HUKUM BERDO'A KETIKA SUJUD (DI DALAM SHALAT) DENGAN SELAIN BAHASA ARAB

Posted On // Leave a Comment

HUKUM BERDO'A KETIKA SUJUD (DI DALAM SHALAT) DENGAN SELAIN BAHASA ARAB

❱ Disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah

[ Pertanyaan ]

Assalamualaikum, afwan mau tanya tentang do'a ketika sujud: 
[1] Apakah menggunakan bahasa masing-masing atau harus bahasa arab?
[2] Apakah dengan gerakan lisan (seperti membaca do'a sujud) atau cukup di dalam hati? 
[3] Apakah hanya di sujud terakhir atau boleh di setiap sujud?

[ Jawaban ]

Waalaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh.

※ [1] - Berdoa dalam shalat ataupun di luar shalat,

(•) yang terbaik adalah yg berdasarkan hadits-hadits Nabi yang shahih. Karena lafadz-lafadz doa yg diajarkan Nabi adalah ma'shum (terjaga dari kesalahan).

Sedangkan pengungkapan doa dengan kalimat kita sendiri kadangkala mengandung unsur kesalahan. Misalkan, karena ketidaktahuan kita, yang asalnya kita ingin memuji Allah, namun tanpa sadar kita justru mengucapkan hal-hal yg tidak diridhai-Nya.

Sehingga, jika yang ditanyakan: Apa yang terbaik? Tentunya dengan lafadz-lafadz doa yg diajarkan Nabi dalam bahasa Arab.

(•) Namun, jika seseorang dalam sholat hanya menghafal dzikir-dzikir wajib dalam bahasa Arab, dan ketika ia ingin berdoa dengan bahasanya sendiri dalam sujud, wallaahu A'lam, sejauh ini ana belum menemukan dalil yang secara tegas melarangnya.

◈ Ibnu Hazm rahimahullah menyatakan:

ومن كانت لغته غير العربية جاز له أن يدعو بها في صلاته ، لكن لا يجوز له أن يقرأ بها.

“Barangsiapa yang bahasanya bukan bahasa Arab, boleh baginya untuk berdoa dgn bahasa itu dalam sholat. Tapi tidak boleh membaca dengannya.” [Al-Muhalla, 4/159]

Tidak boleh membaca dengannya, maksudnya adalah membaca dzikir dalam sholat yang rukun, wajib, atau sunnah dengan bahasa selain Arab.

Misalkan,
(•) bacaan subhaana robbiyal A'ladiganti “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi”
(•) atau baca al-Fatihah tapi terjemahan ke bahasa Madura, misalkan.
… Ini jelas tidak boleh.

※ [2] - Boleh dengan lisan ataupun juga dengan hati.

Ini untuk doa yang bukan dzikir wajib atau sunnah. Adapun dzikir wajib seperti subhaana rabbiyal adzhim, ini harus dilafadzkan dengan lisan. Tidak boleh hanya dalam hati.

※ [3] - Bisa di sujud mana saja.

Karena lafadz haditsnya umum berlaku untuk seluruh sujud, masa terdekat dengan Allah untuk diperbanyak doa.

《 أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ 》

“Paling dekatnya seorang hamba kepada Allah adalah pada waktu dia sujud, maka perbanyaklah doa (pada saat itu).” [HR Muslim dari Abu Hurairah]

Wallaahu A'lam.

{ Judul dari Admin }
📮••••|Edisi| @ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net
₪ Arsip dari WA al-I'tishom

➥ #Fiqh #Ibadah #shalat #doa #ditengah_shalat #dengan_selain #bahasa_arab

www.alfawaaid.net/2017/09/hukum-berdoa-ketika-sujud-di-dalam.html?m=1

[Read more]

Apa hukumnya penamaan Fathimah az-Zahra

Posted On // Leave a Comment

════════════════════

       ⚖️ FATWA ULAMA ⚖️

════════════════════

✒️🍼🌹 ADA APA NAMA DENGAN NAMA 'FATHIMAH AZ-ZAHRA' ❓

📌 Fadhilatus Syaikh Ubaid bin Abdillah al Jabiri hafidzahullahu ta'ala

🔅 Pertanyaan :
Apa hukumnya penamaan Fathimah az-Zahra❓

🔅Jawaban :

👋🏼 Itu adalah nama beliau, Fathimah radhiyallahu 'anha. Beliau dikenal oleh ulama sebagai pemimpinnya para wanita.

⛔️ Sehingga hal tersebut TIDAK BOLEH.❗️

💦 Termasuk dari kesalahan adalah memberi nama Fathimah az-Zahra kepada anak perempuan.

🛡 Aku khawatir ini merupakan propaganda orang-orang syi'ah.*

Sumber : 👇🏼

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

  حكم اسم فاطمة الزهراء؟

📌 لفضيلہ الشيخ
عبيد بن عبدالله الجابري
   حفظہ الله تعالـﮯ :

الســـــــــؤال :
مـــــا حــكــم اســم فـــــاطـمة الزهــــراء❓

الجــــــــواب:
هي اسمها - رضِيَ الله عنها - فاطمة، وهي معروفة عند أهل العلم بسيدة نساء العالمين، فلا يجوز ذلك، فمن الخطأ تسمية البنت فاطمة الزهراء، وأخشى أنَّ هذا يعني من تُرَّهات الشيعة. نعم.

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

**✍🏻WhatsApp
Ⓚ①ⓉⒶ🌏ⓈⒶⓉⓊ
Bagi-bagi faedah ilmiahnya....ayo segera  bergabung
🌐📲 Join Channel Ⓚ①Ⓣ
https://bit.ly/KajianIslamTemanggung

📻📡 Dengarkan••• [ VERSI BARU❗️ ]  Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia
http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia2

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

🖥 sumber : http://ar.miraath.net/fatwah/5049

[Read more]

MENGAPA DO'A KELUAR WC DENGAN MEMOHON AMPUN???

Posted On // Leave a Comment

MENGAPA DO'A KELUAR WC DENGAN MEMOHON AMPUN???

kita ketahui bahwa doa keluar dari WC atau toilet adalah doa yang ringkas dan mudah kita hafal doa tersebut adalah:

غُفْرَانَكَ

 “Ghufranaka (Aku meminta ampunanmu Ya Allah)”.

 

Lafadz lengkap hadits,

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhaberkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلاَءِ قَالَ: غُفْرَانَكَ

“Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam, jika keluar dari WC beliau membaca: “Ghufranaka (Aku meminta ampunanmu Ya Allah)”.[1]

 

Hikmah doa: Karena kita sering meremehkan nikmat BAK

Makna dari doa ini adalah Kita meminta Ampun kepada Allah karena kita Sering meremehkan nikmat Allah kepada kita yaitu kenikmatan bisa lancar buang Air kecil. BAB atau BAK yang lancar juga merupakan kenikmatan, yaitu perasaan lega dan rasa ringan di tubuh.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

والحكمة في ذلك والله أعلم أن الله سبحانه قد أنعم عليه بما يسر له من الطعام والشراب، ثم أنعم عليه بخروج الأذى، والعبد محل التقصير في الشكر فشرع له عند زوال الأذى بعد حضور النعمة بالطعام والشراب أن يستغفر الله، وهو سبحانه يحب من عباده أن يشكروه على نعمته

“Hikmah dari doa ini –wallahu a’lam- Allah telah memberikan kenikmatan berupa mudahnya bagi hamba makan dan minum. Kemudian Allah memberikan kenikmatan mudahnya kotoran keluar. Seorang hamba sering meremehkan bersyukur, maka disyariatkan baginya agar beristigfar meminta ampun ketika hilangnya kotoran setelah mendapat nikmat berupa makanan dan minuman. Allah Subhanu wa ta’ala mencintai hambanya yang mensyukuri nikmatnya

➖➖➖➖➖➖
Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz, sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/2274

[Read more]

hukum memakai imamah, apakah termasuk sunnah muakkadah [ ditekankan ]

Posted On // Leave a Comment

════════════════════

       ⚖ FATWA ULAMA ⚖

════════════════════

📖👉🏼🍃 HUKUM MEMAKAI IMAMAH

✒ Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

P e r t a n y a a n :

Saya bertanya tentang hukum memakai imamah,  apakah termasuk sunnah muakkadah [ ditekankan ]❓

J a w a b a n :

👋🏼 Memakai imamah BUKAN termasuk sunnah baik muakkadah maupun selain muakkadah•••

☝🏻 Karena dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam memakai imamah untuk mengikuti ADAT ISTIADAT yang biasa diamalkan orang-orang di zaman itu•••

✋🏽 Oleh sebab itu tidak ada satu hurufpun dalam Sunnah yang MEMERINTAHKAN untuk mengenakannya•••

🥋 Mengenakan imamah merupakan salah satu tradisi yang dilakukan orang-orang saat itu•••

⛔ Seseorang memakainya agar tidak keluar dari kebiasaan manusia sehingga menjadi pakaian syuhroh (mencari ketenaran)

❌ Apabila orang-orang TIDAK TERBIASA memakai imamah, maka hendaknya JANGAN❗ memakainya.Demikianlah pendapat yang terkuat tentang hukum memakai imamah•••

📼 Sumber : Silsilah Fatawa Nur alad Darb kaset nomor 300

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

هل من السنة لبس العمامة ؟

السؤال:

يقول: أسأل عن لبس العمامة هل هي من السنن المؤكدة؟

الجواب:

الشيخ : لبس العمامة ليس من السنن لا المؤكدة، ولا غير المؤكدة؛ لأن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم كان يلبسها اتباعاً للعادة التي كان الناس عليها في ذلك الزمن؛ ولهذا لم يأت حرف واحد من السنة يأمر بها. فهي من الأمور العادية التي إن اعتادها الناس، فليلبسها الإنسان؛ لئلا يخرج عن عادة الناس فيكون لباسه شهرة، وإن لم يعتدها الناس فلا يلبسها. هذا هو القول الراجح في العمامة.

📼 المصدر : سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [300]

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

✍🏻WhatsApp
Ⓚ①ⓉⒶ🌏ⓈⒶⓉⓊ
Bagi-bagi faedah ilmiahnya....ayo segera  bergabung
🌐📲 Join Channel Ⓚ①Ⓣ
https://bit.ly/KajianIslamTemanggung

📻📡 Dengarkan••• [ VERSI BARU❗ ]  Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia
http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia2

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

[Read more]

MANFAAT AIR YANG DISIRAMKAN PADA KUBUR SETELAH PENGUBURAN

Posted On // Leave a Comment

MANFAAT AIR YANG DISIRAMKAN PADA KUBUR SETELAH PENGUBURAN

✏️Fatwa al Lajnah ad Daimah Lilbuhuts al Ilmiyah wa al Ifta'

Pertanyaan:
Apa manfaat air yang disiramkan di atas kubur setelah tanahnya diratakan? Adakah dalilnya dan siapakah orang yang pertama kali menyiram air di atas kuburnya?

Jawaban:
Menyiram kubur dengan air itu langsung setelah penguburan agar tanah kencang dan saling melekat. Asy Syafi'i meriwayatkan dalam musnadnya dan Sa'id bin Manshur serta al Baihaqi dengan sanad yang mursal:

«أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - رش على قبر ابنه إبراهيم ووضع عليه حصباء »

Bahwasannya Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyiram di atas kubur Ibrahim putranya dan meletakkan kerikil di atasnya.

وروى سعيد بن منصور أن الرش كان على عهد رسول الله - صلى الله عليه وسلم-

"Diriwayatkan dari Sa'id bin Manshur bahwa menyiram kubur itu ada di masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم."

Sehingga tiga imam yaitu Abu Hanifah, asy Syafi'i, Ahmad, dan selain mereka berpendapat disyariatkannya menyiram air di atas kubur.

💎Fatwa Nomor 16128

http://t.me/ukhwh

. .:
فائدة الماء الذي يصب على القبر بعد تسوية التراب عليه

السؤال: ما فائدة الماء الذي يصب على القبر بعد تسوية التراب عليه، فهل له دليل، ومن هو أول من صب على قبره؟

الجواب: يرش القبر بالماء بعد الدفن مباشرة حتى يلتئم التراب ويتماسك، وقد أورد الشافعي في مسنده وسعيد بن منصور والبيهقي بإسناد مرسل «أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - رش على قبر ابنه إبراهيم ووضع عليه حصباء » وروى سعيد بن منصور أن الرش كان على عهد رسول الله - صلى الله عليه وسلم -، وإلى مشروعية رش الماء على القبر بعد الدفن ذهب الأئمة الثلاثة أبو حنيفة والشافعي وأحمد وغيرهم.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء الفتوى رقم (16128) الرئيس عبد العزيز بن عبد الله بن باز

عضو عضو عضو عضو نائب الرئيس

بكر أبو زيد ... عبد العزيز آل الشيخ ... عبد الله بن غديان ... صالح الفوزان ... عبد الرزاق عفيفي

[Read more]

Apakah sah hanya menyembelih seekor kambing untuk bayi laki-laki

Posted On // Leave a Comment

════════════════════

       📚 FATAWA ULAMA 📚

════════════════════

☝✅🗡 HUKUM AQIQAH DENGAN SATU KAMBING UNTUK BAYI LAKI-LAKI
                      
💺Asy-Syaikh al-allamah Muhammad Ali Farkus hafidzahullah

☎Pertanyaan :

Apakah sah hanya menyembelih seekor kambing untuk bayi laki-laki❓

🌷Jawaban :

🔬Boleh mencukupkan satu kambing untuk aqiqah bayi laki-laki ketika tidak punya kemampuan (secara materi) atau tidak mendapatkannya.

🗡⚖ Hal ini berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam terhadap al-Hasan dan al-Husain sebagaimana dinukilkan dari Ibnu Abbas bahwa :

"Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengaqiqahi al-Hasan dan al-Husain masing-masing satu kambing"
(riwayat Abu Dawud dan an-Nasai).

✅ Meskipun lafadnya an-Nasai yang berbunyi :

"masing-masing dua kambing lebih shahih."

👍 Sehingga yang afdhal adalah :

Mengutamakan bayi laki-laki daripada perempuan dengan dua kambing dan ini tidak ada perselisihan sebagaimana dalam hadits-hadits yang lalu.

☝ Dan inilah kaidah syariat, yaitu ALLAH membedakan antara laki-laki dan perempuan dan menjadikan perempuan setengahnya laki-laki dalam hal warisan,  diyat,  persaksian dan pembebasan budak. Sementara permasalahan aqiqah tidak keluar dari kaidah ini.

✍Sumber : Fatawa al-allamah Muhammad Ali Farkus.

^^^^^^^^^^🍖🍲🍖^^^^^^^^^
🔪 ذبح الشاة الواحدة عن الغلام
للعلامة الشيخ أبي عبد المعز محمد علي فركوس
________
❓الــســـؤال
هل يجزئ الاكتفاء بذبح شاة واحدة عن الغلام؟

📢الـــجــواب :
فيجوز الاقتصار على شاة واحدة عن الغلام عند عدم القدرة أو عدم الوجدان لفعل النبي صلى الله عليه وسلم عن الحسن والحسين رضي الله عنهما كما هو منقول عن ابن عباس رضي الله عنه أنّ النبي صلى الله عليه وسلم »عَقَّ عن الحسن والحسين كبشاً كبشاً « رواه أبو داود(١) والنسائي، وإن كان لفظ النسائي "كبشين كبشين"(٢) هو الأصح. فالأفضل مفاضلة الذكر عن الأنثى بشاتين، وهذا بلا نزاع كما في الأحاديث السابقة، وهذه قاعدة الشريعة فإنّ الله فاضل بين الذكر والأنثى وجعل الأنثى على النصف من الذكر في المواريث والديات والشهادات والعتق، فلا تخرج العقيقة عن هذه القاعدة

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

✍🏻WhatsApp
Ⓚ①ⓉⒶ🌏ⓈⒶⓉⓊ
Bagi-bagi faedah ilmiahnya....ayo segera  bergabung
🌐📲 Join Channel Ⓚ①Ⓣ
https://bit.ly/KajianIslamTemanggung

📻📡 Dengarkan••• [ VERSI BARU❗ ]  Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia
http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia2

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

[Read more]

Mengusap Khuf

Posted On // Leave a Comment

Mengusap Khuf

Khuf adalah sesuatu yang dipakai untuk menutupi telapak kaki sampai dengan mata kaki atau lebih. Bahannya bisa berupa kulit atau yang lainnya.[1] Termasuk di dalamnya adalah penutup kaki yang terbuat dari kain, yang diistilahkan dengan jaurab (kaus kaki). Adapun penutup kaki yang menutupi telapak kaki tidak sampai ke mata kaki dinamakan na’l (sandal) (sepatu, -red.)?.

Pembahasan ini erat kaitannya dengan bahasan wudhu yang telah kita simak pada beberapa edisi sebelumnya karena mengusap khuf merupakan pengganti dari membasuh kaki ketika berwudhu.

Bolehnya mengusap khuf dan kaus kaki sebagai pengganti membasuh kaki merupakan kemudahan dalam syariat Islam, lebih-lebih dalam kondisi-kondisi sulit, seperti cuaca yang sangat dingin.

Dalil-dalil tentang Syariat Mengusap Khuf dan Kaus Kaki

Ayat wudhu dalam surat al-Maidah ayat ke-6 dalam qiraah[2] وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ (Dan usaplah kepala-kepala dan kaki-kaki kalian).
Al-Imam asy-Syafi’i menafsirkan “mengusap kaki” di sini dengan mengusap khuf[3] dan sejenisnya, bukan mengusap kaki telanjang (Tafsir Ibni Katsir). Beliau menafsirkan seperti ini karena banyak sekali hadits yang menegaskan kewajiban membasuh kaki ketika tidak dipakaikan padanya khuf , kaus kaki, dan semisalnya.

Kisah yang disampaikan oleh Jarir radhiyallahu ‘anhu ketika beliau kencing kemudian berwudhu dan mengusap khuf. Setelah itu, beliau ditanya, “Anda berbuat seperti ini?” Beliau menjawab, “Ya. Saya pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam kencing kemudian berwudhu dan mengusap khuf ”
Ibrahim, salah satu periwayat hadits ini, berkata bahwa hadits ini sangat mengagumkan mereka, yakni para tabi’in, karena Jarir radhiyallahu ‘anhu masuk Islam setelah turunnya surat al-Maidah (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Faedah

Al-Imam at-Tirmidzi berkata bahwa hadits Jarir ini memiliki makna yang sangat penting. Sebab, beberapa pihak[4] yang mengingkari syariat mengusap khuf beralasan bahwa syariat mengusap khuf ada sebelum turunnya ayat wudhu. Artinya, mereka berdalih bahwa ayat wudhu dalam surat al-Maidah menghapus syariat mengusap khuf ini. Maka dari itu, ketika Jarir radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa beliau masuk Islam setelah turunnya surat al-Maidah, menjadi jelaslah bahwa syariat mengusap khuf ini hukumnya tetap ada dan tidak dihapus.

Hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam pernah mengutus suatu pasukan, dan beliau memerintah mereka untuk mengusap ‘imamah (serban) dan tasakhin, yakni khuf ( Abu Dawud dan lainnya).[5]
Tasakhin adalah segala sesuatu yang bisa dipakaikan ke kaki untuk menghangatkannya, dan dalam riwayat ini dicontohkan dengan khuf. Jadi, kaus kaki termasuk juga. Oleh karena itu, para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bolehnya mengusap kaus kaki yang menutupi mata kaki. Selain mengusap kaus kaki, para ulama juga membolehkan mengusap kain yang dililit-lilitkan ke telapak kaki sampai menutupi mata kaki, karena yang demikian juga termasuk kategori tasakhin.[6]

Catatan

Banyak ulama, di antaranya Ibnul Mundzir, menyebutkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin tentang syariat mengusap khuf, dan bahwa hadits yang menjelaskan masalah mengusap khuf ini sangat banyak sehingga dianggap termasuk hadits mutawatir.

Syarat-syarat Bolehnya Mengusap Khuf dan Kaus Kaki

Ketika memasukkan kedua kakinya, orang tersebut dalam keadaan suci.
Dalilnya adalah hadits dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu ketika dia bepergian bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam berwudhu, sampai ketika beliau telah mengusap kepala, al-Mughirah hendak melepas khuf yang beliau pakai (agar kedua kaki beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa dibasuh). Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya), “Biarkan keduanya (jangan dilepas) karena aku telah memasukkan keduanya dalam keadaan suci.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan disyaratkannya memakai khuf dalam keadaan suci. Sebab, beliau menolak khuf beliau dilepas dengan alasan telah memasukkan kaki ke khuf dalam keadaan suci. Artinya, jika kaki dimasukkan dalam keadaan orang tersebut tidak suci, khuf harus dilepas kalau dia mau berwudhu.[7]

An-Nawawi berkata bahwa telah ada ijma’ ulama, “Jika seseorang memakai khuf dalam keadaan berhadats, tidak sah baginya mengusap khuf.”[8]

Kebolehan mengusap khuf ini memiliki batasan waktu, yaitu maksimal sehari semalam (24 jam) bagi orang yang mukim/tidak safar, dan maksimal 3 hari 3 malam (72 jam) bagi musafir.
Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits ‘Ali bin Abi Thalib, katanya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memberikan batas waktu 3 hari 3 malam bagi musafir, dan sehari semalam bagi orang yang mukim, untuk mengusap khuf.” (HR. Muslim)

Keterangan

Penghitungan batasan waktu ini dimulai sejak awal mengusap setelah berhadats, bukan sejak awal memakai khuf, bukan pula sejak awal berhadats.[9]
Contohnya, Zainab berwudhu di rumahnya untuk mengerjakan shalat subuh, lalu memakai khuf pada pukul 04.00. Pada pukul 07.00, wudhunya batal karena dia buang air kecil. Pada pukul 11.00 dia berwudhu dan mengusap khuf. Dari contoh ini, Zainab menghitung batas waktu mengusap khuf dari pukul 11.00, dan boleh mengusap khuf sampai pukul 11.00 keesokan harinya.

Zainab berwudhu di rumahnya lalu memakai kaus kaki. Tidak lama kemudian, wudhunya batal. Setelah itu, dia berangkat safar bersama ayahnya. Di tengah perjalanan dia berwudhu dan mengusap kaus kakinya. Dalam keadaan ini dia boleh mengusap kaus kakinya selama 3 hari 3 malam sepanjang masih safar.
Sebaliknya, jika seseorang mulai mengusap kaus kakinya ketika safar lalu tiba di rumahnya kembali, dia memiliki batasan waktu seperti orang mukim.
Contohnya, Zainab berangkat safar bersama ayahnya pada hari Kamis pagi. Di tengah perjalanan, pada pukul 11.00, dia mulai mengusap kaus kakinya. Mereka tiba di rumah lagi pada hari Kamis itu juga, pada pukul 17.00. Dalam kondisi ini, Zainab masih boleh mengusap kaus kakinya sampai hari Jumat pukul 11.00. Namun, jika mereka tiba di rumah pada hari Jumat pukul 17.00, Zainab tidak boleh lagi mengusap kaus kakinya ketika berwudhu. Sebab, ketika tiba di rumah, dia dihukumi sebagai mukim dan memiliki batasan waktu mukim, sedangkan pada hari Jumat itu waktunya sudah lewat sehari semalam.

Berakhirnya batasan waktu mengusap khuf tidaklah menjadikan wudhunya serta-merta batal, sebagaimana dilepasnya khuf tidak serta-merta menjadikan wudhunya batal.[10]
Bolehnya mengusap khuf hanya ketika berwudhu. Adapun ketika mandi besar, khuf harus dilepas.
Hal ini berdasarkan hadits dari Shafwan bin ‘Assal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memerintah kami bahwa jika kami sedang safar, boleh tidak melepas khuf selama tiga hari tiga malam walaupun setelah buang air besar, buang air kecil, dan setelah tidur; kecuali jika terjadi junub.”[11] Artinya, khuf harus dilepas jika seseorang hendak mandi besar karena junub.

Perhatian

Bolehkah mengusap kaus kaki atau khuf jika ada bagian yang sobek? Jawabnya, selama bagian utama yang tersisa masih pantas disebut kaus kaki atau khuf serta bisa dipakai untuk berjalan, boleh diusap walaupun ada beberapa bagian yang sobek.[12]

Cara Mengusap Kaus Kaki atau Khuf

‘Ali bin Abi Thalib berkata, “Dahulu saya mengira bahwa bagian bawah khuf lebih pantas diusap daripada bagian atasnya, sampai saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengusap bagian atasnya.”[13]

Hadits ini menjelaskan bahwa yang dituntunkan adalah mengusap bagian atas kaus kaki atau khuf, bukan bagian bawah atau sampingnya. Hal ini karena tujuan mengusap khuf bukan untuk membersihkannya, melainkan dalam rangka ta’abbud (beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala). Selain itu, tangan justru akan terkotori jika yang diusap adalah bagian bawah khuf.[14]

Ibnul Qayyim berkata bahwa tidak ada hadits shahih yang menjelaskan bahwa yang diusap adalah bagian bawah khuf.[15]

Haruskah Mengusap Seluruh Bagian Atas Kaus Kaki atau Khuf?

Tidak harus. Yang penting, tangan yang sudah terbasahi air diusapkan ke bagian atasnya. Selama perbuatan itu sudah pantas secara bahasa disebut mengusap, sudah mencukupi.[16] Selain itu, dalam hadits yang shahih tidak ada ketentuan mengusap dari bagian ujung jari atau dari pangkal betis, sehingga orang yang mengusap dipersilakan memilih.

Apakah Kanan dan Kiri Diusap Bersamaan atau Kanan Dahulu?

Tidak ada ketentuan pasti dalam hal ini, maka al-amru wasi’ (urusannya luas, silakan memilih).[17]

Mana yang Afdhal (Lebih Utama), Mengusap Khuf atau Membasuh Kaki?

Ini tergantung pada keadaan awal orang yang berwudhu. Jika kedua kakinya telanjang ketika dia hendak berwudhu, yang afdhal baginya adalah membasuh kaki dan tidak perlu dia menyengaja memakai khuf agar bisa mengusapnya. Adapun jika kedua kaki terbungkus khuf atau kaus kaki ketika dia akan berwudhu, dan dia memasukkan kaki dalam keadaan suci, yang afdhal baginya adalah mengusap khuf, dan khuf tidak perlu dilepas hanya untuk dibasuh.[18]

Hukum Mengusap Na’l (Sandal) mohon disifati dengan jelas makna na’l disini, agar tidak dipahami dengan segala jenis sandal, misal: sandal jepit, dsb.

Ada beberapa riwayat yang menyebutkan bolehnya mengusap sandal. Hanya saja, mayoritas ulama membawa berbagai riwayat tersebut ke beberapa makna.[19] Sebagai bentuk kehati-hatian, lebih baik kita tidak mengusap sandal kecuali dalam kondisi mendesak, seperti apabila sandal itu hanya bisa dilepas dengan bantuan tangan atau kaki. Kalaupun kita mengusap sandal, kita iringi dengan memercikkan air ke kaki.[20] Wallahu a’lam.

[1] Dinamakan khuf karena khiffahnya (ringannya). (Hasyiyah ar-Raudhil Murbi’)

[2] Qiraah Hamzah, Ibnu Katsir, Abu ‘Amr, dan lainnya. Adapun dalam qiraah yang sering kita baca, yakni qiraah Hafsh dari ‘Ashim, potongan ayat tersebut dibaca وَأَرْجُلَكُمْ (dengan lam yang difathah, -ed.). (Adhwaul Bayan)

[3] Tafsir ini pula yang Syaikhul Islam cenderung padanya, sebagaimana dalam al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah.

[4] Yaitu beberapa kelompok ahli bid’ah, seperti Khawarij dan Syi’ah (Adhwaul Bayan). Oleh karena itu, walaupun masalah mengusap khuf pada dasarnya merupakan masalah fikih, para ulama menyebutkannya pula dalam pembahasan akidah sebagai pengingkaran terhadap para ahli bid’ah.

[5] Asy-Syaikh al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Sunan Abi Dawud. Asy-Syaikh Muqbil juga menyebutkannya dalam ash-Shahihul Musnad.

[6] Fath Dzil Jalal wal Ikram dan al-Ikhtiyarat.

[7] Nailul Authar.

[8] Taudhihul Ahkam.

[9] Inilah pendapat yang dikuatkan oleh beberapa muhaqqiqin, seperti as-Sa’di dalam Mukhtarat Jaliyyah dan Ibnul ‘Utsaimin dalam ­asy-Syarhul Mumti’. Alasannya, semua hadits tentang masalah ini datang dengan konteks batasan mengusap. Teks hadits tidak berbicara mengenai batasan memakai khuf ataupun batasan terjadinya hadats.

[10] Al-Ikhtiyarat.

[11] HR. at-Tirmidzi dan lainnya, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam berbagai kitab beliau, seperti Shahih Sunan at-Tirmidzi.

[12] Majmu’ Fatawa li Ibni Taimiyah 21/172—176.

[13] HR. Abu Dawud, lihat Shahih Abi Dawud karya al-Albani dan ash-Shahihul Musnad karya al-Wadi’i.

Faedah: Ada lafadz hadits tersebut yang masyhur, yang artinya, “Seandainya agama ini disandarkan pada logika, niscaya bagian bawah khuf lebih pantas diusap daripada bagian atasnya…” (kelanjutannya seperti lafadz hadits di atas). Hanya saja, hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz ini tidak shahih, sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam ad-Daraquthni dalam kitab beliau, al-‘Ilal. Guru kami, asy-Syaikh ‘Abdurrahman al-Mar’i, sepakat dengan pendapat ad-Daraquthni.

[14] Asy-Syarhul Mumti’.

[15] Zadul Ma’ad.

[16] Hasyiyah ar-Raudhil Murbi’.

[17] Fath Dzil Jalal wal Ikram.

[18] Al-Ikhtiyarat.

[19] Tahdzib Sunan Abi Dawud.

[20] Al-Ikhtiyarat.

https://qonitah.com/mengusap-khuf/

[Read more]

Hukum Mengusap Khuf dan Kaos Kaki Ketika Berwudhu

Posted On // Leave a Comment

Hukum Mengusap Khuf dan Kaos Kaki Ketika Berwudhu

Buletin Islam Al Ilmu Edisi No: 26 / VI / IX / 1432

Islam adalah agama yang mudah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَه

“Sesungguhnya agama ini (Islam) mudah, dan tidak ada seorang pun yang mempersulitnya melainkan (agama itu) mengalahkan dia (mengembalikan dia kepada kemudahan).” (HR Al-Bukhari)

Dalam kondisi-kondisi sulit Islam selalu memberikan solusi (kemudahan). Termasuk saat melakukan ibadah wudhu, dibolehkan (mubah) bagi seorang yang sedang mengenakan khuf atau kaos kaki untuk mengusapnya (saat berwudhu) tanpa mencuci kaki. Tentunya dengan syarat dan ketentuan yang terkait dengannya. Untuk lebih jelasnya ikutilah pembahasan berikut ini.

Pengertian Khuf

Khuf adalah sesuatu yang dikenakan untuk menutupi kaki hingga mencapai mata kaki atau lebih.  Khuf bisa terbuat dari bahan kulit atau selainnya. (Lihat Taudhihul Ahkam, 1/256)

Hukum Mengusap Khuf

Mengusap khuf ketika berwudhu hukumnya dibolehkan dalam Islam berdasarkan hadits-hadits, dan kesepakatan para ulama. Banyak sekali hadits-hadits yang menunjukkan disyari’atkannya mengusap khuf.  Di antaranya adalah hadits Al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata:

فَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ ثُمَّ صَلَّى

“Rasulullah berwudhu seperti halnya ketika beliau hendak melaksanakan shalat, dan beliau mengusap atas khuf-nya kemudian beliau shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 350, Muslim no. 405)

Para ulama sepakat tentang dibolehkannya mengusap khuf saat berwudhu.  Bahkan ini merupakan pendapat yang diyakini oleh seluruh sahabat Rasulullah dan para ulama Ahlus sunnah wal Jama’ah yang hidup setelahnya.  Tidak ada yang mengingkari tentang bolehnya mengusap khuf saat berwudhu kecuali hanya kaum Syi’ah Rafidhah dan Khawarij.  Demikian yang dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Mubarak, An-Nawawi, Ibnu ‘Abdil Barr, dan yang lainnya.

Bagian Khuf yang Diusap

Bagian khuf yang diusap adalah pada bagian atasnya saja.  Berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib:

“Seandainya tolak ukur agama didasarkan pada akal semata, maka niscaya mengusap bagian bawah khuf lebih diutamakan daripada mengusap bagian atasnya.  Namun aku melihat Rasulullah hanya mengusap bagian atas khufnya saja.” (HR. Abu Daud no. 162.  Dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 103)

Demikian pendapat yang nampak lebih kuat, karena hadits Al-Mughirah bin Syu’bah yang dijadikan dalil oleh pendapat pertama dihukumi dha’if (lemah) oleh para ulama pakar hadits, seperti Al-Imam Al-Bukhari, Abu Daud, Abu Zur’ah, Ad-Daruquthni, Al-Albani, dan yang lainnya.  Oleh karena itu, tidak bisa untuk dijadikan dalil.

Jumlah Bilangan Saat Mengusap Khuf

Mengusap khuf cukup dilakukan dengan sekali usap.  Alasannya adalah karena hadits-hadits yang berkaitan dengan tata cara mengusap khuf, tidak ada satu pun yang menyebutkan berapa kali jumlah mengusapnya.  Dengan demikian masalahnya kembali kepada hukum asal, yaitu hanya dengan sekali usap.  Inilah pendapat yang nampak lebih kuat.  Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Umar, Ibnu ‘Abbas, Asy-Sya’bi, Syaikhul Islam, dan para ulama lainnya.

Syarat Mengusap Khuf

1.  Memakai khuf dalam keadaan suci dari hadats

Mayoritas ulama berpendapat bahwa seorang yang hendak mengusap khuf, disyaratkan saat mengenakannya harus dalam keadaan suci dari hadats besar maupun kecil.  Hal ini berdasarkan hadits dari Al-Mughirah bin Syu’bah:

“Aku pernah bersama Nabi dalam satu perjalanan jauh (safar).  Saat beliau melakukan wudhu, Aku hendak melepaskan khuf yang dikenakannya, namun beliau berkata: biarkan, jangan lepas khuf ini! Karena Aku memakainya dalam keadaan suci.” (HR. Al-Bukhari no. 199, Muslim no. 409)

Inilah pendapat yang dipilih oleh Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, dan para ulama lainnya.

2.  Khuf yang dikenakan bukan terbuat dari bahan-bahan najis, seperti dari kulit babi, anjing, atau binatang lainnya yang tidak halal dimakan.

Demikian syarat kedua yang ditetapkan oleh Asy-Syaikh Al-Utsaimin.  Beliau berpandangan bahwa kulit bangkai binatang yang tidak halal dimakan, seperti anjing, babi, kucing, dan yang lainnya hukumnya adalah najis dan tidak dapat disucikan dengan benda apapun juga. Dengan demikian maka tidak dibolehkan bagi seorang yang berwudhu untuk mengusap khuf yang terbuat dari kulit dengan jenis binatang tersebut.

3.  Mengusap khuf dilakukan hanya karena hadats kecil, bukan karena hadats besar seperti junub atau yang semisalnya.

Dalil yang dijadikan sebagai dasar hukum adalah hadits dari Shafwan bin ‘Assal, ia berkata:

كَانَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفَرًا أَوْ مُسَافِرِينَ أَنْ لاَ نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ لَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ

“Dahulu Nabi memerintahkan jika kami sedang bepergian jauh (safar) agar tidak membuka khuf kami selama tiga hari tiga malam kecuali apabila mengalami junub.” (HR. At-Tirmidzi no. 96, An-Nasa’i no. 127, Ibnu Majah no. 478, Ahmad no. 17396.  Dishahihkan oleh  Al-Imam Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 104)

4.  Mengusapnya dalam batas waktu tertentu yang telah ditentukan syari’at.  Bagi seorang yang musafir selama tiga hari tiga malam, sedangkan bagi selain musafir hanya sehari semalam.

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits dari ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata:

“Rasulullah membolehkan mengusap khuf bagi seorang musafir selama tiga hari tiga malam, sedangkan bagi yang bukan musafir selama sehari semalam.” (HR. Muslim no. 414, An-Nasa’i no. 128).

Apakah Mengusap Khuf Dibatasi Waktu?

Menurut yang dipilih oleh mayoritas para shahabat, tabi’in, dan ahli fiqih yang hidup setelah mereka, di antaranya adalah Al-Imam Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan para ulama lainnya mengusap khuf dibatasi oleh waktu tertentu.  Bagi seorang musafir dibatasi hingga tiga hari tiga malam, sedangkan bagi yang bukan musafir selama sehari semalam.            Berdasarkan hadits dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:

“Rasulullah membolehkan mengusap khuf bagi seorang musafir selama tiga hari tiga malam, sedangkan bagi yang bukan musafir selama sehari semalam.” (HR Muslim no. 414, An Nasa`i  no.128)

Kapan Batas Awal Waktu Mengusap Khuf ?

Para ulama berbeda pendapat tentang rincian batasan waktu mengusap khuf:

Pendapat pertama; Dimulai sejak kedua kaki mengenakan khuf.  Misalnya; seorang mengenakan khuf pada pukul 08:00 pagi, maka penentuan batas awal waktu mengusap khuf dimulai sejak saat itu.  Demikian pendapat yang dipilih oleh Al-Hasan Al-Bashri.

Pendapat kedua;  Dimulai sejak pertama kali mengalami hadats kecil saat mengenakan khuf, seperti kentut, buang air, dan yang semisalnya.   Misalnya; seorang mengenakan khuf pukul 08.00 pagi, kemudian pada pukul 10.30 ia buang air kecil.  Maka penentuan batas awal waktu mengusap khuf dimulai sejak pukul 10.30, awal mula ia mengalami hadats.  Demikian pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama, seperti Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan riwayat yang sah dari Ahmad bin Hambal.

Pendapat ketiga;  Dimulai sejak pertama kali mengusap khuf saat berwudhu setelah mengalami hadats.  Misalnya; seorang mengenakan khuf pada pukul 08:00 pagi, kemudian pada pukul 10:30 ia buang air kecil.  Setelah itu, pada pukul 11:00 ia berwudhu.  Maka batas awal waktu mengusap khuf dimulai sejak pukul 11:00, ketika pertama kali ia melakukan wudhu di saat sedang mengenakan khuf.

Pendapat ketiga inilah yang nampak lebih kuat.  Demikian pendapat yang dipilih oleh Al-Auza’i, Abu Tsaur, Ibnul Mundzir, An-Nawawi, dan satu riwayat lainnya dari Ahmad bin Hambal, Asy-Syinqithi, Al-‘Utsaimin, dan para ulama lainnya.

Tata Cara Mengusap Khuf

Mengusap khuf dilakukan dengan cara  kedua tangan mengusap bagian atas khuf secara bersamaan dengan sekali usap.  Tangan kanan untuk kaki kanan, dan tangan kiri untuk kaki kiri.  Dimulai dari ujung jari jemari kaki hingga mencapai betis.  Begitu pula mengusap kaos kaki dilakukan dengan cara yang sama.  Demikian cara yang dipaparkan oleh Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin dalam kitab Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (11/125 no. 126).

Hukum Mengusap Kaos Kaki di saat Berwudhu

Mayoritas ulama berpendapat dibolehkan berwudhu dengan mengusap kaos kaki yang sedang dikenakan, sebagai pengganti dari mencuci kedua kaki.  Adapun rincian hukumnya seperti rincian hukum pada khuf.

Dalilnya adalah hadits dari Al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata:

تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسَحَ عَلَى الْجَوْرَبَيْنِ وَالنَّعْلَيْنِ

“Suatu ketika Rasulullah berwudhu, beliau mengusap kaos kaki beserta sandal yang sedang dikenakannya.”

Selain itu, mengusap kaos kaki saat berwudhu pernah dicontohkan oleh enam belas shahabat Nabi, seperti Ali bin Abi Thalib, Ammar bin Yasir, Abu Mas’ud, Anas bin Malik, Ibnu ‘Umar, Al-Barra’ bin ‘Azib, Bilal, Abu Umamah, Sahl bin Sa’d, Abdullah bin Abi Aufa, ‘Amr bin Huraits, Umar bin Al-Khatthab, Ibnu ‘Abbas, Sa’d bin Abi Waqqash, Al-Mughirah bin Syu’bah, dan Abu Musa Al-Asy’ari.  Demikian pendapat yang dipilih oleh Al-Imam Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan juga Ahmad bin Hambal.

Wallahu a’lamu bish shawab

http://buletin-alilmu.net/2011/06/03/hukum-mengusap-khuf-dan-kaos-kaki-ketika-berwudhu/

[Read more]

ILMU ADALAH NUKILAN YANG TERPERCAYA DAN PEMBAHASAN YANG TELAH DITAHQIQ (DIVERIFIKASI)

Posted On // Leave a Comment

💐📝ILMU ADALAH NUKILAN YANG TERPERCAYA DAN PEMBAHASAN YANG TELAH DITAHQIQ (DIVERIFIKASI)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan:

إنَّ الْعِلْمَ مَا قَامَ عَلَيْهِ الدَّلِيلُ وَالنَّافِعُ مِنْهُ مَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ فَالشَّأْنُ فِي أَنْ نَقُولَ عِلْمًا وَهُوَ النَّقْلُ الْمُصَدَّقُ وَالْبَحْثُ الْمُحَقَّقُ فَإِنَّ مَا سِوَى ذَلِكَ - وَإِنْ زَخْرَفَ مِثْلَهُ بَعْضُ النَّاسِ - خَزَفٌ مُزَوَّقٌ وَإِلَّا فَبَاطِلٌ مُطْلَق

Sesungguhnya ilmu adalah yang didasari oleh dalil. Ilmu yang bermanfaat adalah yang berasal dari (ajaran) Rasul. Sesuatu (layak) dikatakan sebagai ilmu (jika berupa) penukilan yang terpercaya dan pembahasan yang ditahqiq (telah terverifikasi). Sedangkan yang selain itu – meski sebagian manusia berusaha memperindahnya – adalah sesuatu yang robek dan berantakan (tidak bisa diambil faidah, pent). Kalau bukan seperti itu (bukan nukilan yang benar atau pembahasan yang ditahqiq) itu adalah kebatilan yang mutlak (Majmu’ Fataawaa Ibn Taimiyyah (6/388))

Beliau juga menyatakan:

وَالْعِلْمُ شَيْئَانِ إِمَّا نَقْلٌ مُصَدَّقٌ وَإِمَّا بَحْثٌ مُحَقَّقٌ وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهَذَياَنٌ مَسْرُوْقٌ وَكَثِيْرٌ مِنْ كَلاَمِ هَؤُلَاءِ هُوَ مِنْ هَذَا اْلقِسْمِ مِنَ الْهَذَيَانِ وَمَا يُوْجَدُ فِيْهِ مِنْ نَقْلٍ فَمِنْهُ مَا لَا يُمَيَّزُ صَحِيْحُهُ عَنْ فَاسِدِهِ وَمِنْهُ مَا لَا يُنْقَلُهُ عَلَى وَجْهِهِ وَمِنْهُ مَا يَضَعُهُ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ

Ilmu adalah 2 hal. Bisa berupa penukilan yang benar atau pembahasan yang telah ditahqiq (dikaji mendetail dan diverifikasi). Selain hal itu adalah igauan yang dicuri. Kebanyakan ucapan mereka (orang yang menyimpang) adalah termasuk jenis ini. Termasuk igauan yang tidak didapatkan adanya nukilan (dalil). Ada juga yang tidak bisa membedakan mana yang shahih dengan mana yang rusak (lemah atau palsu, pent). Ada juga yang menukil (dalil) namun nukilannya tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Ada juga yang meletakkan (dalil/nukilan) bukan pada tempatnya (arRaddu ‘alal Bakriy (2/729))

Beliau menyatakan pula:

...احتجاج النصارى وأمثالهم وأهل الضلال المخالفين للأنبياء وأئمة الهدى كما قال تعالى { قل يا أهل الكتاب لا تغلوا في دينكم غير الحق ولا تتبعوا أهواء قوم قد ضلوا من قبل وأضلوا كثيرا وضلوا عن سواء السبيل } فلا نقل مصدق ولا بحث محقق بل هذيان مزوق يروج على هذا وأمثاله من الجهال الذين لا يعرفون دين المسلمين في هذه المسألة وأمثالها ولا يفرقون بين عبادة الرحمن وعبادة الشيطان ولا بين الأنبياء والمرسلين أهل التوحيد والإيمان وبين أهل البدع المضاهين لعباد الصلبان

Hujjah yang disampaikan kaum Nashara dan yang semisal dengan mereka seperti kelompok yang sesat yang menyelisihi para Nabi dan Imam-Imam yang mendapat petunjuk, adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah: Wahai Ahlul Kitab, janganlah kalian bersikap melampaui batas dalam agama kalian, bertindak tidak secara benar. Janganlah pula kalian mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah sesat sebelumnya dan banyak menyesatkan orang lain. Mereka telah sesat dari jalan yang lurus (Q.S al-Maaidah ayat 77)
Tidak ada penukilan yang terpercaya, tidak pula pembahasan yang ditahqiq. Justru yang ada pada mereka adalah igauan yang rusak yang disebarluaskan oleh orang-orang semacam itu seperti orang-orang bodoh yang tidak mengenal agama kaum muslimin dalam permasalahan ini maupun yang lainnya. Mereka juga tidak bisa membedakan antara peribadatan kepada arRahmaan dengan peribadatan kepada Syaithan. Tidak bisa membedakan antara (ajaran) para Nabi dan Rasul, orang-orang yang mentauhidkan Allah dan beriman, dengan Ahlul Bid’ah yang berusaha menyaingi para penyembah salib (arRaddu ‘alal Akhnaa-‘iy (1/154))

📋*Catatan:*

Banyak orang terkesima dengan penyampaian ceramah dari seseorang yang memukau. Pandai beretorika. Intonasinya menghanyutkan. Namun, sebenarnya isi materi yang disampaikan bukanlah ilmu.

Kering dari hujjah dan dalil. Kalaupun ada yang dijadikan dalil, haditsnya lemah atau palsu. Atau ada yang membawakan ayat, hadits, atau ucapan Ulama, namun ditempatkan bukan pada tempatnya. Pada hakikatnya itu hanyalah “igauan yang dicuri”.

Ilmu adalah yang berupa 2 hal. Bisa dalam bentuk nukilan yang terpercaya, atau pembahasan yang telah ditahqiq, sudah diverifikasi sebagai kesimpulan yang benar.

Suatu hadits yang bukan diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, memerlukan penelitian Ulama tentang keshahihannya. Jika dinilai oleh Ulama hadits yang berkompeten di bidangnya sebagai sesuatu yang shahih, itu menjadi nukilan yang terpercaya.

Demikian pula jika menukil ucapan para Sahabat atau Ulama setelahnya, perlu diperjelas dari mana sumber ucapan tersebut dinukil. Apakah riwayatnya shahih atau tidak. Atau sekedar nukilan yang tidak jelas sumbernya.

Ilmu adalah pembahasan yang telah ditahqiq. Artinya, ia telah diverifikasi menjadi suatu kesimpulan atau kaidah yang benar oleh Ulama Ahlussunnah yang ahli di bidang itu. Kita tidak bisa menggabungkan dalil dan hujjah sendiri kemudian menyimpulkan pula sendiri . Perlu bimbingan Ulama dalam memahami dalil-dalil itu, mengkompromikannya, dan menjadikan kesimpulan yang bisa diambil sebagai pelajaran/ faidah.

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡
WA al I'tishom

[Read more]

hukum memakai jam di tangan kanan

Posted On // Leave a Comment

════════════════════

       ⚖ FATWA ULAMA ⚖

════════════════════

✋🏻🕕🤚🏻 ARLOJI...TANGAN KANAN ATAU KIRI❔

✍🏻 Fadhilatus Syaikh muhammad bin sholih al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan :

📄 Bagaimana pandangan syariat menurut pendapat anda tentang hukum memakai jam di tangan kanan❓

Jawaban :

🤛🏻🕟 Memakai jam di tangan kanan tidak mengapa dan hal tesebut tidak memiliki keutamaan.

🤛🏼🤜🏼 Seseorang diberi pilihan untuk memakai jamnya di tangan kanan atau kiri.

📜📖 Karena telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau terkadang memakai cincin di tangan kanan dan terkadang pula di tangan kiri.

⚖⏰ Sementara dalam hal ini hukum memakai jam sama seperti memakai cincin.

📄🎙 Atas dasar ini kita katakan :
Siapa saja yang memakainya di tangan kiri atau tangan kanan maka tidak masalah.

🔎✅ Masing-masing dari keduanya tidak mempunyai keutamaan atas yang lain.

📚 Sumber :
Silsilah Fatawa Nur 'ala Darb. Kaset nomor 243
___________________

حكم لبس الساعة في اليد اليمنى

السؤال:

 ما رأي الشرع في نظركم في لبس الساعة باليد اليمنى؟

الجواب:

لبس الساعة باليمين لا حرج فيه، ولا أفضلية فيه، فالإنسان مخير بين أن يلبس ساعته باليمين أو في الشمال، وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أنه كان يتختم باليمين تارة وباليسار تارة، ولبس الساعة من جنس التختم، وعلى هذا فنقول: من لبسها باليسار فلا شي عليه، ومن لبسها باليمين فلا شي عليه، ولا أفضلية لأحدهما على الآخر.

المصدر: سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [243]

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

✍🏻WhatsApp
Ⓚ①ⓉⒶ🌏ⓈⒶⓉⓊ
Bagi-bagi faedah ilmiahnya....ayo segera  bergabung
🌐📲 Join Channel Ⓚ①Ⓣ
https://bit.ly/KajianIslamTemanggung

📻📡 Dengarkan••• [ VERSI BARU❗ ]  Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia
http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia2

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

[Read more]