KEWAJIBAN UNTUK MEMBELA AHLUL HAQ
& MENERANGKAN KEBATILAN ISI PERJANJIAN KUFUR SYAIKH AL IMAM BERSAMA RAFIDHAH
SERTA MENTAHDZIR SIAPA SAJA YANG MASIH TERUS MEMBELA & MENDUKUNGNYA
& MENERANGKAN KEBATILAN ISI PERJANJIAN KUFUR SYAIKH AL IMAM BERSAMA RAFIDHAH
SERTA MENTAHDZIR SIAPA SAJA YANG MASIH TERUS MEMBELA & MENDUKUNGNYA
Asy Syaikh Ra’id Alu Thahir hafizhahullah
Saya telah mendengar dan membaca apa yangditulis oleh dua orang yang mulia yaitu Asy-Syaikh Ali Al-Hudzaify dan Asy-Syaikh Hani bin Buraik –semoga Allah selalu memberi taufik kepada beliau berdua dan menjadikan beliau berdua orang-orang bermanfaat– dan perkataan beliau berdua dibangun di atas dalil-dalil yang sangat terang benderang serta dikuatkan dengan bukti-bukti yang pasti.
Maka yang wajib atas seorang salafy yang jujur untuk tunduk kepada dalil-dalil dan bukti bukti ini, menjadikan kebenaran sebagai tujuannya, dan tidak sepantasnya untuk fanatik kepada pendapat-pendapat tokoh tertentu serta tidak membela mereka berdasarkan sentimen kelompok (hizbiyah) jika mereka terang-terangan menampakkan kebathilan dan membelanya mati-matian, betapapun tingginya kedudukan mereka dan banyak jumlah mereka, karena kebenaran itu tidaklah dinilai dengan orang-orang tertentu dan tidak juga dengan banyaknya jumlah.
Berkaitan dengan Perjanjian Bersaudara dan Hidup Berdampingan Secara Damai yang disepakati dan ditandatangani oleh Abdul Malik Al-Hutsy dan Muhammad Al-Imam, maka perjanjian tersebut mengandung prinsip-prinsip kesesatan dan kaidah-kaidah kebathilan yang sejak dahulu telah diserukan oleh Al-Ikhwan Al-Muslimun, dan mereka termasuk yang pertama kali menyerukan upaya pendekatan antara Ahlus Sunnah dengan Rafidhah dengan ungkapan-ungkapan yang bathil semacam ini dengan dalih bahwa mereka semua adalah kaum Muslimin, Rabb mereka satu, Nabi mereka satu, dan Al-Qur’an mereka satu. Juga dengan dalih bahwa mereka adalah bersaudara dalam keimanan dan bahwasanya yang wajib adalah bersatu dan tidak berpecah belah sesama mereka, tidak boleh sebagian mereka menyinggung sebagian yang lain dalam ucapan atau saling berbenturan dalam ucapan dan perbuatan, karena sesungguhnya musuh mereka satu. Adapun perselisihan diantara mereka maka itu sifatnya hanyalah perselisihan dalam perkara-perkara furu’ (cabang) dan bukan pada perkara-perkara ushul (prinsip mendasar). Mereka juga menyerukan untuk saling membantu dan menjalin komunikasi antara kedua belah pihak untuk menghadapi bahaya, berbagai kejadian, dan fitnah, berupaya menanamkan ruh persaudaraan dan saling berhubungan diantara mereka, dan bahwasanya kebebasan berfikir dan berpendapat dijamin bagi semua pihak.Jadi demi Allah yang tidak boleh bersumpah dengan selain-Nya, ini semua merupakan dakwah yang diserukan oleh Al-Ikhwan Al-Muslimun, orang yang mengetahuinya tahu dan yang tidak mengetahuinya tidak tahu.
Maka tidak boleh mendiamkan siapa saja yangmenyerukannya siapapun dia orangnya.
Kemudian wajib atas para ulama dan Masayikh Ahlus Sunnah yang Allah telah mengambil perjanjian atas mereka agar menjelaskan kebenaran dan mentahdzir kebathilan, untuk berani dengan terang-terangan mengingkari surat perjanjian tersebut serta mentahdzir siapa saja yang masih terus menyepakatinya dan membelanya, dan tidak boleh bagi para ulama untuk menyembunyikan sikap mereka dan tidak boleh pula untuk mencampur aduk atau merancukan antara kebenaran dan kebathilan,serta tidak pula menganggap boleh isi perjanjian tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Halaby dan kelompoknya ketika mereka membela Risalah Amman (Amman Message) yang mengajak kepada kebathilan dan kesesatan.
Para Ulama Kibar dan Masayikh telah mentahdzir Risalah Amman dan Perjanjian Bersaudara dan Hidup Berdampingan Secara Damai tersebut sehingga tidak ada alasan lagi untuk membelanya atau untuk membela diri.
Dan sikap kembali kepada kebenaran itu lebih baik dibandingkan terus-menerus dalam kebathilan.
Maka semoga Allah mensyukuri usaha kedua syaikh yang mulia tadi (Asy-Syaikh Ali Al-Hudzaify dan Asy-Syaikh Hani bin Buraik) serta Masayikh yang lain dan juga para penuntut ilmu Salafiyun di Yaman yang berdiri dengan tegar dan kokoh dalam membela kebenaran dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya, serta terus berupaya menyingkap kejahatan orang-orang yang menyimpang serta orang-orang yang saling melakukan upaya penggembosan yang mereka ini telah menjadi beban yang memberatkan pundak dakwah sekian tahun lamanya sepanjang sikap diam mereka atau terkadang dengan sikap ragu-ragu mereka, menakuti-nakuti, dan terkadang dengan tidak mau memberikan pertolongan atau menelantarkan saudaranya.
Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar senantiasa menjaga kedua syaikh tersebut serta saudara-saudara mereka Salafiyun dari makar para penggembos dakwah dan dari permusuhan orang-orang yang menyimpang. Dan kita mengajak mereka agar kita semua selalu bersabar sebagaimana Ahlul Haqq was Sunnah sejak dahulu telah bersabar, walaupun mereka menghadapi berbagai kejahatan seperti disebarkannya kedustaan atas mereka, upaya menjauhkan umat dari mereka, ditahdzir, dan diberi julukan-julukan buruk, serta diadu domba dengan pemerintah dengan melemparkan berbagai kedustaan.
Salafiyun adalah orang-orang yang berakal dan memiliki prinsip, jadi mereka tidak mudah ditipu oleh orang-orang semisal para penggembos dakwah itu dan tidak gampang terpengaruh oleh berbagai kebathilan semacam ini yang dituduhkan secara dusta kepada para Masayikh Salafiyun dan murid-murid mereka. Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang semisal dengan para penggembos dakwah itu
:اسْتِكْبَارًا فِيْ الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ وَلَا يَحِيْقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ.“
Mereka melakukan semua itu hanyalah karena kesombongan mereka di muka bumi dan karena makar jahat, namun makar jahat itutidak akan menimpa kecuali kepada orang yang merencanakannya sendiri.” (QS. Fathir: 43)
Juga firman-Nya
:لَقَدِ ابْتَغَوُا الْفِتْنَةَ مِنْ قَبْلُ وَقَلَّبُوْا لَكَ الْأُمُوْرَ حَتَّى جَاءَ الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَارِهُوْنَ.“
Sungguh sebenarnya mereka itulah yang suka mencari-cari fitnah sejak dahulu dan suka memutarbalikkan fakta, sampai kebenaran datang dan urusan Allah menang dalam keadaan mereka membencinya.” (QS. At-Taubah: 48)
Hanya Allah saja yang memberikan taufiq.
Ditulis oleh:Abu Mu’adz Ra-id Alu Thahir9 Shafar 1436 H
[بيان] تعليق الشيخ رائد ال طاهر حفظه الله تعالى على ما يحدث في اليمن من بابالذَّب عن الحق وأهله -http://www.alwaraqat.net/showthread.php?27578-%CA%DA%E1%ED%DE-%C7%E1%D4%ED%CE-%D1%C7%C6%CF-%C7%E1-%D8%C7%E5%D1-%CD%DD%D9%E5-%C7%E1%E1%E5-%CA%DA%C7%E1%EC-%DA%E1%EC-%E3%C7-%ED%CD%CF%CB-%DD%ED-%C7%E1%ED%E3%E4-%E3%E4-%C8%C7%C8-%C7%E1%D0%F8%F3%C8-%DA%E4-%C7%E1%CD%DE-%E6%C3%E5%E1%E5
http://tukpencarialhaq.com/2014/12/04/kewajiban-untuk-membela-ahlul-haq-menerangkan-kebatilan-isi-perjanjian-kufur-syaikh-al-imam-bersama-rafidhah-serta-mentahdzir-siapa-saja-yang-masih-terus-membela-mendukungnya/
0 komentar:
Posting Komentar