🔹Memahami Makna لااله الا الله🔹
Memahami makna, syarat dan konsekuensi kalimat Laa Ilaha Illallah adalah sebuah perkara yang sangat penting dan mendesak untuk segera diketahui oleh setiap muslim dan muslimah, karena hal itu merupakan rukun islam yang pertama dan pondasi agama kita. Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Zaid Bin Muhammad Al – Madkholi Hafiidzahullah : ”Wajib atas setiap muslim dan muslimah supaya mereka mempelajari rukun dan syarat Laa ilaha Illallah secara global dan jelas ” (Syarh Al-Ushulus Tsalasah, Syaikh Zaid : 36)
🔵Makna Laa Ilaha Illallah
Makna Laa ilaha illallah adalah tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah, adapun sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang bathil, tidak berhak untuk disembah. Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah: Makna syahadat Laa Ilaha Illallah adalah lama’buda bihaqin ilallah (Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah) (Syarh Al – Ushulus Tsalasah : 59).
Dalil tentang makna Laa Ilaha illallah ini, sebagaimana Allah تعالى berfirman :
ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena Sesungguhnya Allah, Dialah (ilah/sesembahan) yang haq dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, Itulah yang batil, dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (Al-Haj : 62)
🔵Rukun Laa Ilaha Illallah
Kalimat Laailahaillallah memiliki 2 (dua) rukun, yaitu:
1. An-Nafyu (meniadakan) terletak pada kalimat (Laa ilaha) Artinya meniadakan seluruh sesembahan selain Allah Ta’ala. Mengingkari peribadatan kepada selain Allah.
2. Al-Itsbaat (menetapkan) pada kalimat (Illallah) artinya menetapkan yang berhak disembah hanya Allah semata. Dalil dua rukun ini adalah Firman Allah Subhaanahu wata’aala:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
”Barangsiapa ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus.“ (Al Baqarah : 256 )
Perkataan Ini ( فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ ) makna rukun yang pertama (Laa Ilaha) perkataan ( وَيُؤْمِنْ بِاللهِ ) makna rukun yang kedua (Illallah) (Silahkan lihat kitab Aqidah Tauhid Syaikh Sholeh Al Fauzan Hal : 40 – 41)
Seorang hamba harus memenuhi dua rukun ini didalam pengucapannya terhadap kalimat Laa ilaha illallah nya.
🔵Syarat Laa Ilaha Illallah
Seseorang harus memenuhi seluruh syarat kalimat laa ilaha illallah ketika dia mengucapkannya, jika dia mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah tapi tidak memenuhi syarat-syaratnya maka tidak sah keislamannya.
▫Syarat pertama : Ilmu
Yaitu seseorang yang mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah harus mengilmui makna Laa ilaha illallah, tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah/diibadahi kecuali hanya Allah semata. Diantara dalilnya adalah sebuah hadist dari ‘Utsman Bin Affan Radiyalallahu ‘Anhu , beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang mati dalam keadaan mengilmui (mengetahui) Laa Ilaha Illallah (bahwa tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Allah), maka dia akan masuk surga.” (HR. Muslim)
▫Syarat kedua : Yakin
Yaitu seseorang yang mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah harus yakin terhadap kandungan kalimat ini dengan keyakinan yang kokoh yang tidak tercampur oleh keraguan. Diantara dalilnya adalah sebuah hadist dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Barangsiapa yang bersaksi Laa Ilaha Illallah (tidak ada yang ilah (sesembahan) yang berhak di sembah kecuali Allah) dan aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba pun yang bertemu Allah dengan membawa kedua persaksian tersebut dalam keadaan tidak ragu-ragu kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Muslim)
▫Syarat Ketiga : Ikhlas
Yaitu seseorang yang mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah harus ikhlas yang meniadakan kesyirikan, kenifaqkan, riya dan sum’ah. Diantara dalilnya adalah sebuah hadist dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Orang yang berbahagia karena mendapat syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah dengan ikhlas dalam hatinya atau dirinya.” (HR. Bukhari)
▫Syarat Keempat : Shidq (jujur)
Yaitu seseorang yang mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah diharuskan jujur didalam hatinya, sesuai antara ucapan dan hatinya, adapun jika mengucapkan laa ilaha illallah sementara hatinya mendustakan hal ini seperti kondisi orang – orang munafiq. Diantara dalilnya adalah sebuah hadist yang diriwayatkan dari Muadz Bin Jabbal Radiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ”Tidaklah seseorang bersaksi Laa Ilaha Illallah (bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah) dan Muhammad adalah utusan-Nya dengan jujur dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
▫Syarat Kelima : Mahabbah ( cinta )
Yaitu seseorang yang mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah harus mencintai kalimat ini dan mencintai kandungan kalimat ini. Diantara dalilnya adalah sebuah hadist dari Anas Bin Malik Radiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ”Tiga perkara yang jika ada pada diri seseorang akan merasakan manisnya iman, Allah dan Rasul Nya lebih di cintai dari selain keduanya, tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah, membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana bencinya jika dimasukkan kedalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
▫Syarat Keenam : Inqiyad ( tunduk )
Yaitu seseorang yang mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah harus inqiyad (tunduk) terhadap makna dan konsekuensi dari kalimat Laa Ilaha Illallah. Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
” Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikkan maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul ( tali ) yang kokoh “. (Luqman : 22)
▫Syarat Ketujuh : Qabul (menerima)
Yaitu seseorang yang mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah harus Qabul (menerima) kandungan makna yang terkandung dari kalimat ini. Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah Sesungguhnya Kami harus meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena seorang penyair gila?”” (Ash-Shafaat : 35-36) (Silahkan Kitab Al-Waajibaat berserta syarhnya)
▫Konsekuensi Laa Ilaha Illallah
Yaitu dengan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah dan beribadah hanya kepada Allah semata. Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
” Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan Nya dengan sesuatu apapun “ (An – Nisa’ : 36)
Inilah penjelasan singkat tentang makna kalimat laa ilaha ilallah berserta rukun, syarat dan keonsekuensinya, sebuah ilmu yang seorang muslim tidak boleh bodoh dan melalaikan dari memahaminya dengan benar yang kemudian setelah itu dia amalkan dhahiran (secara lahiriah) wa bathinan (secara bathin). Wallahu a'lam bish shawwab. (Abdullah al Jakarty)
🔵WA PSSI (Perkumpulan Suami Sayang Istri)
(Artikel Bagian Aqidah)
Memahami Makna لااله الا الله🔹
Labels:
aqidah
0 komentar:
Posting Komentar