HUKUM ANAK HASIL DARI NIKAH PAKSA

Posted On // Leave a Comment

HUKUM ANAK HASIL DARI NIKAH PAKSA

🇸🇦Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah

🗞Pertanyaan:
Jika seorang wanita dipaksa menikah dan kita katakan nikahnya rusak (tidak sah), lantas bagaimana hukum anak dari pernikan ini?

💎Jawaban:
Jika suami mengetahui bahwa nikahnya tidak sah, maka jima'nya haram dan anak dari hasil jimaknya ini bukan miliknya, karena dia tahu anak-anak ini muncul dari hal yang haram.

Adapun jika suami tidak mengetahui perkara ini, maka anak-anaknya ini dianggap miliknya, karena mereka dari hasil hubungan suami istri yang mengandung syubhat (kesamaran)."

🏡Liqa' al Bab al Maftuh 159

📱http://t.me/ukhwh

السؤال
إذا أجبرت المرأة على الزواج وقلنا: بأن النكاح فاسد، فما حكم الأولاد؟

الجواب
الأولاد إذا كان الزوج يعلم أن النكاح فاسد فجماعه حرام وأولاده ليسوا له؛ لأنه يعتقد أنهم نشئوا من حرام، وأما إذا كان الزوج لا يدري عن هذا فإن أولاده يلحقون به لأنهم من وطء شبهة
http://binothaimeen.net/content/5122?q2=%D8%A7%D9%84%D8%A3%D9%88%D9%84%D8%A7%D8%AF

[Read more]

DI SURGA NANTI... BISAKAH SESEORANG MENGENAL KERABATNYA

Posted On // Leave a Comment

════════════════════

       🔬 FATWA ULAMA 🔬

════════════════════

🚠🤝🕌 DI SURGA NANTI... BISAKAH SESEORANG MENGENAL KERABATNYA❓

☎ Pertanyaan :

Apakah seorang muslim apabila masuk surga dia dapat mengenal kerabat-kerabatnya yang ada di dalam surga❓

✅ Jawaban :

Iya, dia bisa mengenal kerabat- kerabatnya dan selain mereka dari setiap kebahagiaan kalbu yang datang kepadanya.

Karena Allah Ta'alaa berfirman yang artinya :
"Dan di dalam surga terdapat apa - apa yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan pandangan kalian, dan kalian di dalamnya kekal selamanya"

Bahkan seseorang akan berkumpul bersama dengan anak keturunannya di dalam satu tingkatan surga. Jika anak keturunannya berada pada tingkatan yang lebih rendah darinya.

Sebagaimana Allah berfirman :
"Dan mereka orang - orang yang beriman dan diikuti oleh keturunan mereka dengan keimanan, maka Kami akan pertemukan orang-orang beriman itu dengan anak keturunan mereka."

🖥 Sumber:
Silsilah Fataawaa Nuur 'alad Darb. Kaset nomor 195

السؤال:
هل المسلم إذا دخل الجنة يتعرف على أقاربه الذين في الجنة؟

الجواب:

نعم يتعرف على أقاربه وغيرهم من كل ما يأتيه سرور قلبه؛ لقول الله تعالى: ﴿وفيها ما تشتهيه الأنفس وتلذ الأعين وأنتم فيها خالدون﴾ بل إن الإنسان يجتمع بذريته في منزلةٍ واحدة إذا كانت الذرية دون منزلته كما قال تعالى: ﴿والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم...الآية﴾

المصدر: سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [195]

_________________

✍🏻WhatsApp
Ⓚ①ⓉⒶ🌏ⓈⒶⓉⓊ
Bagi-bagi faedah ilmiahnya....ayo segera  bergabung
🌐📲 Join Channel Ⓚ①Ⓣ
https://bit.ly/KajianIslamTemanggung

📻📡 Dengarkan••• [ VERSI BARU❗ ]  Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia
http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia2

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

[Read more]

APAKAH MAKMUM TETAP MENGIKUTI IMAM YANG MENAMBAH RAKAAT KELIMA SETELAH DIINGATKAN MAKMUM

Posted On // Leave a Comment

💺⛵️APAKAH MAKMUM TETAP MENGIKUTI IMAM YANG MENAMBAH RAKAAT  KELIMA SETELAH DIINGATKAN MAKMUM❓

🇸🇦Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata:

"Jika imam berdiri ke rakaat yang kelima dan tidak kembali duduk setelah diingatkan makmum, maka makmum tidak ikut berdiri bersama imam, namun makmum terus duduk sampai mereka salam bersama imam. Hal ini dilakukan karena mereka bukan orang-orang yang mendapat udzur (pemaafan). Adapun imam tentunya dia seorang yang mendapat udzur, karena dia meyakini kalau dirinya benar, oleh karenanya dia pun tidak kembali duduk. Sehingga ketika imam yakin kalau dirinya benar, maka dia tidak kembali duduk tetapi meneruskan berdiri lalu menyempurnakan salat.
Namun bagi makmum jika dia meyakini kalau dirinya benar, maka dia terus duduk menanti hingga salam bersama imam.

Sebaliknya jika makmum tidak tahu rakaat yang sebenarnya, tentunya dia berdiri bersama imam dan mengikuti imam. Inilah hukum asalnya.

Sehingga barangsiapa berdiri bersama imam dan mengikutinya karena lupa atau tidak mengetahui hukum syar'inya, maka salatnya sah meskipun dia menambah rakaat. Dikarenakan dia mengikuti imam yang tidak tahu jumlah rakaat yang sebenarnya atau lupa rakaatnya, sehingga tidak ada tanggungan sedikit pun atas makmum.

Adapun makmum yang mengetahui hukum syar'inya dan mengetahui tentang kelupaan imam tentunya dia tidak mengikuti imam akan tetapi dia duduk menanti hingga dia salam bersama imamnya. Inilah hukum syar'i dalam masalah ini."

📱http://t.me/ukhwh

وإذا قام إلى خامسة ولم يرجع بالتنبيه فإن المأمومين لا يقومون معه، يجلسون فإذا سلم سلموا معه، لأنهم غير معذورين، أما هو قد يكون معذوراً، قد يعتقد أنه مصيب، ولهذا لم يرجع، وإذا اعتقد أنه مصيب لا يرجع، يستمر ويكمل، لكن المأموم إن كان يعتقد أنه مصيب جلس، وانتظر حتى يسلم مع إمامه، وإن كان ليس عنده علم فإنه يقوم مع الإمام ويتابع الإمام، هذا هو الأصل، ومن قام مع الإمام وتابعه من أجل سهوه أو لجهله بالحكم الشرعي، ما يعرف الحكم الشرعي فصلاته صحيحة ولو زاد، لأنه إمام جاهل وإما ساهٍ، فلا شيء عليه، وأما العالم بالحكم الشرعي، والعالم بالسهو فإنه لا يتابع الإمام بل يجلس وينتظر حتى يسلم مع إمامه، هذا هو الحكم الشرعي في هذه المسألة

https://www.binbaz.org.sa/noor/7141

[Read more]

MENISBATKAN KEPADA MADZHAB IMAM YANG EMPAT

Posted On // Leave a Comment

MENISBATKAN KEPADA MADZHAB IMAM YANG EMPAT

🔉Syaikh Shalih bin Fawzan al-Fawzan hafizhahullah

Pertanyaan:
Bolehkah fanatik kepada suatu mazhab (pendapat) yang  seseorang menganutnya pada salah satu hukum syariat meskipun dalam hal ini menyelisihi dengan yang benar? Ataukah boleh meninggalkannya dan mengikuti madzhab yang benar pada sebagian hal? Dan apa hukum berpegang satu madzhab saja?

Jawaban:
Bermadzhab dengan salah satu madzhab imam yang empat yaitu madzhab imam ahlussunnah yang empat yang sudah terkenal yang ada, dihafal dan ditulis kaum muslimin serta  menisbatkan kepada salah satu madzhab tidak terlarang. Maka dikatakan: fulan Syafi'i, , fulan Hanafi, dan fulan Maliki. Julukan ini sudah ada sejak dulu diantara ulama bahkan pada ulama senior dikatakan fulan.Hanbali seperti dikatakan Ibnu Taimiyyah al-Hanbali, Ibnul Qayyim al-Hanbali dan lainnya tidaklah mengapa.

Sehingga sekedar menisbatkan kepada suatu madzhab tidak terlarang, namun dengan syarat
tidak terbelenggu dengan madzhab tersebut sehingga diambil semua perkara yang ada, baik yang haq maupun batil, baik yang benar maupun yang salah. Akan tetapi diambil darinya perkara yang benar dan apa yang diketahui sebagai kesalahan tidak boleh diamalkan. Adapun jika tampak baginya pendapat yang kuat, maka dia wajib mengambilnya baik perkara di madzhab yang dia menisbatkannya atau di madzhab lainnya karena seseorang yang jelas baginya sunah Rasulullah tidak ada hak baginya meninggalkannya karena perkataan seseorang.

Sebab yang menjadi suri tauladan adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, sedangkan kita mengambil suatu madzhab selama tidak menyelisihi sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم,namun jika menyelisihi Beliau, maka ini kesalahan seorang ahli ijtihad (mengambil kesimpulan hukum syariat) yang wajib atas kita untuk meninggalkannya dan hendaknya dia mengambil sunah serta mengambil pendapat yang kuat yang sesuai dengan sunah dari suatu madzhab diantara madzhab para ahli ijtihad.

Adapun orang yang mengambil pendapat seorang imam secara mutlak baik salah maupun benar, maka termasuk taqlid buta (membebek).Sedangkan jika dia berpendapat wajib taqlid pada individu tertentu, maka ini merupakan kemurtadan (keluar dari agama Islam.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

Barangsiapa berkata, sesungguhnya wajib taqlid kepada individu tertentu selain Rasulullah صلى الله عليه وسلم, maka ini.
diminta taubatnya, jika dia mau bertaubat. Namun jika tidak mau, maka dihukum bunuh (oleh pemerintah). Karena tidak seorangpun yang wajib diikuti kecuali Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Adapun selain Beliau dari kalangan imam ahli ijtihad rahimahumullah, maka diambil perkataan mereka yang sesuai hadits Nabi صلى الله عليه وسلم.

Sehingga ketika seorang ahli ijtihad salah dalam ijitihadnya, maka haram atas kita mengambil ijtihadnya. Wallahu ta'ala a'lam.

📀Majmu' Fatawa wa Rasail, Kitabul Tamadzhub

http://t.me/Al-Ukhuwwah

الانتساب إلى المذاهب الأربعة
سؤال: هل يجوز التعصب للمذهب الذي يقتدي به الإنسان في أي حكم من أحكام الشريعة، حتى لو كان في هذا مخالفة للصواب؟ أم يجوز تركه والاقتداء بالمذهب الصحيح في بعض الحالات؟ وما حكم لزوم مذهب واحد فقط؟
الجواب: التمذهب بمذهب واحد من المذاهب الأربعة مذاهب أهل السنة الأربعة المعروفة التي بقيت وحفظت وحررت بين المسلمين، والانتساب إلى مذهب منها، لا مانع منه، فيقال: فلان شافعي، وفلان حنبلي، وفلان حنفي، وفلان مالكي.
ولا زال هذا اللقب موجودًا من قديم بين العلماء، حتى كبار العلماء، يقال: فلان حنبلي، يقال مثلًا: ابن تيمية الحنبلي، ابن القيم الحنبلي، وما أشبه ذلك، ولا حرج في ذلك، فمجرد الانتساب إلى المذهب لا مانع منه لكن بشرط أن لا يتقيد بهذا المذهب فيأخذ كل ما فيه، سواء كان حقًّا أو خطأً، سواء كان صوابًا أو خطأً، بل يأخذ منه ما كان صوابًا، وما علم أنه خطأ، لا يجوز العمل به، وإذا ظهر له القول الراجح فإنه يجب عليه أن يأخذ به، سواء كان في مذهبه الذي انتسب إليه، أو في مذهب آخر، لأن من استبانت له سنة رسول الله لم يكن له أن يدعها لقول أحد، فالقدوة هو رسول الله صلى الله عليه وسلم، فنحن نأخذ بالمذهب ما لم يخالف قول الرسول صلى الله عليه وسلم، فإذا خالفه فهذا خطأ من المجتهد يجب علينا أن نتركه، وأن نأخذ بالسنة، ونأخذ بالقول الراجح المطابق للسنة، من أي مذهب كان من مذاهب المجتهدين.
أما الذي يأخذ بقول الإمام مطلقًا، سواء كان خطأ أو صوابًا، فهذا يعتبر تقليدًا أعمى، وإذا كان يرى أنه يجب تقليد إنسان معين فهذا ردة عن الإسلام.
يقول شيخ الإسلام ابن تيمية: من قال إنه يجب تقليد شخص بعينه غير رسول الله صلى الله عليه وسلم فهذا يستتاب، فإن تاب وإلا قتل لأنه لا أحد يجب اتباعه إلا محمد صلى الله عليه وسلم، أما ما عداه من الأئمة المجتهدين رحمهم الله، فنحن نأخذ بأقوالهم الموافقة للسنة.
أما إذا أخطأ المجتهد في اجتهاده، فإنه يحرم علينا أن نأخذ باجتهاده والله تعالى أعلم.

[Read more]

Mungkinkah ruh orang yang meninggal bisa bertemu dengan ruh orang yang masih hidup

Posted On // Leave a Comment


بسم الله الرحمن الرحيم

*⚖Mungkinkah ruh orang yang meninggal bisa bertemu dengan ruh orang yang masih hidup ❓*

🎙Assyaikh Al'allamah Shalih alfauzan Hafidzahullah.

📜Pertanyaan:

Wahai Syaikh Anda mengatakan pada pelajaran yang lalu bahwasanya orang-orang yang masih hidup terkadang mengetahui orang-orang yang sudah meninggal sementara Allah subhanahu wata'aala berfirman:
إن تدعوهم لا يسمعوا دعاءكم

Jikalau kalian seru mereka, mereka tidak akan mendengar kalian. ❓

Jawaban:

👉 Ini dalam pertemuan ruh - ruh,  ketika seseorang sedang tidur, karena dalam keadaan seperti itu (bisa) bertemu ruh orang-orang yang meninggal dunia dan ruh orang-orang yang tidur,

📔 Allah berfirman:

اللهُ يَتَوَفَّى اْلأَنْفُسَ حِينَ مَوتِهَا وَ الَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّذِي قَضَى عَلَيهَا الْمَوتَ وَ يُرْسِلُ اْلأُخْرَى إِلَى أجلٍ مُّسَمَّى

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya maka dia menahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa orang yang lain sampai waktu yang ditentukan”. (QS. Azzumar: 42)

💥Ruh orang yang tidur, kembali kepada pemiliknya dan dia akan  terjaga (bangun), Adapun ruh mayyit, Allah tahan dan tidak akan kembali, (inilah) percampuran ruh mayyit dan ruh orang-orang yang tidur.

🛏 Ini dalam keadaan tidur,
Oleh karena itu dia melihat orang yang sudah meninggal, berbicara bersamanya, dan berwasiat kepadanya terhadap perkara -perkara, ini adalah sesuatu yang disaksikan(nyata) .

Sumber: 💻
http://www.alfawzan.af.org.sa/node/15962

Alih bahasa: 📱
Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu 'umar غفر الله له.

Website: 🌍
Salafycurup.com

🌾Telegram.me/salafycurup

Unduh audionya di: @rumahbelajar

[Read more]

BOLEHKAH MENGUCAPKAN TERSERAH TAKDIR ATAU TERSERAH WAKTU

Posted On // Leave a Comment

⏱BOLEHKAH MENGUCAPKAN TERSERAH TAKDIR ATAU TERSERAH WAKTU❓

🇸🇦Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah mengatakan:

"Ucapan 'terserah takdir' atau 'terserah waktu' adalah lafadh yang mungkar karena lafadh azh zhuruuf bentuk jamak (plural) dari zharf yaitu waktu sedangkan waktu tidak ada kehendaknya. Demikian pula lafadh aqdaar bentuk jamak dari qadr (takdir), sedangkan qadr tidak ada kehendaknya.

Akan tetapi yang menghendaki adalah Allah عز وجل."

📖Majmu' al Fatawa Libni 'Utsaimin 3/113

📲http://t.me/ukhwh

قال الإمام ابن عثيمين -رحمه الله- :

"قول : (شاءت الأقدار) أو (شاءت الظروف) ألفاظ منكرة؛ لأن الظروف جمع ظرف وهو الزمن والزمن لا مشيئة له، وكذلك الأقدار جمع قدر، والقدر لا مشيئة له، وإنما الذي يشاء هو الله -عز وجل-."

📚مجموع الفتاوى لابن عثيمين ١١٣/٣

[Read more]

SHALATNYA ISTRI DI RUMAH BERSAMA SUAMI

Posted On // Leave a Comment

════════════════════

       ⚖ FATWA ULAMA ⚖

════════════════════

👐🏼🌹🥋 SHALATNYA ISTRI DI RUMAH BERSAMA SUAMI

✒ Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

🔅 Pertanyaan :
Apakah shalatku dibelakang suami DI RUMAH terhitung sebagai shalat berjamaah ❓

🔅 Jawaban :

👋🏼 Terhitung sebagai shalat berjamaah.Namun nampaknya shalat tersebut TIDAK menghasilkan pahala shalat berjamaah.

🕌 Karena pahala shalat berjamaah hanya dihasilkan oleh siapa saja yang shalat di masjid.❗

☝🏻 Yang aku maksudkan adalah PAHALA BESAR yang telah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sabdakan :

•••"Shalat berjamaah lebih utama 27 derajat daripada shalat sendiri"•••

👉🏼 Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menafsirkan hadits tersebut bahwa yang dimaksud adalah sholat berjamaah di masjid,beliau juga bersabda :

•••"Barangsiapa keluar dari rumahnya dan tidaklah mendorongnya KELUAR dari rumah kecuali untuk menegakkan shalat."•••

📼 Sumber : Silsilah Fatawa Nur alad Darb kaset nomor 300

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

هي جماعة لكنه لا يحصل بها أجر الجماعة فيما يظهر؛ لأن أجر الجماعة إنما يحصل لمن صلى في المسجد، وأعني بذلك الأجر العظيم؛ الذي هو كما قال النبي عليه الصلاة والسلام: «صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفرد بسبعة وعشرين درجة»؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم فسر ذلك بما يدل على أن المراد بذلك صلاة الجماعة في المسجد، فقال: « إذا خرج من بيته لا ينهزه إلا الصلاة». 

📼 المصدر: سلسلة فتاوى نور على الدرب  الشريط رقم [300]

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

✍🏻WhatsApp
Ⓚ①ⓉⒶ🌏ⓈⒶⓉⓊ
Bagi-bagi faedah ilmiahnya....ayo segera  bergabung
🌐📲 Join Channel Ⓚ①Ⓣ
https://bit.ly/KajianIslamTemanggung

📻📡 Dengarkan••• [ VERSI BARU❗ ]  Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia
http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia2

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

[Read more]

HUKUM KOTAK INFAK DI MASJID

Posted On // Leave a Comment

════════════════════

       ⚖ FATWA ULAMA ⚖

════════════════════

📦💰🕌 HUKUM KOTAK INFAK DI MASJID

💺 Asy-Syaikh Prof. Dr. Abdullah Al-Bukhâri حفظه الله تعالى

☎ Pertanyaan :

Apa hukum meletakkan kotak di bagian belakang masjid untuk sumbangan demi kepentingan masjid❓

✅ Jawaban :

Jangan lakukan ini ! Atau, perbuatan seperti ini jangan dilakukan ! Ketika ada suatu hal menimpa orang-orang dan ada sesuatu yang sifatnya insidental yang menuntut penduduk daerah tersebut atau warga kampung tersebut untuk bahu-membahu,
ya, maka tidak mengapa mengundang mereka dan memberikan penjelasan kepada mereka.

Dan Jika penggalangan itu dilakukan di dalam masjid maka tidak masalah, atau di luar masjid maka ini lebih baik. Adapun meletakkan kotak terus-menerus seperti ini sepanjang waktu, maka jangan. Ini jangan dilakukan.

Ini tidak termasuk bagian dari sunah (ajaran Nabi ﷺ, pent.) sedikit pun. Wallâhu a’lam.

ما حكم وضع الصندوق في آخر المسجد من أجل التبرع لصالح المسجد؟

لا تفعلْ هذا أو لا يُفعَلْ مثل هذا الفعل، إذا حزب الناس أمرٌ وثمةَ عارضٌ يحتاج إلى أن يتكاتفَ أهل تلك المنطقة أو أهل تلك البلدة، نعم، لا بأس أن يدعُوهم وأن يبيِّنَ لهم وأن يكون الجمعُ إذا ما جُمِعَ في داخل المسجد لا بأس أو خارجَه يكون أفضل، أما أن يوضع الصندوق دائمًا هكذا أبدا لا، لا يُفعَل هذا, هذا ليس من السنة في شيء. والله أعلم.

_________________

✍🏻WhatsApp
Ⓚ①ⓉⒶ🌏ⓈⒶⓉⓊ
Bagi-bagi faedah ilmiahnya....ayo segera  bergabung
🌐📲 Join Channel Ⓚ①Ⓣ
https://bit.ly/KajianIslamTemanggung

📻📡 Dengarkan••• [ VERSI BARU❗ ]  Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia
http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia2

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Link audio :
http://bit.ly/HukumKotakInfakDiMasjid_AsySyaikhAbdullahAlBukhari

[Read more]

Angin yang Keluar dari Kemaluan

Posted On // Leave a Comment

Angin yang Keluar dari Kemaluan

Apakah termasuk membatalkan wudhu dan shalat apabila keluar angin dari kemaluan setelah melahirkan dan setelah nifas, dan hal itu selalu terjadi ketika itu ruku’ ataupun sujud dalam shalat?

Ummu Ubaidurrahman-Poso

Dijawab Oleh: al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari

Alhamdulillah. Perlu diketahui bahwa angin yang keluar dari lubang kemaluan (qubul) bukanlah perkara yang biasa dan bukan hal yang sering terjadi, berbeda dengan angin yang keluar dari dubur. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahberkata, “Angin ini terkadang keluar dari lubang kemaluan (qubul) para wanita. Aku beranggapan tidak akan keluar dari qubul laki-laki, dan boleh jadi keluar, akan tetapi itu jarang sekali.”

Oleh karena itulah, para ulama berselisih pendapat apakah hal itu membatalkan wudhu atau tidak:

1. Mazhab jumhur ulama, di antaranya Ibnul Mubarak, asy-Syafi’i, dan Ahmad, bahwa hal itu membatalkan wudhu dengan dalil-dalil sebagai berikut.

Pertama, hal itu masuk dalam keumuman hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu riwayat Muslim dan hadits Abdullah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma yang muttafaqun ‘alaih, tentang orang yang merasakan sesuatu pada perutnya ketika shalat kemudian dia ragu apakah ada sesuatu yang keluar atau tidak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتاً أَوْ يَجِدَ رِيْحاً

“Janganlah dia membatalkan shalatnya sampai dia mendengar ada bunyi (angin yang keluar) atau mencium baunya.”

Artinya sampai dia yakin adanya angin yang keluar meskipun tidak mendengarnya atau mencium baunya. Jadi hadits ini umum menunjukkan bahwa angin yang keluar melalui salah satu dari dua lubang kemaluan depan (qubul) dan belakang (dubur) membatalkan wudhu. Hanya saja yang lazim terjadi adalah dari dubur.

Kedua, pengkiasan terhadap benda-benda lain yang keluar sebagaimana lazimnya melalui salah satu lubang kemaluan seperti kencing, berak, keluarnya madzi, dan yang lainnya. Karena, penyebutan perkara-perkara tersebut dalam banyak hadits bukanlah sebagai suatu bentuk pengkhususan, akan tetapi merupakan penyebutan sebagian (contoh) dari segala sesuatu yang keluar melalui dua lubang kemaluan. Hanya saja konteks ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentunya berkaitan dengan perkara-perkara yang umum dan lazim terjadi.

2. Abu Hanifah rahimahullahberpendapat bahwa hal itu tidak membatalkan wudhu.

Wallahu a’lam, yang kami pandang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur. (lihat Sunan at-Tirmidzidalam penjelasan hadits no. 74, al-Majmu’ karya an-Nawawi rahimahullah, 2/4—8, Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd rahimahullah, 1/24—25, asy-Syarhul Mumti’, 1/220)

Namun apabila angin tersebut senantiasa keluar dari qubul seorang ibu setiap kali ruku’ dan sujud sehingga merupakan hadats yang terus-menerus, maka dinamakan salasil ar-rih (angin yang keluar terus-menerus). Hukumnya sama dengan salasil al-hadats lain seperti salasil al-baul (air kencing yang keluar terus-menerus), salasil al-madzi (madzi yang keluar terus-menerus), dan yang lainnya. Wanita yang mengalami salasil ar-rih cukup baginya berwudhu setiap kali hendak melaksanakan shalat fardhu (wajib) ketika waktu shalat tersebut telah masuk, kemudian dia shalat dan berusaha menjaga agar tidak berhadats semampunya. Sedangkan angin yang keluar dari qubulnya di tengah-tengah shalatnya tidak membatalkan wudhu dan shalatnya, kecuali bila terjadi hadats yang lain seperti angin yang keluar dari duburnya, maka ini tentunya membatalkan wudhu dan shalatnya. Namun apabila ada waktu-waktu tertentu yang salasil al-hadatstersebut reda atau berhenti, maka wajib baginya untuk menanti kemudian berwudhu dan shalat pada saat-saat tersebut, selama tidak keluar dari batasan waktu shalat. (Lihat Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, 21/221, asy-Syarhul Mumti’ karya asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, 1/392, terbitan Muassasah Asam)

https://asysyariah.com/angin-yang-keluar-dari-kemaluan/

[Read more]

APAKAH ANGIN YANG KELUAR DARI KEMALUAN WANITA MEMBATALKAN SHALAT DAN WUDHU.

Posted On // Leave a Comment

AHKAM
~~~~~

APAKAH ANGIN YANG KELUAR DARI KEMALUAN WANITA MEMBATALKAN SHALAT DAN WUDHU.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

❓❓Pertanyaan ke 23: Al Lajnah Ad Da'imah lil Ifta' ditanya: Seorang wanita jika sedang melakukan Shalat, termasuk ruku' dan sujud, kemudian keluar angin dari kemaluannya khususnya pada saat sujud, duduk diantara dua sujud, duduk tasyahud dan ruku,  terkadang keluarnya angin ini terdengar oleh rekannya yang berada disebelahnya, apakah hal serupa ini membatalkan Shalat wanita itu? dan terkadang angin yang keluar itu amat sedikit sekali hingga tidak terdengar, apakah hal serupa ini membatalkan wudhu dan juga Shalat?

👉 Jawaban: Keluarnya angin dari kemaluan wanita tidak membatalkan wudhu dan juga tidak membatalkan Shalat.

📚 Fatawa Al Lajnah Ad Da'imah lil Ifta; 5/265.

✏️ 🌈 AL HUDA 🌈
        🔻🔻🔻🔻🔻
Telegram Hukum-hukum
Channel telegram

📲tele   .me/LilHuda

🔴➰➰➰🔴➰➰➰🔴

[Read more]