Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah berkata:
Ψ§ΩΨ±Ψ―ّ ΨΉΩΩ Ψ§ΩΨ¨Ψ§Ψ·Ω -Ψ³ΩΨ§Ψ‘ Ψ¨Ψ―ΨΉΨ© ΩΩΩΩΨ© Ψ£Ω ΨΉΩΨ―ΩΨ© Ψ£Ω ΩΨΉΩΩΨ©- ΩΩ Ψ§ΩΨΩ، ΩΨͺΨ±ΩΩ ΩΩ Ψ§ΩΨΉΩΨ¨، ΩΨ₯Ψ°Ψ§ ΩΩΩ ΩΩ
Ω ΩΨ±Ψ―ّ Ψ°ΩΩ: Ψ§Ψ΄ΨͺΨΊΩ Ψ¨ΨΉΩΨ¨Ω [ΨΉΩ] ΨΉΩΩΨ¨ ΨΊΩΨ±Ω، ΩΩΩΨ§ ΩΩΩ
: ΩΩΨ°Ψ§ Ω
Ω ΨΉΩΨ¨Ω Ψ₯Ω ΩΩ
Ψ£Ψ±Ψ―ّ ΨΉΩΩ Ψ§ΩΨ¨Ψ§Ψ·Ω؛ ΩΨ£Ω Ψ§ΩΨ±Ψ― ΨΉΩΩ Ψ§ΩΨ¨Ψ§Ψ·Ω ΩΨ§Ψ¬Ψ¨
"Membantah kebatilan, baik berupa bid'ah dalam ucapan, keyakinan, maupun perbuatan, itulah yang benar. Adapun meninggalkannya, itulah yang merupakan aib.
Jika dikatakan kepada orang yang membantah kebatilan: 'Urus saja aibmu sendiri, jangan sibuk dengan kesalahan orang lain,' maka jawabannya:
'Justru termasuk aibku jika aku tidak membantah kebatilan, karena membantah kebatilan adalah suatu kewajiban.'"
Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 15/332
____
π https://t.me/alistifadah
0 komentar:
Posting Komentar