HUKUM SUNGKEM KEPADA ORANG TUA PADA HARI 'ID

Posted On // Leave a Comment
::
🚇 HUKUM SUNGKEM KEPADA ORANG TUA PADA HARI 'ID

Asy-Syaikh 'Ubaid bin Abdillah al Jabiri hafizhahullah


[Pertanyaan]
Penanya dari Malaysia, di kalangan orang Malaysia ada kebiasaan dimana setiap 'Id kami pergi mengunjungi orang tua kami, lalu meminta meminta maaf dari mereka terhadap segala kesalahan yang telah dilakukan sambil berlutut (sungkem) sedangkan orang tua duduk di kursi.Lantas apa nasehat anda kepada kami mengenai kebiasaan ini?


[ Jawaban ]

لماذا تقصدون يوم العيد؟ فمن أَخْطَأَ في حقِّ والديْه فليطلب عَفْوَه ومسامحَتَه؛ هذا أولًا.

ثانيًا: كونُكَ تجلس على الرُّكبة؛ هذا لا أعلمُ له دليلًا، وإنَّما تذهب إلى والدك وتُقبِّل رأسه ويَدِه وتَسْتَعْطِفُه، وتسألهُ المسامحة في أيِّ وقتٍ تكون أخطأت خطأ واضحًا، أمَّا مُجرَّد تَوقُّع الخطأ؛ فالأصل يا بُنَي خُلُوُّ الذِّمة حتى يَظْهَر الموجِب، مادامَ أنَّك سألتَهُ السَّماح ولم تعلم أنَّك أخطأت في حقِّه بهذه الطريقة، فهذا تَكلُّف وهذا من الغُلُو، ويجبُ على الآباء أن يمنعوا أبناءَهم من ذلك. نعم.

"Mengapa kalian pergi minta maaf hanya pada hari 'Id? Barangsiapa melakukan kesalahan terhadap orang tuanya, hendaknya dia minta maaf dan memaafkan dirinya. Ini yang pertama.

Kedua: engkau dalam kondisi duduk berlutut. Ini tidak aku ketahui memiliki dalil. Akan tetapi yang disyariatkan hanyalah engkau pergi kepada orang tuamu lalu mencium kepalanya dan tangannya serta merasa belas kasih kepadanya. Kemudian engkau meminta kepada orang tuamu untuk memaafkan setiap kali engkau berbuat kesalahan yang nyata. 

Adapun hanya menebak-nebak kesalahan, maka pada dasarnya wahai anakku tidak adanya tanggungan hingga nampak penyebabnya. 

Jadi, selama engkau meminta maaf kepadanya dengan cara ini tanpa mengetahui kalau engkau berbuat salah terhadap orang tua, maka ini merupakan pembebanan diri dan termasuk ghuluw (berlebihan). Sehingga wajib para ayah melarang anak-anaknya dari perbuatan ini. Ya."

https://www.miraath.net/ar/taxonomy/term/73/all?page=7 | @ukhwh

••••
📶 https://bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF] 
🌍 www.alfawaaid.net

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
[Read more]

TENTANG PUASA SYAWAL ENAM HARI

Posted On // Leave a Comment
TENTANG PUASA SYAWAL ENAM HARI

بسم الله الرحمن الرحيم

Saudara-saudara sekalian, puasa adalah ibadah yang sangat agung. Puasa merupakan salah satu dari sekian banyak amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Setelah menyelesaikan puasa Ramadan selama satu bulan penuh, seorang muslim tentu merasakan kekurangan dalam amalannya. Oleh karena itu, ia akan berupaya menutupi amalannya dengan ibadah-ibadah sunah.

Berikut ini akan kami sajikan di hadapan para pembaca sekalian beberapa pembahasan yang berkaitan dengan puasa Syawal yang dikerjakan sebanyak enam hari. Semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua.

 KEUTAMAAN PUASA SYAWAL

Tentang keutamaan puasa Syawal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

من صام رمضان ثمّ أتبعه ستاّ من شوّال كان كصيام الدّهر

“Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian mengiringinya dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka seakan-akan dia telah berpuasa setahun penuh lamanya” (Muslim, no.1.984 dari sahabat Abu Ayyub al-Anshari).

Demikian pula hadis dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

من صام ستة أيام بعد الفطر كان تمام السنة (من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها)

“Barang siapa berpuasa enam hari setelah Idulfitri, maka (pahala) puasanya menjadi sempurna satu tahun (barang siapa melakukan amal yang baik, baginya [pahala] sepuluh kali lipat)”
(Ibnu Majah; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1.402).

Mengapa dikatakan pahala puasanya seperti puasa setahun penuh? Imam al-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

وإنما كان ذلك كصيام الدهر لأن الحسنة بعشر أمثالها فرمضان بعشرة أشهر والستة بشهرين

“Hanya saja hal tersebut dikatakan seperti puasa setahun penuh karena kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Sebab itu, hitungan puasa Ramadan menjadi sepuluh bulan ditambah dengan Syawal dua bulan, maka genaplah satu tahun”
(Syarh Shahih Muslim, Jilid 8, hlm. 56).

Dengan kata lain, sehari puasa Ramadan dihitung sepuluh hari, maka tiga puluh hari dihitung tiga ratus hari yang sama dengan sepuluh bulan. Sementara itu, puasa Syawal enam hari menjadi enam puluh, maka genaplah 360 hari atau setahun penuh. Namun, seorang muslim bisa saja mendapatkan pahala yang lebih tergantung keutamaan Allah kepada setiap hamba.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana diriwayatkan dari  Rabb-nya  tabaraka wa ta’ala,

إِنَّ الله كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ؛ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمائَةِ ضِعْفٍ إِلىَ أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ

“Sesungguhnya Allah menetapkan adanya kebaikan dan kejelekan, kemudian Dia menjelaskannya. Barang siapa yang berniat untuk mengerjakan amal kebaikan dan belum terlaksana, Allah akan catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Kemudian jika dia berniat untuk kebaikan dan mengerjakannya, Allah akan catat baginya dengan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai berlipat–lipat banyaknya” (Al-Bukhari, no. 6.491 dan Muslim no. 131).

Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

 الله عز وجل بفضله ورحمته جعل الجزاء في الحسنات أكثر من العمل، الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائةضعف إلى أضعاف كثيرة

“Allah ‘azza wa jalla, berkat keutamaan dan rahmat-Nya, menjadikan balasan kebaikan-kebaikan itu lebih banyak daripada amalannya. Kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat atau bahkan sampai berkali-kali lipat” (Fath Dzi al-Jalali wa al-Ikram, Jilid 1, hlm. 192).

 HUKUM PUASA SYAWAL

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum puasa Syawal. Namun, pendapat yang benar hukumnya adalah sunah sesuai dengan penjelasan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lalu. Inilah pendapat jumhur ulama. Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan,

صوم ستة أيام من شوال مستحب عند كثير من أهل العلم. روي ذلك عن كعب الأحبار، والشعبي، وميمون بن مهران وبه قال الشافعي

“Puasa Syawal sebanyak enam hari hukumnya sunah menurut jumhur ulama. Yang demikian itu diriwayatkan dari Ka‘ab al-Ahbar, al-Sya‘bi, dan Maimun bin Mihran. Inilah pendapat al-Syafi‘i” (Al-Mughni, Jilid 3, hlm. 176).

 WAKTU PELAKSANAAN PUASA SYAWAL

Boleh bagi seseorang untuk memulai puasa Syawal pada awal bulan secara berkesinambungan atau terpisah karena yang demikian itu masih termasuk puasa Syawal sebanyak enam hari. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,

فلا فرق بين كونها متتابعة أو متفرقة في أول الشهر أو في آخره لأن الحديث ورد بها مطلقاً من غير تقييد، ولأن فضيلتها لكونها تصير مع الشهر ستة وثلاثين يوماً، والحسنة بعشر أمثالها فيكون ذلك كثلاثمائة وستين يوماً وهو السنة كلها فإذا وجد ذلك في كل سنة صار كصيام الدهر كله وهذا المعنى يحصل بالتفريق والله أعلم

“Tidak ada perbedaan jika puasa tersebut dilakukan langsung setelah Ramadan secara berkesinambungan atau dilakukan secara terpisah pada awal atau akhir bulan. Hal itu karena lafaz hadis menyebutkan secara mutlak tanpa memberi batasan dan karena keutamaannya terhitung bersama satu bulan (Ramadan) dengan dilengkapi Syawal menjadi 36 hari. Adapun kebaikannya dilipatgandakan sepuluh kali lipat, maka jadilah seperti puasa 360 hari, yaitu setahun penuh. Jika yang demikian itu dilakukan setiap tahun, maka seperti puasa sepanjang masa. Keutamaan yang seperti ini masih akan didapatkan jika dilakukan secara terpisah, wallahu a‘lam” (Al-Mughni, Jilid 3, hlm. 177).

Namun, jika seseorang langsung mengerjakannya setelah Ramadan secara berkesinambungan, maka inilah yang afdal karena lebih bersegera dalam kebaikan. Allah tabaraka wa ta‘ala berfirman,

فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ

“Berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan” (Al-Baqarah: 148).

Inilah pendapat mazhab Syafi‘iyyah. Imam al-Nawawi rahimahullah berkata,

قال أصحابنا والأفضل أن تصام الستة متوالية عقب يوم الفطر فإن فرقها أو أخرها عن أوائل شوال إلى أواخره حصلت فضيلة المتابعة لأنه يصدق أنه أتبعه ستا من شوال

“Sahabat-sahabat kami (dari mazhab Syafi‘iyyah) berkata, yang afdal adalah puasa Syawal sebanyak enam hari dilakukan secara langsung dan berurutan setelah Idulfitri. Jika dilakukan secara terpisah atau diakhirkan dari awal-awal bulan sampai akhir bulan, masih tetap mendapat keutamaannya karena hal ini pantas untuk dikatakan puasa Ramadan dan diikuti puasa Syawal sebanyak enam hari”
(Syarh Shahih Muslim, Jilid 8, hlm. 56).

Jika dilakukan langsung setelah hari Id pada tanggal dua Syawal, maka hal ini afdal dan tidak terlarang melakukannya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

ستة الأيام من شوال لا بأس أن تكون من ثاني العيد

“Tidak mengapa puasa Syawal sebanyak enam hari dilakukan pada hari kedua setelah Id” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 20, hlm. 20).

Puasa hari kedua setelah Idulfitri pun tidaklah makruh menurut jumhur ulama. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata,

وأكثر العلماء على أنه لا يكره صيام ثاني يوم لفطر

“Kebanyakan ulama berpandangan bahwa puasa pada hari kedua setelah Idulfitri tidaklah makruh” (Latha’if al-Ma‘arif, Jilid 1, hlm. 219).

Tidak ada waktu tertentu untuk puasa Syawal enam hari ini. Boleh bagi seseorang untuk memulai dan mengakhirinya pada hari apa pun dari hari-hari dalam bulan itu. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

وهذه الست ليس لها أيام محدودة معينة من شوال بل يختارها المؤمن من جميع الشهر

“Enam hari ini tidak ada padanya batasan hari-hari tertentu. Bahkan, boleh seorang mukmin memilihnya dari setiap hari pada bulan itu” (Majmu‘ al-Fatawa, Jilid 20, hlm. 21).

 HUKUM MENGGABUNGKAN NIAT PUASA QADA DAN SYAWAL ENAM HARI

Masalah ini telah ditanyakan kepada al-‘Allamah ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah dan beliau menjawab,

نعم، تبدأ بالقضاء، ثم تصوم الست إذا أرادت، الست نافلة، إذا قَضَتْ في شوال ما عليها ثم صامت الست في شوال هذا خير عظيم، وأما أن تصوم الست بنية القضاء والست، فلا يظهر لنا أنه يحصل لها الأجر في ذلك، الست تحتاج لها نية خاصة في أيام مخصوصة

“Hendaknya engkau memulai dengan qada Ramadan kemudian jika engkau menginginkan puasa Syawal sebanyak enam hari, maka berpuasalah. Jika seseorang telah mengqada utang puasa Ramadannya pada bulan Syawal kemudian dia berpuasa enam hari, ini adalah kebaikan yang besar. Adapun dia menggabung niat puasa Syawal enam hari dengan qada Ramadan, hal ini tidak jelas bagi kami bahwa dia akan mendapat pahala atas yang demikian itu sebab puasa Syawal enam hari membutuhkan niat yang khusus pada hari yang khusus” (Fatawa Nur ‘ala al-Darb, Jilid 16, hlm. 446).

 HUKUM MENGGABUNGKAN NIAT PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SUNAH LAINNYA

Selama puasa tersebut hukumnya sunah dengan sunah, maka niatnya boleh digabung. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

وإذا اتفق أن يكون صيام هذه الستة في يوم الاثنين أو الخميس فإنه يحصل على الأجرين بنية أجر الأيام الستة وبنية أجر يوم الاثنين والخميس لقوله صلى الله عليه وسلم إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرء ما نوى

“Apabila puasa Syawal enam hari ini bertepatan dengan hari Senin dan Kamis, maka sesungguhnya bisa mendapatkan dua pahala dengan niat puasa Syawal enam hari dan puasa Senin-Kamis. Hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan hanyalah seseorang mendapatkan apa yang dia niatkan'” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 20, hlm. 18–19).

Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

إذا كان الصوم واجبا لا بد من نية الصوم الواجب الذي عليه، أما إذا كان تطوعا الحمد لله، إذا وافق يوم الاثنين، يوما من الأيام البيض، وافق خيرا على خير والحمد لله

“Apabila puasa tersebut wajib, harus niat puasa yang wajib tersebut atasnya (tidak digabungkan dengan puasa sunah). Adapun apabila puasa sunah, alhamdulillah apabila bertepatan dengan hari Senin, Kamis, dan yaumul bidh, maka ketika niatnya digabungkan sungguh telah menepati kebaikan di atas kebaikan, alhamdulillah” (Fatawa Nur ‘ala al-Darb, Jilid 16, hlm. 424–425).

 HUKUM MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA QADA PUASA RAMADAN

Dalam hal ini, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada dua pendapat.

Pendapat pertama, harus menyelesaikan qada Ramadan terlebih dahulu untuk mendapatkan keutamaan puasa Syawal. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah menjelaskan,

لأنها مع صيام رمضان أي: جميعه وإلا لم يحصل الفضل الآتي وإن أفطر لعذركصيام الدهر

“(Seseorang harus menqada puasa Ramadan terlebih dahulu untuk mendapatkan keutamaan puasa Syawal) karena puasa Syawal beriringan dengan puasa Ramadan, yaitu keseluruhannya. Jika tidak demikian, maka tidak akan mendapatkan keutamaannya, yaitu seperti puasa sepanjang masa, jika dia tidak mengerjakan puasa karena uzur.” (Tuhfah al-Muhtaj, Jilid 3, hlm. 456).

Demikian pula Ibnu Muflih rahimahullah menjelaskan,

ويتوجه تحصيل فضيلتها لمن صامها وقضى رمضان وقد أفطره لعذر لعله مراد الأصحاب

“Akan didapat keutamaan puasa Syawal enam hari bagi orang yang telah melakukannya dan telah mengqada puasa Ramadan ketika dia tidak berpuasa Ramadan karena uzur. Sepertinya, inilah yang diinginkan oleh mazhab Hanabilah.” (Al-Furu‘, Jilid 5, hlm. 86).

Pendapat inilah yang dipilih oleh Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz, Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, dan yang lainnya rahimahumullah. Syekh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan,

قال النبي صلى الله عليه وسلم: من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر. وإذا كان على الإنسان قضاء وصام الست قبل أن يصوم القضاء فهل يقال إنه صام رمضان وأتبعه بست من شوال؟ لا ما صام رمضان إذ لا يقال صام رمضان إلا إذا أكمله وعلى هذا فلا يثبت أجر صيام ستة من شوال لمن صامها وعليه قضاء من رمضان إلا إذا قضى رمضان ثم صامها

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan puasa Syawal sebanyak enam hari, maka seakan-akan dia telah berpuasa setahun penuh lamanya.’ Apabila seseorang mempunyai utang puasa Ramadan, kemudian dia berpuasa enam hari pada bulan Syawal sebelum mengqadanya, apakah bisa orang yang seperti ini dikatakan sesungguhnya dia telah puasa Ramadan dan diikuti puasa Syawal sebanyak enam hari? Jawabannya tentu tidak. Dia belum puasa Ramadan karena tidaklah dikatakan dia telah puasa Ramadan kecuali apabila telah menyempurnakannya. Atas dasar ini, tidak berlaku pahala puasa Syawal sebanyak enam hari bagi yang telah mengerjakannya, tetapi masih ada utang puasa Ramadan. Kecuali apabila dia telah menyelesaikan utang-utang puasa Ramadan, kemudian melanjutkan puasa Syawal sebanyak enam hari.” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 20, hlm. 20).

Bagaimana jika seseorang mempunyai utang puasa sebulan penuh, seperti wanita nifas atau yang semisalnya, kapan dia akan melakukan puasa Syawal? Menurut Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, dia harus menyelesaikan qada terlebih dahulu, kemudian baru berpuasa Syawal pada bulan Zulkaidah. Beliau rahimahullah menjelaskan,

فلو فرض أن القضاء استوعب جميع شوال مثل أن تكون امرأة نفساء ولم تصم يوما من رمضان ثم شرعت في قضاء الصوم في شوال ولم تنته إلا بعد دخول شهر ذي القعدة فإنها تصوم الأيام الستة ويكون لها أجر من صامها في شوال لأن تأخيرها هنا للضرورة وهو متعذر، فصار لها الأجر

“Jika seseorang mengqada puasa Ramadan sebulan penuh pada bulan Syawal, seperti wanita nifas, dia tidak melakukan puasa Ramadan walaupun satu hari. Kemudian dia memulai membayar utangnya pada bulan Syawal. Tidaklah dia menyelesaikan qadanya melainkan telah masuk bulan Zulkaidah. Karena itu, yang hendaknya dia lakukan adalah puasa enam hari Syawal pada bulan tersebut. Adapun dia tetap mendapat pahala seperti orang yang puasa enam hari pada bulan Syawal karena keterlambatannya di sini adalah perkara yang darurat. Dia mendapat uzur, maka dia tetap mendapatkan pahalanya” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 20, hlm. 19).

Adapun ucapan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ يَكُوْنُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلاَّ فِي شَعْبَانَ. قَالَ يَحْيَى: الشُّغْلُ مِنَ النبيِّ أوْ بالنبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ.

“Dahulu aku memiliki utang puasa Ramadan dan tidaklah aku sempat mengqadanya kecuali setelah sampai bulan Syakban (yakni terus tertunda hingga tiba bulan Syakban berikutnya–pen).” Yahya mengatakan, “Hal itu karena kesibukannya dalam melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Al-Bukhari, no.1.950).

Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah menerangkan,

ويظهر في هذا أن عائشة رضي الله عنها، ما كانت تصوم الست من شوال في حياة الرسول صلى الله عليه وسلم، ولا غيرها من النوافل، وعليها القضاء، والظاهر أنها تؤخر القضاء وغير القضاء

“Yang tampak di sini bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tidak melakukan puasa enam hari pada bulan Syawal selama bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula puasa sunah lainnya dalam keadaan beliau masih memiliki utang puasa. Yang tampak adalah beliau mengakhirkan qada dan yang lainnya” (Fatawa Nur ‘ala al-Darb, Jilid 16, hlm. 445).

Pendapat kedua, boleh bagi seseorang untuk mengakhirkan qada dan mendahulukan puasa Syawal sebanyak enam hari, terlebih bagi yang memiliki utang puasa Ramadan yang banyak. Hal itu karena qada Ramadan bisa dilakukan pada bulan apa pun dan waktunya luas. Adapun puasa enam hari ini, keutamaannya hanya ada pada bulan Syawal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan keutamaannya khusus dengan bulan Syawal. Adapun mengqada Ramadan, kewajibannya tidak harus langsung ditunaikan, bahkan boleh ada senggang waktu menurut mayoritas ulama salaf. Imam al-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

مذهب مالك وأبي حنيفة والشافعي وأحمد وجماهير السلف والخلف أن قضاء رمضان في حق من أفطر بعذر كحيض وسفر يجب على التراخي ولا يشترط المبادرة به في أول الإمكان

“Mazhab Imam Malik, Abu Hanifah, al-Syafi’i, Ahmad, dan jumhur ulama salaf, serta yang setelahnya adalah qada Ramadan bagi orang yang tidak berpuasa karena uzur seperti di antara contohnya haid dan safar, wajib disertai dengan senggang waktu. Tidak disyaratkan untuk bersegera sebisa mungkin pada awal waktu” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 8, hlm. 22–23).

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَكُوْنُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلاَّ فِي شَعْبَانَ. قَالَ يَحْيَى: الشُّغْلُ مِنَ النبيِّ أوْ بالنبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ.

“Dahulu aku memiliki utang puasa Ramadan dan tidaklah aku sempat mengqadanya kecuali setelah sampai bulan Syakban (yakni terus tertunda hingga tiba bulan Syakban berikutnya–pen).” Yahya mengatakan, “Hal itu karena kesibukannya dalam melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Al-Bukhari, no.1.950).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan,

وفي الحديث دلالة على جواز تأخير قضاء رمضان مطلقا سواء كان لعذر أو لغير عذر

“Di dalam hadis tersebut terdapat dalil atas bolehnya mengakhirkan qada Ramadan, baik karena uzur maupun tidak.” (Fath al-Bari, Jilid 4, hlm. 191).

Oleh karena itu, jika seseorang mampu untuk mengqada puasa Ramadan terlebih dahulu, setelah itu puasa Syawal sebanyak enam hari. Inilah yang semestinya ditempuh karena kewajiban harus didahulukan. Namun, jika sulit karena uzur, tidak mengapa seseorang mendahukukan puasa Syawalnya. Syekh Muqbil bin Hadi rahimahullah menjelaskan,

وقت القضاء موسع، بخلاف صوم الست فليس لها محل إلا في شوال أما وقت القضاء فقد جاء عن عائشة رضي الله تعالى عنها أنها قالت: ما كنت أقضي إلا في شعبان، أي لأنها تشغل برسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم.

“Waktu qada itu luas. Berbeda halnya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal yang tidaklah berlaku kecuali pada bulan Syawal. Adapun waktu qada, sungguh telah datang riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menerangkan bahwa beliau tidaklah mengqada utang puasanya kecuali pada bulan Syakban karena beliau sibuk berkhidmat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (http://muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2278).

Inilah pendapat yang kuat, wal-‘ilmu ‘indallah. Meskipun ini adalah ucapan ‘Aisyah, riwayat tersebut secara hukum disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,

للحديث حكم الرفع لأن الظاهر اطلاع النبي صلى الله عليه وسلم على ذلك مع توفر دواعي أزواجه على السؤال منه عن أمر الشرع فلو لا أن ذلك كان جائزا لم تواظب عائشة عليه

“Hadis ini memiliki hukum disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang tampak adalah beliau mengetahui hal itu karena sudah semestinya istri-istri beliau bertanya tentang hukum syariat. Seandainya hal itu tidak boleh, tentu ‘Aisyah tidak terus-menerus seperti itu.”
(Fath al-Bari, Jilid 4, hlm. 191).

 Oleh: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

https://www.alfudhail.com/tentang-puasa-syawal-enam-hari/
[Read more]

HUKUM MEMAKAI VIDEO CONFERENCE

Posted On // Leave a Comment
🔰|| ﷽ ||🔰
💎(FAEDAH MALAM)💎
       
📱HUKUM MEMAKAI VIDEO CONFERENCE❓

📝PERTANYAAN

Bismillah.
Bagaimana hukumnya mengunakan video conference (web cam), yang perkara ini digunakan untuk berhubungan dengan keluarga yang jauh dan lama tidak bertemu?

Jazakallahukhoiron wa Barakallahufiik.
(08522776####)

🎙️JAWABAN
Menggunakan web cam untuk kepentingan keluarga seperti dalam pertanyaan diperbolehkan, hal ini karena tidak ada unsur penyimpanan gambar semacam foto atau rekaman video.

📲Bahkan  komunikasi  gambar secara langsung  semacam ini sangat mirip dengan kaca cermin, sehingga tidak masuk dalam larangan menggambar makhluk bernyawa.

√Kami tekankan lagi ,asalkan hal ini hanya untuk keluarga atau juga teman.

√Yang  jelas bukan untuk dilihat  oleh seseorang yang  tidak boleh melihat nya secara SYAR'I.

☝🏻Oleh karenanya, dibutuhkan juga disini sifat amanah dari masing masingnya
agar tidak memperlihatkan kepada orang yang tidak boleh melihat secara SYAR'I  dan tidak merekam.

(Dijawab oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi ZA, Lc )

SUMBER : Rubrik soal jawab MAJALAH AL QUDWAH edisi 5 vol.01 2013 halaman 69/ 70 

https://t.me/CTIS_ChannelTelegramIlmuSyari

Edited
📡 Turut mempublikasikan:
🌱🌻 WA Ilmu Syar'i
              Tulungagung 🌻🌱

📱 Join Channel Telegram:
https://t.me/taklimtulungagung
[Read more]

Apakah Disyaratkan Jumlah Jamaah Tertentu?

Posted On // Leave a Comment

Apakah Disyaratkan Jumlah Jamaah Tertentu?

Sahnya shalat Jum’at itu dengan berjamaah. Dari Thariq bin Syihab radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ
Jum’atan adalah hak yang wajib ditunaikan secara berjamaah atas setiap muslim.” (HR. Abu Dawud)
Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Shalat Jum’at tidak sah selain dengan berjamaah menurutijma’.”(Subulus Salam 2/53)
Namun, ulama berbeda pendapat dalam hal jumlah yang harus hadir untuk sahnya Jum’atan menjadi lima belas pendapat. Setiap pendapat mengemukakan argumentasinya. Akan tetapi, tidak ada sedikit pun hadits-hadits yang kuat yang mengharuskan jumlah tertentu, sebagaimana dinyatakan oleh as-Suyuthi asy-Syafi’i rahimahullah. (Nailul Authar, 3/277)
Yang benar, syarat apa pun dalam suatu ibadah tidak dianggap selain yang ada dalilnya. Dalam masalah ini, tidak ada dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah (yang kuat) tentang penentuan jumlah. Yang pasti, shalat Jum’at harus dilakukan secara berjamaah, sebagaimana hadits Thariq bin Syihab radhiyallahu ‘anhu yang telah lalu. (Subulus Salam, 2/56—57)
Maka dari itu, dua orang adalah jumlah minimal untuk dikatakan jamaah, sebagaimana disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya, bab “Dua Orang dan yang Lebih dari Dua adalah Jamaah”, lalu beliau rahimahullah menyebutkan riwayat Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَأَذِّنَا وَأَقِيْمَا ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا
“Apabila waktu shalat telah datang, kumandangkan azan dan iqamah oleh kalian berdua, kemudian hendaklah yang paling tua dari kalian berdua menjadi imam.” (hadits no. 658)
Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Shalat berjamaah dalam seluruh shalat itu sah dengan dua orang, dan tidak ada perbedaan antara shalat Jum’at dan shalat jamaah. Tidak ada dalil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Jum’atan tidak sah selain dengan (jumlah jamaah) tertentu. Pendapat inilah yang paling kuat menurut saya.” (Nailul Authar, 3/276)
Adapun hadits-hadits yang datang tentang penyebutan jumlah jamaah shalat Jum’at, kesimpulannya ada dua:
1. Riwayatnya kuat, namun jumlah tersebut hanya bersifat kebetulan pada sebuah peristiwa dan tidak menunjukkan persyaratan Jum’atan.
Misalnya, atsar Ka’b bin Malik bahwa apabila mendengar azan Jum’at dikumandangkan, dia mendoakan rahmat bagi sahabat As’ad bin Zurarah karena dialah yang pertama kali memimpin shalat Jum’at di bani Bayadhah. Ketika ditanya jumlah jamaah ketika itu, Ka’b menjawab empat puluh orang. (Riwayat Abu Dawud no. 1069 dan dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar t dalam at- Talkhish 2/56)
2. Riwayatnya lemah dan tidak bisa dijadikan landasan hukum.
Contohnya adalah hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Sunnah (Nabi)
telah berlalu bahwa pada setiap tiga orang itu ada imamnya, atau pada setiap empat puluh orang atau lebih ada Jum’atan, (shalat Ied) al-Adha, dan al-Fitri, karena mereka adalah jamaah.” (HR. ad-Daruquthni 2/4)
Hadits ini dinyatakan dhaif (lemah) oleh ulama Syafi’iyah dan selainnya. Di antara mereka adalah al-Baihaqi rahimahullah dan an-Nawawi rahimahullah seperti dalam al-Majmu’ (4/368) dan Ibnu Hajar rahimahullah dalam Bulughul Maram. Alasannya, dalam sanad hadits ini ada rawi bernama Abdul Aziz bin Abdurrahman.
Ahmad rahimahullah berkata, “Saya mencoret hadits-haditsnya karena ia dusta atau palsu.”
An-Nasai rahimahullah berkata, “Dia bukan orang yang tepercaya.” (Subulus Salam2/56) Wallahua’lam bish-shawab.
[Read more]

Tata Cara Shalat Id di Rumah

Posted On // Leave a Comment
Tata Cara Shalat Id di Rumah

Tuntunan Islam Menghadapi Wabah Virus Corona & Lainnya (Bagian 20)

Pembaca, semoga Allah merahmati kita semua.

Beberapa pertanyaan datang tentang tata cara pelaksanaan shalat Id di rumah. Karena itu, mengenai shalat Id di rumah akan kita bahas insya Allah. Namun, sebelum itu, mengapa shalat Id dilaksanakan di rumah?

Tentu, jawabannya sudah kita maklumi bersama, yaitu karena kondisi wabah virus corona atau Covid-19. Selain itu, juga karena pemerintah kita menganjurkan untuk melaksanakan ibadah di rumah, sebagai salah satu upaya meminimalisir penyebaran virus corona.

Shalat Id di Rumah Menurut Tinjauan Syariat

Apakah hal di atas cukup menjadi alasan untuk shalat di rumah, apabila ditinjau dengan kacamata syariat?

Jawabannya, ya. Hal itu sudah cukup menjadi alasan untuk shalat Id di rumah, menurut beberapa keterangan ulama syariat. Kutipan berikut ini sebagai salah satu contohnya. Dalam kitab al–Inshaf, karya al-Mirdawi (wafat 885 H) disebutkan,

قَوْلُهُ {وَيُعْذَرُ فِي تَرْكِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ الْمَرِيضُ} بِلَا نِزَاعٍ، وَيُعْذَرُ أَيْضًا فِي تَرْكِهِمَا لِخَوْفِ حُدُوثِ الْمَرَضِ

“Ucapannya, ‘Dan orang yang sakit diterima alasannya untuk tidak berjamaah dan tidak mengikuti shalat Jumat)’, ini tanpa ada pertentangan pendapat ulama. Diterima juga alasannya untuk tidak menghadiri keduanya disebabkan kekhawatiran terjadinya penyakit.” (al–Inshaf, 2/300)

Telah kita ketahui bersama bahwa ulama berbeda pendapat tentang beberapa hukum fikih. Misalnya,

Shalat berjamaah di masjid

Ada ulama yang berpendapat wajib, ada pula yang berpendapat sunnah muakkadah.

Shalat Id

Ada ulama yang berpendapat fardu ain dan ada yang berpendapat fardu kifayah.

Bagi orang yang mengikuti pendapat tidak wajib dalam hal shalat berjamaah dan mengikuti pendapat fardu kifayah dalam hal shalat Id, kebijakan pemerintah kita (agar keduanya dilaksanakan di rumah) tidak begitu menjadi problem baginya.

Berbeda halnya bagi orang yang mengikuti pendapat bahwa shalat berjamaah di masjid dan shalat Id adalah fardu ain, kecuali bagi sebagian golongan tertentu—dan ini pendapat yang lebih kuat berdasarkan dalil-dalil yang cukup banyak. Demikian juga terkait dengan kewajiban shalat Jumat. Tentu, kebijakan pemerintah tersebut menuntut suatu pembahasan dari sisi syariat.

Syariat Islam Memberikan Solusi

Nah, perlu diketahui bahwa dalam hal ini ada solusi syar’i, yaitu telah terdapat rukhsah (dispensasi syariat) dalam hal tidak mengadakan shalat berjamaah di masjid atau shalat Jumat.

Sebagai contoh,  Imam al-Bukhari membuat sebuah bab dalam kitab Shahih-nya,

بَابُ الرُّخْصَةِ إِنْ لَمْ يَحْضُرِ الْجُمُعَةَ فِي الْمَطَرِ

“Bab Rukhsah (keringanan) apabila tidak datang shalat Jumat karena hujan.”

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari, penjelas Shahih al–Bukhari.

Ibnu Rajab juga menjelaskan,

“Tampaknya yang dimaukan oleh beliau (al-Bukhari) adalah bahwa Jumat hukumnya fardu ain, wajib. Tidak ada keringanan bagi seseorang untuk meninggalkannya kecuali dengan izin imam (penguasa suatu negeri) bagi orang-orang untuk tidak mengumandangkan azan. Sebab, azan yang di hadapan imam itulah yang membuat wajib untuk didatangi. Oleh karena itu, imam perlu memberi keringanan kepada mereka agar azan tidak dikumandangkan.” (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 8/155)

Karena alasan semacam inilah, dalam azan bisa ditambahkan ucapan,

صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ

Atau

صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ

“Shalatlah di rumah kalian.”

Pembaca, rahimakumullah.

Apabila hal ini terkait dengan shalat Jumat, bagaimana halnya dengan shalat jamaah lima waktu? Tentu lebih boleh untuk tidak dihadiri karena hujan. Dan memang demikian dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Kalau hujan saja bisa menjadi alasan dalam hal ini, bagaimana halnya dengan alasan yang nyata, yaitu penanggulangan wabah virus yang berbahaya bagi banyak orang?

Ingat kembali ucapan al-Mirdawi di atas dalam kitab al–Inshaf, “… tidak menghadiri keduanya disebabkan kekhawatiran terjadinya penyakit.”

Semoga hal ini bisa dipahami dengan baik.

Di samping itu, masih banyak hal lain yang menyebabkan gugurnya kewajiban berjamaah, seperti sakit—yakni orang yang sakit atau yang menanganinya—, keamanan jiwa di luar rumah tidak terjamin, dan beberapa sebab lain.

Ada yang lebih mengejutkan. Al-Bukhari membuat sebuah bab dalam kitab Shahih-nya,

بَابُ إِغْلاَقِ الْبَيْتِ، وَيُصَلِّي فِي أَيِّ نَوَاحِي الْبَيْتِ شَاءَ

“Bab Penutupan pintu Ka’bah, dan tentang shalat di sisi mana pun di Ka’bah sesuai dengan kehendak seseorang.”

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan maksudnya,

“Penulis (al-Bukhari) bermaksud menerangkan bahwa penutupan masjid dan Ka’bah, serta yang serupa dengannya karena adanya suatu kepentingan, boleh saja. Tidak dikatakan bahwa ini termasuk menghambat dilakukannya zikir dari masjid Allah. Sebab, tindakan ini berdasarkan alasan suatu maslahat, keperluan, atau bahkan terkadang karena kondisi darurat, maka tidak mengapa.” (Syarah Shahih al-Bukhari)

Dengan penjelaan di atas, kita mantap insya Allah dalam melaksanakan shalat Id di rumah. Syariat membolehkannya disebabkan suatu alasan yang syar’i. Apalagi ketika pemerintah telah menganjurkannya dengan alasan yang sangat logis.

Oleh sebab itu, jangan ada yang mengatakan, “Mengapa pabrik dan pasar dibuka, tetapi masjid ditutup?!”

Mohon berpikir lebih realistis.

Tuntunan Akidah Ahlus Sunnah

Saudara pembaca, semoga Allah merahmati kita semua.

Selaku seorang muslim yang berakidah Ahlus Sunnah, lakukanlah ini semua berdasarkan tuntunan akidah Ahlus Sunnah berikut ini.

Dijelaskan oleh Ibnu Abil Iz dalam kitab Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah,

“Teks-teks (nas) Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijmak (konsesus) para ulama salaf (pendahulu) umat ini, menyatakan bahwa waliyyul amr (pemerintah muslim suatu negeri), imam shalat, hakim, panglima perang, dan pemungut zakat, mereka ditaati dalam masalah-masalah yang berlaku ijtihad padanya.

Bukan mereka yang wajib mengikuti pengikut-pengikutnya pada masalah-masalah tersebut. Justru mereka (bawahan) yang wajib menaati mereka (pimpinan), meninggalkan pendapat pribadi, dan mengikuti pendapat pimpinan.

Alasannya, kemaslahatan persatuan dan kebersamaan serta kerusakan/akibat buruk perpecahan dan perselisihan, lebih diperhatikan daripada masalah yang sifatnya parsial. Karena itu, tidak boleh pula sebagian aparat pemerintah menyanggah ketetapan sebagian yang lain.” (Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 368)

Saya yakin, setiap muslim akan bersedih saat aktivitas ibadahnya terhalangi. Bahkan, tak jarang di antara mereka ada yang meneteskan air matanya. Harapan untuk kembali beribadah di masjid selalu bergelora.

Namun, apa daya ketika musibah mendunia ini datang. Remuk redam, mungkin itulah gambaran perasaan jiwa seorang muslim saat itu. “Tidak beribadah di masjid,” seakan-akan hati tak percaya dengan kenyataan ini.

Akan tetapi, ketika kita menjalani semuanya itu dengan

bimbingan syariat dan didasari akidah yang benar,

sabar dan rela dengan ketetapan Allah,

rela menjalani semua kebijakan ini karena kewajiban taat kepada Allah, taat kepada Rasul-Nya dan waliyyul amr;

tidak menggerutu,

tidak terbawa perasaan,

tidak hanya beroposisi,

tidak selalu semata dengan pengamatan akal tanpa terbimbing syariat,

tidak memanfaatkan kondisi demi intrik-intrik politik;

maka kita akan mendapatkan pahala aktivitas ibadah yang sebelumnya telah biasa kita lakukan. Hiburlah diri ini dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مَا كَانَ يَعْمَلُ صَحِيحًا مُقِيمًا

“Apabila seorang hamba sakit atau safar, akan ditulis baginya pahala seperti yang biasa dia lakukan saat sehat dan mukim.” (HR. al-Bukhari)

Apabila hal ini terkait dengan seorang yang sakit atau safar, lantas terhalangi melakukan kebiasaan ibadahnya, bagaimana halnya yang terhalangi dari ibadah karena sebab yang lebih besar darinya?!

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan,

“(Termasuk dalam hadits ini,) siapa saja yang berniat mengamalkan suatu amal baik, tetapi tersibukkan dengan hal lain yang lebih utama darinya dan tidak mungkin baginya menggabungkan keduanya. Dia lebih berhak untuk dicatat baginya pahala amal yang terhalangi oleh amalan lain yang lebih utama, atau bahkan hanya terhalangi oleh amalan yang sederajat dengannya. Karunia Allah amatlah besar.” (Bahjatu Qulub al-Abrar)

Terkait dengan shalat Id pun demikian. Para ulama telah membahas apabila seseorang tidak bisa mengikutinya secara berjamaah bersama imam karena suatu sebab.

Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya membuat suatu bab berjudul,

بَابٌ: إِذَا فَاتَهُ الْعِيدُ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، وَكَذَلِكَ النِّسَاءُ، وَمَنْ كَانَ فِي الْبُيُوتِ وَالْقُرَى

“Bab apabila shalat Id terluput dari seseorang, dia shalat dua rakaat; demikian pula bagi wanita; demikian pula bagi mereka yang berada di rumah dan perdesaan.”

Maksudnya, masalah ini tidak luput dari tuntunan agama kita yang mulia dan lengkap. Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala.

Selanjutnya ….

Apakah Shalat Id di Rumah Memiliki Tata Cara Tertentu?

Pada dasarnya, sama saja shalat Id di rumah atau di luar rumah, baik di tanah lapang—dan itulah yang sesuai dengan sunnah (ajaran Nabi)—maupun di masjid.

Hanya saja, ada beberapa hal yang berbeda, sebagaimana akan dijelaskan insya Allah. Karena itu, kita akan menyebutkan secara ringkas adab dan tuntunan shalat Id.

Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih rinci beserta dalil-dalilnya, silakan membaca makalah yang sebelumnya pernah kita tulis dengan judul Meneladani Nabi dalam Beridul Fitri.

Berikut ini adalah ringkasannya, dengan sedikit tambahan pada beberapa masalah.

Mandi sebelum melakukan shalat Id.

Memakai wewangian.

Berhias dengan pakaian yang bagus.

Memakan kurma dalam jumlah ganjil: tiga, lima, atau tujuh butir, sebelum melaksanakan shalat Id.

Apabila tidak ada kurma, memakan sesuatu yang manis, seperti madu; sebagaimana yang disarankan sebagian tabiin, seperti Mu’awiyah bin Qurrah dan Ibnu Sirin.

Bahkan, sekalipun hanya meminum seteguk air, sepantasnya tetap dia lakukan, sebagaimana kata Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari (2/447).

Bertakbiran sambil menunggu shalat, dengan lafaz,

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Atau,

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Melaksanakan shalat Id pada waktunya.

Waktunya dimulai dari pagi saat matahari mulai meninggi naik dari ufuk sampai keluar dari waktu dilarangnya shalat saat terbit matahari. Disunnahkan agar shalat Id dilaksanakan pada awal-awal pagi tersebut.

Tanpa mengumandangkan azan dan iqamah, termasuk tanpa seruan “ash-Shalatu jami’ah”, menurut pendapat yang lebih kuat.

Shalat Id dilaksanakan tetap dua rakaat dengan suara keras atau jahr, dengan niat shalat Id.

Sedikit kita jelaskan bahwa dalam hal ini ada beberapa pendapat ulama. Ada yang mengatakan, dilakukan empat rakaat. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu. Ada pula pendapat yang lain. Perinciannya bisa dilihat dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Rajab.

Singkat saja bahwa pendapat yang terkuat adalah tetap dilaksanakan dengan dua rakaat dan dengan takbir tambahan. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Anas radhiallahu anhu. Ini menjadi pendapat beberapa ulama.

Yang menguatkan pendapat ini adalah bahwa asal shalat Id ialah dua rakaat. Ia tidak berubah menjadi empat rakaat bagi yang tertinggal jamaah lalu melakukannya.

Saat ditanya tentang hal ini, Syaikh al-Albani menjawab, “Diqadha seperti yang terlewatkan, dan ini merupakan kaidah dalam fikih.”

Al-Bukhari menyebutkan,

وَأَمَرَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ مَوْلاَهُمْ ابْنَ أَبِي عُتْبَةَ بِالزَّاوِيَةِ فَجَمَعَ أَهْلَهُ وَبَنِيهِ، وَصَلَّى كَصَلاَةِ أَهْلِ الْمِصْرِ وَتَكْبِيرِهِمْ

“Anas (bin Malik) memerintah budaknya, yaitu Ibnu Abi Utbah di kampungnya, Zawiyah, untuk mengumpulkan keluarga dan anak-anaknya. Lalu dia mengumpulkan mereka dan melakukan shalat (Id) seperti shalatnya penduduk kota dan seperti takbir mereka.”

وقَالَ عَطَاءٌ: إِذَا فَاتَهُ الْعِيدُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ.

Seorang tabiin, ‘Atha bin Abi Rabah mengatakan, “Jika seseorang terluput dari shalat Idnya, dia shalat dua rakaat.”

Ini juga merupakan pendapat al-Hasan al-Bashri, an-Nakha’i, Malik, al-Laits, asy-Syafi’i, dan Ahmad dalam salah satu pendapatnya. Bahkan, Abu Hanifah mengatakan, “Tidak bertakbir melainkan seperti takbir imam, tidak lebih tidak kurang.” (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/169—170)

Adapun yang berpendapat empat rakaat, karena menyamakannya dengan shalat Jumat yang dilakukan di rumah. Padahal shalat Id dan shalat Jumat tidak sama.

Tetap disunnahkan menambah takbir tujuh kali setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama, dan lima kali setelah takbir intiqal (takbir saat berdiri) pada rakaat yang kedua, seperti penjelasan ulama di atas.

Dalam hal ini juga ada pendapat yang mengatakan tanpa tambahan takbir. Namun, sebagaimana penjelasan sebelumnya, tata cara shalat Id tidak berubah.

Mengangkat tangan pada takbir tambahan menurut jumhur (mayoritas) ulama.

Adapun Imam Malik berpendapat tidak mengangkat tangan.

Bacaan istiftah, menurut asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, dan mayoritas ulama, dibaca setelah takbiratul ihram, lalu takbir tujuh kali.

Adapun pendapat al-Auza’i dan Ahmad dalam riwayat lain dari beliau, istiftah dibaca setelah takbir tujuh kali. Imam Ahmad membolehkan setelah takbir tujuh kali atau sebelumnya. (Masa’il Imam Ahmad riwayat putranya, Abdullah, 132)

Hal ini mungkin karena tidak ada riwayat yang jelas yang menentukan di mana letak istiftah tersebut.

Apakah ada bacaan di antara takbir-takbir tersebut?

Tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bacaan apa pun di sela-sela takbir-takbir tambahan. Hanya saja, diriwayatkan dari sebagian sahabat, seperti Ibnu Mas’ud,

بَيْنَ كُلِّ تَكْبِيرَتَيْنِ حَمْدٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَثَنَاءٌ عَلَى اللهِ

“Di antara tiap dua takbir, adalah pujian dan sanjungan kepada Allah azza wa jalla.” (Riwayat al-Muhamili dalam kitab al-‘Idain. Syaikh al-Albani mengatakan [Irwa’ul Ghalil, 3/115], “Ini sanad yang bagus.”)

Jadi, yang tidak membaca dibolehkan; yang membaca pun dibolehkan.

Bacaan surah, tidak diharuskan surah tertentu.

Akan tetapi, sunnahnya ialah pada rakaat pertama membaca surah al-A’la dan pada rakaat kedua surah al-Ghasyiyah; atau pada rakaat pertama membaca surah al-Qamar dan pada rakaat kedua membaca surah Qaf.

Apakah dengan khotbah?

Bagi yang shalat sendirian, tentu saja tanpa khotbah. Bagaimana halnya bagi yang berjamaah?

Khotbah dalam shalat Id adalah sunnah, menurut empat mazhab. (Raddul Mukhtar, 2/175; Minahul Jalil, 1/466; Mughnil Muhtaj, 1/589; al–Inshaf, 3/353)

Dengan demikian, shalat Id tetap sempurna sekalipun tanpa khotbah. Ibnul Qasim mengatakan,

“Tidak wajib menghadiri khotbah dan tidak wajib mendengarkannya. Tidak hanya satu orang ulama yang mengatakan bahwa ulama yang mewajibkan shalat Id dan ulama lainnya telah bersepakat tentang tidak wajibnya khotbah. Kami tidak ketahui ada seorang ulama yang mewajibkannya.

Al-Muwaffaq mengatakan, hanyalah khotbah itu diakhirkan setelah shalat—wallahu a’lam—karena hukumnya tidak wajib. Karena itu, khotbah ditempatkan pada waktu yang memungkinkan orang yang ingin meninggalkannya untuk meninggalkannya.” (Hasyiyah ar–Raudhul Murbi’ 2/513)

Hukum ini berlaku dalam kondisi normal. Alasannya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mewajibkan mendengarkan khotbah. Dengan demikian, ini berarti bahwa khotbah itu tidak wajib. (Hasyiyah ar–Raudhul Murbi’ 2/513)

Ibnu Rajab menerangkan bahwa sebagian ulama berpendapat, bagi yang tertinggal shalat Id boleh melakukannya baik dengan sendirian maupun berjamaah.

Beliau lalu mengatakan, “Akan tetapi, tidak melakukan khotbah setelah imam berkhotbah. Sebab, hal itu merupakan sikap menyempal dari imam dan bisa memecah-belah persatuan.” (Fathul Bari 6/173)

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan, dahulu Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu memerintah seseorang untuk mengimami orang-orang (yang lemah dan tidak bisa mengikuti jamaah) agar shalat di Masjid Kufah dua rakaat. Ibnu Abi Laila mengatakan, “Shalat dua rakaat.”

Seseorang bertanya kepada Ibnu Abi Laila, “Shalat tanpa khotbah?” “Ya,” jawabnya. (al–Mushannaf 2/5)

Bisa jadi, dengan pertimbangan ini, Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi (al-Lajnah ad-Daimah) berfatwa:

“Barang siapa terlewatkan shalat Id dan ingin mengqadhanya, disunnahkan baginya melakukannya seperti tata caranya, tanpa khotbah.”

Boleh shalat Id sendirian dalam kondisi khusus.

Saat menukilkan pendapat ulama yang membolehkan mengqadha shalat Id seperti yang dikerjakan imam—yaitu pendapat an-Nakha’i, Malik, asy-Syafi’i, Abu Tsaur dan Ibnu Mundzir—Ibnu Qudamah mengatakan,

“… Karena ini adalah qadha bagi sebuah shalat, ia dilakukan sesuai tata caranya, sebagaimana mengqadha shalat-shalat lain. Seseorang diberi pilihan, melakukannya sendirian atau berjamaah.”

Imam Ahmad pun pernah melakukan (shalat Id) sendirian saat beliau bersembunyi. (Masa’il Imam Ahmad riwayat putranya, Abdullah, 130)

Musafir disunnahkan tidak shalat Id. Namun, apabila dia melakukannya, hukumnya sah.

Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak diperselisihkan bahwa shalat Id tidak wajib bagi penduduk kampung (terpencil) dan para musafir. Perbedaan pendapat ulama adalah dalam hal sah atau tidaknya shalat itu apabila mereka melakukannya. Mayoritas ulama berpendapat sah dan boleh.”

Az-Zuhri mengatakan, “Tidak ada kewajiban shalat Idul Fitri maupun Idul Adha bagi musafir, kecuali jika dia berada di sebuah desa atau kota sehingga ikut (shalat Id) bersama penduduk.

Penutup

Demikian penjelasan yang bisa kami sampaikan. Kami memohon maaf atas segala kekurangan dan keterbatasan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menerima amal ibadah kita selama Ramadhan dan selain Ramadhan. Semoga pula Allah memaafkan kekurangannya.

Selamat berhari raya. Semoga tetap berbahagia walau beriring duka. Semoga kesedihan ini segera Allah ganti dengan berlipat-lipat kebahagiaan. Semoga pula wabah ini segera berakhir dan berganti dengan berkah.

 

Ditulis oleh Ustadz Qomar ZA, Lc.

Temanggung, Senin, malam 25 Ramadhan 1441 H, bertepatan dengan 18 Mei 2020 M

https://asysyariah.com/tata-cara-shalat-id-di-rumah/
[Read more]

PENJELASAN TENTANG HUKUM MENGQADHA PUASA ORANG YG MENINGGAL

Posted On // Leave a Comment
PENJELASAN TENTANG HUKUM MENGQADHA PUASA ORANG YG MENINGGAL

Pembaca rahimakumullah, tidak setiap orang yang meninggal wajib dibayarkan hutang puasanya oleh wali atau ahli warisnya. Para ulama menjelaskan beberapa hukum terkait orang yang meninggal yang tidak berpuasa di bulan ramadhan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah

1.BEBERAPA KONDISI ORANG YANG MENINGGAL YANG WALINYA TIDAK WAJIB MEMBAYARKAN HUTANG PUASANYA

 Apabila seorang muslim meninggal dunia di kala sakitnya langsung setelah Ramadhan, maka tidak ada kewajiban qadha atas walinya dan tidak juga memberi makan fakir miskin, karena dia memiliki udzur yang syar’i.

 Demikian juga seorang musafir apabila dia meninggal dunia dikala safarnya atau setelah tiba di daerahnya langsung meninggal, maka dia tidak wajib mengqadha puasanya dan juga tidak wajib membayar Fidyah karena dia orang yang memiliki udzur syar’i.

 Barangsiapa yang berpuasa pada sebagian bulan Ramadan, kemudian dia meninggal dunia, maka tidak ada kewajiban atas kerabatnya untuk membayarkan hutang puasanya dari sisa hari bulan ramadhannya.

2.KONDISINYA MAYIT YANG BAGAIMANA YANG WALINYA WAJIB MEMBAYARKAN HUTANG PUASANYA?

 Apabila seorang muslim karena sakitnya berbuka di siang hari bulan ramadhan, kemudian dia sembuh. Lalu dia bermudah-mudahan dalam mengqada puasanya, setelah itu dia meninggal dunia, maka disyariatkan bagi kerabat-kerabatnya untuk membayarkan hutang puasanya.
Kalau mereka tidak membayarkan hutang puasanya, maka mereka harus memberi makan dari harta warisannya untuk setiap harinya satu orang faqir miskin. Dan barang siapa tidak memiliki harta warisan yang bisa dipakai untuk memberi makan fakir miskin, maka tiada lagi kewajiban atasnya.

 Apabila seorang yang sakit meninggal dikala sakitnya setelah Iedul Fitri, maka dia tidak ada kewajiban membayar puasa atau memberi makan fakir miskin. Adapun jika setelah Idul Fitri dia sempat sehat dan mampu berpuasa. Akan tetapi kemudian ajal menghalanginya (untuk mengqadha), maka disyariatkan bagi kerabat-kerabatnya untuk membayarkan hutang puasa nya sesuai dengan hari yang telah lalu setelah Idul Fitri dalam keadaan dia sehat.

3.APAKAH CUMA PUASA NADZAR SAJA YG WAJIB DIBAYARKAN HUTANG PUASA MAYIT?

Hadits yg berbunyi :

من مات وعليه صوم صام عنه وليه

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan dia masih memiliki hutang puasa, maka hendaknya walinya membayarkan hutang puasa nya.”

Yang benar hadits ini berlaku umum dan tidak hanya khusus puasa nazar.
Dan diriwayatkan dari sebagian Imam seperti Imam Ahmad dan sejumlah ulama, kalau mereka berkata : hadits ini khusus untuk puasa nazar, akan tetapi ini adalah pendapat yang lemah yang tidak ada dalil atasnya.

Dan yang benar, hadits ini bermakna umum, karena Rasul ﷺ bersabda :

“Barangsiapa yang mati dan dia masih punya hutang puasa, maka hendaknya walinya membayarkan hutang puasanya.”

Beliau ﷺ tidak mengatakan, kalau ini khusus puasa nadzar. Dan tidak boleh menggugurkan keumuman sabda Nabi ﷺ kecuali dengan dalil. Dan hadits ini bermakna umum, mencakup puasa nazar dan puasa kafarah, maka barangsiapa yang meninggalkan hal itu, maka walinya yg membayarkan puasanya.

4.SIAPAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN WALI?

Dan wali yang dimaksud di sini adalah para kerabatnya. Kalau seandainya selain kerabat membayarkan puasanya maka hukumnya boleh.

5.PENDAPAT YANG MENGKHUSUSKAN PUASA NADZAR SAJA ADALAH PENDAPAT LEMAH

Nabi ﷺ pernah ditanya:
Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibuku meninggal dunia dan dia memiliki hutang puasa sebulan. Apakah saya harus membayarkan hutang puasa nya?
Beliau menjawab :

أرأيتِ لو كان على أُمك دَينٌ، أكنتِ قاضيةً، اقْضُوا الله فالله أحقُّ بالوفاء

“Bagaimana menurutmu, kalau ibumu memiliki hutang (kepada manusia), apakah engkau akan membayarnya? Maka tunaikanlah hutang kepada Allah, karena hutang kepada Allah itu lebih berhak untuk dibayar.”

Dalam musnad Ahmad dengan sanad Shahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma :
Sesungguhnya ada seorang wanita berkata :
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibuku meninggal dan dia masih punya hutang puasa Ramadhan.

Apakah saya membayarkan hutang puasanya?
Beliau ﷺ menjawab :

صومي عن أمك

“Berpuasalah untuk membayar hutang puasa ibumu.”

Maka wanita menjelaskan kalau itu puasa ramadhan. Kemudian beliau ﷺ memerintahkan wanita ini untuk berpuasa. Dan hadits-hadits banyak sekali yang menunjukkan atas membayarkan hutang puasa ramadhan dan selainnya.
Dan sesungguhnya tidak ada sisi pengkhususan untuk puasa nadzar saja. Bahkan ini adalah pendapat yang marjuh dan lemah, yang benar berlaku umum.

6.BOLEHKAH ANAK-ANAKNYA ATAU KERABATNYA SALING MENOLONG MEMBAYARKAN PUASA SANG MAYIT?

Seandainya para anak-anak orang yg meninggal saling menolong untuk berpuasa, atau kerabatnya untuk membayarkan hutang puasanya, lalu setiap orang dari mereka berpuasa sehari atau beberapa hari, maka yang demikian tidak mengapa dan ini di syariatkan.

7. KALAU PUASA KAFARAH HARUS SATU ORANG SAJA YANG MEMBAYARKANNYA

Barangsiapa yang mati dan dia memiliki hutang puasa kafarah membunuh tanpa sengaja, maka disyari’atkan salah seorang kerabatnya saja untuk membayarkan hutang puasanya dua bulan berturut-turut. Dan tidak boleh dibagi-bagi kepada sejumlah kerabatnya. Akan tetapi yang membayarkan hutang puasa nya adalah satu orang saja, dengan berurutan sebagaimana yang Allah syariatkan.
Adapun barangsiapa yang mampu membebaskan budak, maka dia harus membebaskan budak dan tidak boleh berpuasa.

 Al-Ikhtiyaraat Al-Fiqhiyah 260-261.


https://mahad-arridhwan.com/penjelasan-hukum-mengqadha-puasa-orang-yang-meninggal/
[Read more]

Meninggal Bulan Ramadhan wajib Zakat Fithr?

Posted On // Leave a Comment
Meninggal Bulan Ramadhan wajib Zakat Fithr?

Pertanyaan:

Mohon maaf ada beberapa pertanyaan:

1- Apa itu zakat fithr ? 2- Kapankah zakat fithr wajib dibayarkan. 3- Ada yang meninggal di pertengahan Ramadhan, apakah dikeluarkan zakat Fithr untuknya ?

Jawab:

Zakat fithr, kata “zakat” digandengkan dengan “Fithr” yang merupakan sebabnya. fithr sendiri maknanya adalah berbuka.

Zakat fithr adalah salah satu bentuk rasa syukur kepada Alloh atas kemudahan dan taufik dari Alloh menunaikan ibadah shoum Romadhon, sebagai nikmat yang membahagiakan seorang yang berpuasa sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Rasulullah bersabda:

للصاءم فرحتان فرحۃ عند فطره و فرحۃ عند لقاء ربه

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, kebahagiaan saat fithr (berbuka) nya dan kebahagiaan saat berjumpa dengan Rabbnya”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4792 dan Muslim 2707

Makna hadits ini, orang yang berpuasa berbahagia ketika berbuka diakhir hari di bulan ramadhan karena Alloh telah memberikannya Taufiq menyempurnakan shoum di bulan ramadhan.

Waktu Wajib Zakat Fithr

Adapun waktu wajibnya zakat Fithr adalah dengan tenggelamnya matahari di akhir hari bulan ramadhan.

Oleh karena itu seandainya ada yang meninggal di pertengahan Ramadhan, atau dilahirkan setelah tenggelamnya matahari di bulan Ramadhan, tidak ada kewajiban atas mereka zakat Fithr, karena saat diwajibkannya zakat mereka tidak ada. Allohu a’lam


https://problematikaumat.com/meninggal-bulan-ramadhan-wajib-zakat-fithr/
[Read more]

BOLEHKAH MENGONSUMSI PIL PENCEGAH HAID UNTUK KEPENTINGAN PUASA

Posted On // Leave a Comment
بسم الله الرحمن الرحيم 

☕📄 BOLEHKAH MENGONSUMSI PIL PENCEGAH HAID UNTUK KEPENTINGAN PUASA

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

الذي أرى أن المرأة لا تستعمل هذه الحبوب لا في رمضان ولا في غيره لأنه ثبت عندي من تقرير الأطباء أنها مضرة جدا على المرأة على الرحم والأعصاب والدم ، وكل شيء مضر فإنه منهي عنه لقول النبي صلى الله عليه وسلم لا ضرر ولا ضرار

"Saya memandang bahwa seorang wanita jangan menggunakan pil-pil haid ini, baik pada bulan Ramadan maupun selain Ramadan. Hal itu karena telah jelas bagiku, melalui penetapan para dokter, bahwa pil-pil itu sangat memudaratkan wanita, berdampak buruk pada rahim, saraf, dan darahnya. Padahal, segala sesuatu yang memudaratkan dilarang di dalam Islam berlandaskan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 'Tidak boleh memudaratkan diri sendiri dan orang lain'."

📖 Sumber:
Majmu‘ al-Fatawa, Jilid 19, hlm. 259.

📲 Alih Bahasa:
Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

#fikih #nasihat #kesehatan

📱Ayo Gabung dan Bagikan:
🏡 Kanal Telegram:
https://t.me/alfudhail
↘ Situs Web:
🌍 http://alfudhail.com
[Read more]

HAKEKAT PUASA

Posted On // Leave a Comment
HAKEKAT PUASA

Berkata al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:

"Puasa itu memuasakan anggota badan dari berbagai dosa dan memuasakan perut dari makan dan minum. Sebagaimana makan dan minum akan memutus keabsahan puasa dan merusaknya, maka demikian pula berbagai dosa akan memutus pahala puasa dan merusak buah faedahnya."

[al-Wabilush Shayyib:26]
[Read more]

SEMANGAT MENDOAKAN ORANG TUA

Posted On // Leave a Comment
SEMANGAT MENDOAKAN ORANG TUA

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah:

"Doamu untuk kebaikan orang tuamu pada saat shalat tarawih atau shalat tahajud itu jauh lebih utama daripada engkau menyembelih sepuluh ekor onta (sebagai sedekah dengan meniatkan pahala) untuknya"

[Liqa'ul Babil Maftuh: 115]
[Read more]