslim dalam Shahihnya.
Ketiga, dalam sistem ini, (disadari atau tidak) mengandung unsur makan harta orang lain dengan cara yang batil. Di mana, tidak ada yang mendapat manfaat dari akad semacam ini kecuali perusahaan saja. Dan setiap anggota yang mau membeli produk ini pun tujuannya adalah menipu anggota yang lain. Inilah yang tegas Allah subhanahu wa ta’ala larang dalam firman-Nya yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta orang lain di antara kalian dengan cara yang batil.” [Q.S. An Nisa:29].
Empat, dalam muamalah ini terdapat penipuan, kecurangan, dan pengaburan hakikat sesuatu kepada orang lain. Menampakkan seolah-olah menjual produk tertentu. Inilah yang dikesankan sebagai tujuan sistem ini. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu (namun sebaliknya). Sisi yang lain, penggambaran keuntungan berlipat yang seringnya tidak terwujud. Inilah penipuan yang haram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Siapa yang menipu, bukanlah dariku.” [H.R. Muslim dalam Shahihnya]. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda yang artinya, “Dua yang terlibat jual beli masing-masing memiliki hak memilih (melanjutkan transaksi ataukah tidak) selama belum berpisah. Apabila jujur dan menjelaskan aib barangnya, maka akan diberkahi dalam jual beli tersebut. Namun, apabila masing-masing dusta dan menyembunyikan aib barangnya, akan dihapus berkah dari keduanya.” [Muttafaqun’alaihi].
Adapun yang beralasan bahwa muamalah ini termasuk jasa marketing yang bertindak sebagai perantara antara produsen dan konsumen (samsarah atau makelar), maka hal ini tidak benar. Karena makelar adalah akad yang terjadi dengan pihak yang memperantarai terjadinya jual beli dengan imbalan tertentu. Adapun MLM, member yang membayar untuk pemasaran suatu produk. Sebagaimana makelar maksudnya adalah penjualan barang, sementara MLM maksudnya adalah pembelian uang, bukan barangnya. Makanya MLM hanya menjual kepada orang yang akan menjual kepada orang yang akan menjualnya, dan seterusnya. Berbeda dengan makelar yang menjual kepada orang yang benar-benar membutuhkan barang tersebut. Perbedaan antara keduanya sangat jelas.
Yang lain lagi menamakannya dengan hadiah. Ini pun tidak tepat. Seandainya dianggap sebagai hadiah, tidaklah semua hadiah itu boleh (halal) menurut syariah. Hadiah yang diberikan karena sebab telah meminjami uang dianggap sebagai riba (haram). Oleh sebab itulah Abdullah bin Salam z berkata kepada Abu Burdah radhiyallahu ‘anhu, “Engkau berada di daerah yang riba tersebar luas. Apabila engkau memiliki hak yang harus ditunaikan oleh orang lain kepadamu (piutang), kemudian orang tersebut memberikan hadiah satu ikat pakan hewan, atau gandum, atau makanan pokok, maka itu adalah riba.”[H.R. Al Bukhari dalam Kitab Shahih beliau]. Sehingga hadiah itu mengambil hukum sebab adanya hadiah tersebut. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Tidakkah engkau duduk saja di rumah ayah atau ibumu, engkau tunggu apakah engkau akan mendapat hadiah atau tidak?”[Muttafaqun’alaihi]. Sedangkan hasil uang tersebut (yang dinamakan hadiah) didapat karena ikut dalam jaringan MLM. Maka nama apa pun yang dipakai, hadiah atau hibah, atau yang lainnya tidaklah mengubah hakikat dan hukumnya sedikit pun.
Yang pantas disebutkan di sini pula, bahwa di sana ada beberapa perusahaan yang memakai sistem MLM ini. Seperti perusahaan Smarts Way, Gold Quest, dan Seven Diamond. Hukumnya sama persis dengan perusahaan MLM sebelumnya, walaupun produk yang dijual berbeda. Wa billahit taufik wa shalallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.
[Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhutsi Al ‘Ilmiyati Wal Ifta’ No 22935 Tanggal 14/3/1425 H]. Demikian nukilan dari kamite tetap bidang riset ilmiyah dan fatwa Islam Kerajaan Saudi Arabia.
Ada jenis MLM lain yang dipraktikkan dalam dunia bisnis. Yaitu MLM yang tidak menjual produk. Jenis ini biasa disebut money game atau permainan uang. Contoh: Pihak MLM menawarkan sebuah sepeda motor merk tertentu hanya dengan menyetor uang Rp. 2.000.000,- dengan syarat harus bisa menjaring sebanyak sepuluh orang yang masing-masing harus menyetorkan uang sebesar Rp. 2.000.000,- pula. Bila tidak, maka uang tersebut hangus.
Demikian pula untuk tingkat downline-nya, masing-masing akan mendapatkan sepeda motor tersebut dengan menjaring sepuluh orang. Demikian seterusnya sampai tidak terbatas. Hukum jenis MLM ini haram, karena jelas ada unsur memudarati atau menzalimi, jahalah (ketidakjelasan), maysir (judi atau untung-untungan), serta gharar (penipuan). Istilah jual beli dalam sistem ini sekadar polesan saja. Pada hakikatnya adalah memakan harta orang lain dengan cara yang batil.
Bentuk money game yang lain ditawarkan sebagai bentuk investasi. Calon anggota ditawarkan menanam modal usaha misalnya Rp 1.200.000. Bagi hasil dan bonus akan semakin besar dengan jaringan downline yang besar. Yang sesungguhnya, uang bagi hasil dan bonus itu diambil dari uang downline. Sementara usaha yang dijalankan adalah kamuflase semata. Atau tepatnya perangkap untuk menjebak calon member. Lebih parah dari ini semua, fenomena yang sangat memprihatinkan belum lama ini adalah munculnya selebaran yang dinisbatkan kepada seorang ‘Ustadz sedekah’ menggunakan sistem ini atas nama keajaiban sedekah untuk menjadi kaya mendadak bagi siapa saja yang menjadi anggota. Innalillahi wainna ilaihi raji’un.
Pembaca, prinsip muamalah Islami adalah yang berorientasi kepada kemaslahatan sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia, baik individu maupun masyarakat. Orientasi ini menjadi pertimbangan mendasar bagi setiap muamalah yang terjadi. Untuk itulah kaidah syariah begitu ketat menetapkan ketentuannya. Maka kaum muslimin hendaknya mempertimbangkan kaidah-kaidah tersebut dalam kegiatan ekonominya agar diberkahi di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bish shawab.
[Ustadz Farhan].
[Read more]

HUKUM SESEORANG YANG BERWUDHU DENGAN AIR YANG TERDAPAT BANGKAI KUCING PADANYA DISERTAI PERUBAHAN BAU AIR ITU KARENANYA

Posted On // Leave a Comment

📝 Fawaid Fiqhiyyah

💎 HUKUM SESEORANG YANG BERWUDHU DENGAN AIR YANG TERDAPAT BANGKAI KUCING PADANYA DISERTAI PERUBAHAN BAU AIR ITU KARENANYA

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin

❓ Tanya :
Barakallahu fikum, Wahai Fadhilatusy Syaikh, ada seorang perempuan bertanya:
Seekor kucing terjatuh ke dalam sumur dan mati. Tidak ada seorang pun yang mengangkatnya, sehingga bau air sumur tersebut berubah. Setelah lewat beberapa bulan, kami berwudhu dengan air tersebut untuk melaksanakan shalat dalam keadaan bau air sumur itu tetap berubah. Apakah air itu menjadi najis ataukah tidak? Jika air itu najis,apakah kami wajib mengulang shalat-shalat yang telah lewat? Berilah kami faidah, semoga Allah memberikan pahala kepadamu!

✅ Jawab :

Ya, jika kucing jatuh ke dalam sumur lalu mati, kemudian bau air berubah karenanya, maka perubahan itu disebabkan oleh najis. Jika perubahan yang terjadi disebabkan oleh najis, maka air itu najis sesuai dengan kesepakatan ulama. Jika air itu najis, maka tidak mungkin air itu akan menyucikan. Bahkan najis itu harus dijauhi, dan tidak boleh digunakan untuk bersuci. Atas dasar ini, maka :
🔹 Wudhu kalian dengan menggunakan air ini adalah wudhu yang rusak dan tidak sah.
🔹 Shalat-shalat kalian juga tidak sah, karena kalian shalat dengan wudhu yang tidak sah.
🔹 Begitu pula dengan pakaian kalian menjadi najis karena telah ternodai oleh air itu. Berarti kalian shalat dengan menggunakan pakaian yang najis.
🔹 Sama juga dengan tubuh-tubuh kalian menjadi najis karena telah ternodai oleh air tersebut. Berarti kalian shalat dalam keadaan ada najis pada anggota tubuh kalian.

☝️Maka yang wajib bagi kalian adalah :
🔸 Menghitung shalat-shalat yang telah kalian lakukan dengan wudhu menggunakan air najis tersebut.
🔸 Hendaknya kalian mengulangi seluruh shalat-shalat tersebut.

✴ Perlu diketahui bahwasanya bangkai ada dua jenis :
🔹 Bangkai yang suci.
Jika air berubah karenanya, maka air tidak menjadi najis. Contohnya adalah bangkai belalang dan bangkai ikan, karena bangkai ikan suci. Jika ada seseorang terjatuh ke dalam air lalu air itu berbau busuk setelah ia mati di dalamnya, maka air tetap suci dan tidak najis, karena mayat manusia adalah suci.

☝️Berdasarkan hal di atas, maka dapat kita katakan :
🔸 Jika air berubah disebabkan bangkai yang najis, maka air menjadi najis.
🔸 Jika air berubah disebabkan bangkai yang suci, maka air tetap suci lagi menyucikan.

*📚 Silsilah Fatawa Nur 'alad Darb, kaset no [274]*

📝 Oleh tim salafy Cirebon
📮 Sabtu, 13 Robiul Awwal 1439/ 02 Desember 2017

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

📜 Salafy Cirebon
http://www.salafycirebon.com
📲 Channel Telegram ||http://bit.ly/salafycirebon

[Read more]